19 April 2011

Bagus, Pianis Jazz yang Buta




CACAT MATA TERNYATA BUKAN HALANGAN BAGI BAGUS ADIMAS PRASETYO UNTUK MENEKUNI PROFESI SEBAGAI PIANIS JAZZ. MAHASISWA JURUSAN SENI DRAMA TARI DAN MUSIK, FAKULTAS BAHASA DAN SENI, UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA INI JUGA SELALU OPTIMISTIS DALAM MENJALANI HIDUP INI.

Oleh LAMBERTUS LUSI HUREK

Kepiawaian Bagus Adimas Prasetyo, 23 tahun, memainkan piano membuatnya harus pandai-pandai mengatur jadwal show dan kuliah. The invisible finger, begitu julukan Bagus, beberapa waktu lalu menerima penghargaan dari Jaya Suprana, direktur Museum Rekor Indonesia (Muri), sebagai pianis tunanetra termuda di Indonesia.

“Saya tahu mana pianis bagus dan mana pianis yang tidak bagus. Tapi, menurut saya, Bagus ini pianis yang benar-benar bagus. Saya harap dia akan jadi pianis tunanetra yang hebat, bukan hanya Indonesia, tapi di dunia,” puji Jaya Suprana.

Pekan lalu, didampingi Musafir Isfanhari, dosen musik Unesa, Bagus Adimas menghadiri acara Pertemuan Musik Surabaya (PMS) di kawasan Ngagel, Surabaya. Pemuda kelahiran 30 Desember 1987 itu pun disambut hangat peserta PMS yang sebagian besar juga pianis dan guru piano. Slamet Abdul Sjukur, pianis senior dan pendiri PMS, merangkul Bagus dengan erat.

“Mas Bagus ini membuktikan kepada kita bahwa siapa saja bisa main musik dengan baik. Kekurangan fisik pada setiap orang bukan hambatan untuk bermain musik,” kata Slamet.

Nah, selepas konser piano empat tangan untuk memperingati 54 tahun PMS, saya sempat berbincang dengan Bagus Adimas Prasetyo. Berikut petikannya:

APA SAJA KEGIATAN ANDA SAAT INI?

Masih tetap kayak dulu. Kuliah, main musik, menikmati konser seperti tadi. Yang jelas, masih tetap ada kaitannya dengan musik, baik itu musik jazz atau musik yang lain.

JADWAL MANGGUNGNYA MASIH PADAT?

Belakangan ini sudah berkurang. Atmosfer musik jazz di Kota Surabaya ini sudah tidak seperti beberapa tahun lalu setelah kafe-kafe yang menyediakan panggung untuk musik jazz tidak ada lagi. Dulu, ada Vista Sidewalk Cafe di Garden Palace yang tiap malam ada jazz. Sekarang nggak ada lagi. Yah, mau tidak mau, kesempatan manggung untuk saya dan teman-teman yang aktif di jazz makin terbatas.

KAN ADA KAFE PENGGANTI DI DEKAT PARKIRAN?

Konsepnya sudah berbeda dengan Vista. Musiknya lebih ke Top 40, bukan lagi jazz. Yah, kita sih berharap Surabaya ini selalu ada ruang untuk pergelaran musik jazz meskipun tidak banyak. Jangan sampai Surabaya yang dulu dikenal sebagai barometer musik jazz malah tenggelam. Ingat, kita di sini punya Om Bubi Chen yang merupakan legenda hidup jazz di Indonesia. Perjuangan dan konsistensi beliau untuk mengembangkan jazz harus kita lanjutkan.

LANTAS, GRUP ANDA (NADIRAT BAND) SEKARANG MAIN DI MANA?

Ya, tinggal tunggu panggilan. Begitu ada job, ya, kami bisa langsung main dan jadi. Main musik itu kan soal feeling dan kerja sama saja. Musik itu persoalan ekspresi atau pengungkapan perasaan kita. Jadi, tidak perlu banyak latihan pun, musiknya sudah jadi. Apalagi, jazz ini kan penuh dengan improvisasi dari masing-masing pemain.

ADA HAMBATAN UNTUK ORANG SEPERTI ANDA DALAM BERMAIN MUSIK?

Kalau hambatan sih pasti ada. Orang normal saja ada, apalagi aku. Kendala-kendala itu jangan membuat kita susah, tapi jalani saja. Kalau aku sih gitu.

BAGAIMANA ANDA MENGIKUTI KULIAH DI UNESA?

Saya belajar bersama dengan teman-teman mahasiswa yang normal. Syukurlah, saya mendapatkan bantuan ketika menerima materi mata kuliah. Begitu juga untuk tanda tangan absensi, ya, perlu bantuan orang lain. Terkadang ya, titip tanda tangan aja. Hehehe....

