05 April 2011

Chandra Wurianto Tokoh Tionghoa Surabaya



Tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana. Ungkapan ini pantas disandang Chandra Wurianto. Pengusaha yang satu ini hampir selalu terlihat di berbagai organisasi, yayasan, ataupun perkumpulan Tionghoa di Surabaya.

PEKAN lalu, ketika Kelenteng Hong San Ko Tee di Jalan Cokroaminoto 12 Surabaya melakukan arak-arakan tiga rupang dewa-dewi keliling beberapa jalan utama, termasuk Raya Darmo, Chandra Wurianto tak ketinggalan. Pengusaha ekspedisi ini bahkan berada di baris depan. Mengatur barisan, memberi arahan kepada jemaat, bahkan ikut mengusung patung Kongco Kong Tik Tjoen Ong dan Makco Kwan Im.

Di tengah jalan, tiba-tiba Chandra bersama para pengusung terhuyung-huyung. Patung berukuran kecil itu terasa berat sekali. Tak ayal, ini menjadi pemandangan menarik bagi masyarakat yang menyaksikan di sepanjang jalan.

“Ada semacam tenaga yang keluar sehingga kita seperti kewalahan. Dan itu memang biasa dalam acara kirab seperti ini,” ujar Chandra Wurianto kepada Radar Surabaya.

Sosok Hu Jiangzhang, nama Tionghoa Chandra Wurianto, memang tak asing lagi di kalangan aktivis perkumpulan Tionghoa di Surabaya, bahkan Jawa Timur dan Indonesia. Begitu banyak organisasi yang dia pimpin. Selama ini Chandra dikenal sebagai ketua Yayasan Senopati, perkumpulan yang mencoba memelihara tradisi budaya Tionghoa. Ada kegiatan barongsai, liang-liong, musik, dan aktivitas budaya Tionghoa yang lain.

Maka, ketika angin keterbukaan dan demokrasi mulai dinikmati bangsa Indonesia selepas reformasi, 1998, Chandra Wurianto praktis berada di baris terdepan. Kesenian barongsai dan liongsai yang sempat mati suri selama 30 tahun lebih pun menggeliat kembali.

Sejak itulah masyarakat umum di Surabaya sering mengidentikkan Chandra Wurianto dengan barongsai. Chandra kemudian mengurus begitu banyak organisasi Tionghoa dan lintas budaya di Surabaya.

Kembali ke kirab Kongco dan Makco di Kelenteng Cokro. Setelah berjalan kaki selama hampir satu jam, Chandra beserta rombongan akhirnya kembali ke TITD Hong San Ko Tee. Pria murah senyum ini pun mandi keringat. Wajahnya terlihat sumringah lantaran acara budaya dan religi khas Tionghoa itu bisa berlangsung dengan aman dan lancar.

Awam yang sempat mendung ternyata tak menimbulkan hujan di Surabaya, Minggu pagi itu. Apakah panitia diam-diam menggunakan jasa pawang hujan? Dipancing pertanyaan menggelitik macam ini, Chandra kontak tertawa kecil.

“Nggak ada itu pawang hujan segala. Pokoknya, kalau kita niat melaksanakan ritual untuk Yang di Atas, percayalah, semua akan berjalan dengan aman dan lancar. Lagi pula, apa yang kita lakukan ini kam semata-mata untuk Sang Pencipta,” tegasnya.


Diakui atau tidak, Chandra Wurianto merupakan tokoh yang paling menonjol dalam kebangkitan barongsai di Surabaya. Tak heran, dia dipercaya membina organisasi barongsai di Jawa Timur sampai sekarang.

Chandra Wurianto, meski terlibat dalam sekian banyak yayasan dan perkumpulan Tionghoa, selama ini lebih dikenal sebagai tokoh barongsai. Posisi resminya saat ini ketua Persatuan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jawa Timur. Perkembangan pesat barongsai di Jawa Timur saat ini tak lepas dari peran Persobarin yang sejak dulu dikendalikan Chandra.

Bahkan, Chandra Wurianto termasuk salah satu tokoh perintis kelahiran organisasi barongsai di tanah air yang kemudian bernama Persobarin. Mengapa Chandra yang didapuk mengurus barongsai? Ini juga tak lepas dari komitmennya dalam melestarikan tarian dan olahraga khas Tionghoa itu.

Ketika barongsai, liang-liong, wushu, dan berbagai ekspresi budaya Tionghoa dibredel rezim Orde Baru, Chandra tetap berjuang agar olahraga dan kesenian ini tidak musnah.

Bersama Yayasan Senopati yang dipimpinnya, Chandra mengelola sasana untuk pelatihan barongsai, liang-liong, wushu, dan sebagainya. Sebelum terjadi reformasi, yang kemudian melengserkan rezim Orde Baru, bibit-bibit barongsai dan sejenisnya sudah tumbuh di Senopati.

Karena itu, ketika angin keterbukaan itu datang, budaya Tionghoa tak lagi dilarang, Chandra sudah siap menampilkan atraksi-atraksi kesenian Tionghoa yang menarik.

“Waktu itu Persobarin belum ada. Bahkan, banyak orang Indonesia belum pernah melihat tarian yang namanya barongsai atau liang-liong karena memang dilarang selama 30-an tahun,” kenang Chandra Wurianto.

Nah, berkat Yayasan Senopati, atraksi barongsai dan liongsai muncul lagi di hadapan publik. Namanya barang baru, tontonan khas Tionghoa ini sangat cepat populer dan tersebar luas di masyarakat. Sasana-sasana barongsai-liongsai yang selama ini mati suri kemudian tertarik untuk ikut membina barongsai. Sasana-sasana baru juga bermunculan di Surabaya dan berbagai kota di Jawa Timur.

Melihat perkembangan barongsai yang kian pesat, Chandra Wurianto dan kawan-kawan merasa perlu membentuk organisasi payung barongsai bernama Persobarin. Ini penting mengingat Indonesia sudah ketinggalan kereta selama tiga dasawarsa.

Selama 30 tahun itu praktis Indonesia tidak pernah mengikuti informasi seputar tren barongsai di dunia. “Karena memang waktu itu kita tidak punya barongsai,” kenangnya.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment