15 April 2011

Eliata Choir di Katedral Surabaya




Misa di gereja kurang afdal kalau tak didukung paduan suara atawa kor yang baik. Kor yang mau mempersiapkan diri, berlatih teratur. Bukan kor yang tidak pernah latihan, kemudian tahu-tahu jadi petugas liturgi.

Nah, susahnya di kota-kota besar, umat terlalu sibuk kerja dari pagi, pulang petang, bahkan baru tiba di rumah malam hari. Bagaimana bisa punya waktu satu dua jam untuk berlatih?

Karena tahu betul peliknya kehidupan di kota, saya sudah lama tidak mengkritik kualitas kor-kor gereja, khususnya Gereja Katolik.

Malu deh! Toh, saya sendiri tak punya waktu untuk ikut memperkuat paduan suara. Entah kor itu berkualitas istimewa, baik, sedang, buruk, bahkan sangat buruk... harus bisa dipahami. Masih syukur banyak umat yang mau berpaduan suara, meski alakadarnya, ketimbang tak ada kor sama sekali.

Di banyak gereja, karena tidak ada kor, satu umat berdiri di depan untuk memimpin nyanyian jemaat.

Karena itu, saya begitu senang ketika ikut misa di Gereja Katedral Surabaya dua pekan lalu. Kor yang bertugas Eliata Choir pimpinan Maya. Nama penuhnya Maria Widyaningrum. Maya ini dulu salah satu penggerak paduan suara mahasiswa ITS Surabaya.

Setelah lulus, kemudian bekerja, passion Maya terhadap paduan suara tak hilang begitu saja. Maya malah bikin kor yang ciamik soro: Eliata. Eliata ini sudah beberapa kali bikin konser di tempat bergengsi di Surabaya.

Misa yang diiringi paduan suara sekaliber Eliata memang rasanya lain. Cara menyanyi, produksi suara, dinamika, ekspresi... bisa kita temukan di sini. Lagu-lagu liturgi yang biasanya sederhana menjadi nikmati ketika dibawakan oleh kor sekelas Eliata. Meski bukan paduan suara profesional, karena anggotanya bekerja di mana-mana, kualitas Eliata memang sudah layak konser tingkat nasional.

Saya betul-betul menikmati alunan beberapa komposisi klasik dari Eliata Choir. Komposisi sulit yang hanya bisa dibawakan kor-kor yang punya latihan rutin, konsisten, serta didukung dirigen (pelatih) berkualitas. Ingat: “Tidak ada kor yang buruk. Yang ada hanyalah pemimpin kor yang buruk!”

Salut salut sama teman-teman eks paduan suara mahasiswa yang tetap eksis di paduan suara macam Maya di Eliata Choir. Mereka-mereka ini ibarat oase segar yang mengantar kita semua, umat atau audiens, untuk merasakan keagungan Tuhan.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

3 comments:

  1. Saya amat menyenangi hasil tulisan anda. Saya ada beberapa pekerja dari Flores. Ternyata ketika terjumpa blog anda, persepsi saya terhadap orang Flores yang biasanya kerja buruh kasar berubah 360 darjah. Saya mula mengakui, kita sesama manusia sama sahaja.Apa yang berbeza hanyalah cara kita berfikir walau siapa,di mana dan apa pun kita.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih bang Nim Yorsa, sudah mau melawat dan baca awak punya laman yang tak elok. Awak hanya menulis ringan-ringan sahaja, tak punya pretensi macam-macamlah.

    Tak terlalu salah imej orang Flores macam awak seperti itu: pekerja-pekerja kasar kerana Nim Yorsa banyak melihat orang-orang Flores di Malaysia. Tak apa-apalah, kerja kasar atau halus, tak soal lah. Yang penting, kita semua sama-sama manusia yang suka makan, jadi tua, kemudian mati.

    Salam sejahtera untuk teman-teman di Malaysia.

    ReplyDelete
  3. cool.
    mampir ke blog gue dong
    http://melanitamamelo.blogspot.com

    ReplyDelete