Saya itu pada dasarnya bisa mengikuti pelajaran atau kuliah seperti ilmu musik. Tapi, saya harus diajari dulu not-notnya, bunyinya seperti apa. Nah, dari situ akhirnya saya bisa menirukan. Alhamdulillah, ada asisten dosen yang peduli dan mau membantu saya belajar. Mudah-mudahan saya bisa menyelesaikan kuliah di Unesa.

APA OBSESI ANDA SAAT INI?

Saya ingin menjadi pianis yang diperhitungkan di dalam maupun luar negeri. Dan untuk itu saya perlu ikut ujian Royal Jazz di Singapura. Kalau sudah lulus dari situ, saya bisa main di negara mana saja. Tetapi ini memang tidak mudah dan butuh biaya besar. (*)


BIODATA SINGKAT

Nama : Bagus Adimas Prasetyo
Lahir : Surabaya, 30 Desember 1987
Profesi : Pianis, mahasiswa

Pendidikan :
SDLB Yayasan Pendidikan Anak Buta Tegalsari, Surabaya.
SMA GIKI 1 Dukuh Kupang
Universitas Negeri Surabaya, Jurusan Seni Drama Tari dan Musik
Orangtua : Bambang Hariyanto dan Sri Rejeki
Idola : Buby Chen (pianis), Syaharani (vokalis)

Penghargaan
Bubi Chen Award 2006
Museum Rekor Indonesia 2010



DIPUJI HABIS JAYA SUPRANA

KECINTAAN BAGUS BAGUS ADIMAS PRASETYO TERHADAP DUNIA MUSIK MULAI TERLIHAT SAAT MASIH DUDUK DI BANGKU KELAS EMPAT SEKOLAH DASAR LUAR BIASA (SDLB) YAYASAN PENDIDIKAN ANAK BUTA DI TEGALSARI, SURABAYA. BAKAT MUSIK BAGUS TERLIHAT JAUH LEBIH MENONJOL KETIMBANGAN TEMAN-TEMAN SEKELASNYA.

Karena itu, orangtuanya, Bambang Hariyanto dan Sri Rejeki, berusaha memberikan dukungan penuh agar Bagus bisa mendalami seni musik. Saat duduk enam SDLB, sang ayah membelikannya piano. “Saat berlatih piano itulah, ternyata saya makin suka. Dan, lambat laun, akhirnya saya makin suka musik yang ngejes," kata Bagus.

Melihat perkembangan minat dan bakat anaknya, Bambang Hariyanto makin bersemangat untuk meningkatkan skill musik si Bagus. Di bangku SMP, Bagus dipertemukan dengan Bubi Chen, pianis jazz legendaris asal Surabaya. Selama enam tahun Bagus berguru piano pada Bubi.

Sekitar tahun 2004, Bagus mulai terlibat di C-Two Six, komunitas jazz yang bermarkas di kawasan Medokan Ayu, Surabaya. Bagus pun merasa cocok. Akhirnya, Bagus bersama teman-temannya yang seide membentuk grup bernama Nadirat Band. Bagus menempati posisi favoritnya, piano, ditemani Agus Pranajaya (vokalis), M Himawan (drum, keyboard), dan Kiki Wendra (bas).

Sejak itulah dia mendapat tawaran bermain piano di sejumlah restoran dan hotel. Awalnya, dia diminta untuk menggantikan temannya yang berhalangan bermain musik di sebuah hotel. “Dari situ, eh, saya malah sering kali mendapatkan tawaran main di beberapa tempat," kata putra kedua dari dua bersaudara ini.

Pernah dalam satu minggu, dia harus manggung secara reguler selama empat hari seminggu. Bagaimana dengan jadwal kuliahnya?

“Ya, saya usahakan agar kuliah dan main musik bisa berjalan beriringan. Dari segi kemampuan bermusik, saya malah makin terasah,” terang Bagus yang berat badannya lebih dari 100 kilogram ini.

Kualitas permainan piano Bagus kontan mendapat pujian Jaya Suprana, pendiri dan direktur Musium Rekor Indonesia (Muri). Sebelum menerima sertifikat Muri, Jaya Suprana menyodorkan beberapa repertoar untuk dimainkan Bagus. Di antaranya, Bungong Jeumpa, Ayam Den Lapeh, Alusia, Ayo Mama, Bengawan Solo, Karangan Bunga dari Selatan, dan Fragmen (ciptaan Jaya Suprana). Bagus pun dinyatakan lulus.

"Bagus ini membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia punya musisi tunanetra yang berkualitas," tegas Jaya. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 17 April 2011

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment