08 April 2011

54 Tahun PMS - Piano 4 Tangan




Tak terasa, Pertemuan Musik Surabaya (PMS) telah berusia 54 tahun. Cukup sepuh. Sempat mati suri selama 24 tahun, komunitas ini dihidupkan kembali pada 2006. Rupanya, Slamet Abdul Sjukur, salah satu pendiri PMS, kembali bergairah setelah bertemu Krisna Setiawan.

Krisna ini pianis jazz, akuntan, sarjana elektronika, dan direktur pabrik arang di Surabaya. “Tipe orang serabutan dan kurang kerjaan kayak saya,” kata Slamet Abdul Sjukur, komponis, pianis, dan guru musik yang masih greng di usia 86 tahun itu.

Menurut Slamet, PMS dibentuk tahun 1957 oleh tiga orang ‘serabutan dan kurang kerjaan’ saat itu. Rubai Katjasungkana (almarhum), redaktur Surabaya Post, The Lan Ing yang baru pulang dari studi musik di Belanda, kemudian Slamet Abdul Sjukur. Selama 25 tahun, hingga 1982, PMS menghidupkan Surabaya dengan acara-acara musik, yang menurut Slamet, tinggi kecerdasannya.

Anggotanya 1.300 orang. Mereka membayar iuran tiap bulan. Dari rumah ke rumah, PMS kemudian menggantikan Kuntskring Belanda di Balai Pemuda. Sempat jadi kebanggaan seniman di Surabaya, dan Jawa Timur umumnya, PMS mati tahun 1982.

“Gak ada angin, gak ada hujan... mati sendiri. Gak nyangka mati suri selama 24 tahun,” cerita Slamet Abdul Sjukur dengan gaya khasnya yang ‘nyelekit tapi enak’ kepada saya.

Sekarang PMS digelar setiap bulan di Wisma Musik Melodia Jalan Ngagel Jaya 12 Surabaya. Mengapa di Melodia? Ini pun tak lepas dari sejarah PMS sendiri. Setiawati Winarto, bos Melodia, ternyata putri mendiang Sorento, aktivis PMS tempo doeloe. Karena itu, PMS bersama Slamet Abdul Sjukur difasilitasi di situ.

Kini, setelah para pentolan PMS beranjak sepuh, sibuk ngemong cucu, atau meninggal dunia, tinggallah Slamet Abdul Sjukur yang masih trengginas. Cak Slamet inilah yang menjadi motor sekaligus daya tarik PMS. Murid-murid Slamet dari berbagai kota ingin datang menikmati wejangan-wejangan musik dan budaya khas Slamet.

Salah satunya Vita, pianis asal Malang. Celetukan-celetukan Slamet memang nyentrik, tapi cerdas. Begitu juga pilihan musik yang dimainkan atau ditayangkan di depan peserta PMS. Memang musik klasik, tapi bukan yang top hits di masyarakat. Secara halus, Slamet menyuntikkan ilmu-ilmu musik, kegandrungan akan musik, kepada hadirin yang kebanyakan guru-guru piano.

Malam itu, Senin 4 April 2011, hajatan 54 tahun PMS dirayakan di Wisma Musik Melodia Surabaya. Pesta musik ini menampilkan dua pianis, yaitu Glenn Bagus dan Iswargia R. Sudarno. Mengenakan baju batik, kedua pianis ini bermain sekitar 90 menit.

Dua orang main satu grandpiano. Piano empat tangan. Sungguh sebuah pertunjukan musik yang langka di Surabaya. Ada karya Mozart, Rachmaninoff, Ravel, kemudian Stravinsky. Yang menarik, undangan malam itu didominasi anak-anak muda, kemungkinan besar peserta kursus piano. Guru-guru piano ada juga, tapi tak banyak.

Selama 90 menit kedua pianis, Glenn dan Iswargia, berhasil menghadirkan musik yang merangsang daya imajinasi penonton. Suasananya terasa meriah, agung, kaya bebunyian. Maklum, komposisi piano empat tangan ini dirancang untuk orkes. Komposisi orkes simfoni, tapi dirangkum dalam sebuah instrumen bernama piano.

Glenn lebih banyak duduk di sebelah kiri, Iswargia di kanan. Meskipun kesempatan latihan tak banyak, keduanya tampil kompak, sangat terkoordinasi. Juga sangat rapi. Karya Rachmaninoff Opus 11 berisi enam tema yang berbeda, kaya variasi. Hadirin bertepuk tangan panjang di akhir permainan.

Pada karya Stravinsky, yang tiga bagian, gantian Glenn memainkan tuts piano di bagian kanan. Iswargia di kiri. Komposisi ini menggambarkan pesta di rumah Petrouchka. Diawali tarian Rusia, kemudian suasana di rumah Petrouchka, diakhir pekan sukaria. Sajian yang pas, mengajak hadirin bersukarian di hari jadi PMS ke-54.

“Komposisi tadi memang gendheng-gendhengan,” kata Slamet Abdul Sjukur disambut tawa hadirin. Duo pianis pun tersenyum lebar. Plong setelah ‘dipaksa’ untuk konsentrasi total selama hampir dua jam.

Sebagai pianis, menurut Iswargia Sudarno, menu yang disiapkan untuk HUT ke-54 PMS ini sangat menantang. Pianis harus memainkan komposisi untuk orkes dengan tangan yang tumpang tindih. Berbagai macam bunyi harus bisa dikeluarkan untuk dinikmati audiens.

Glenn Bagus juga mengakui permainan piano empat tangan bukan perkara gampang. Beda dengan duet piano, di mana dua pianis main piano sendiri-sendiri. Jadi, tumpang tindih tangan tidak akan ada.

“Tapi piano empat tangan ini memang asyik untuk dicoba,” kata Glenn yang mulai belajar piano pada usia 11 tahun.

Meski namanya pesta ulang tahun, malam itu tidak ada sajian makanan dan minuman. Slamet Abdul Sjukur, peserta PMS, dan undangan rupanya sudah kenyang dengan sajian musik piano empat tangan itu.




PROGRAM HUT KE-54 PMS
Senin 4 April 2011, Pukul 19.00

PIANO EMPAT TANGAN
Glenn Bagus dan Iswargia R. Sudarno

1. Mozart: SONATA C-mayor KV 521
Allegro, Andante, Allegretto

2. Rachmaninoff: 6 KARYA op. 11
Barcarolle, Scherzo, Tema Rusia, Walsa, Romansa, Slava

3. Ravel: RAPSODI SPANYOL
Prelude di malam hari (sangat tenang), MalagueƱa (bernafsu),
Habanera (lamban tanpa gairah), Feria (ramai)

4. Stravinsky: 3 Bagian dari PETROUCHKA
Tarian Rusia, Di rumah Petrouchka, Pekan Sukaria

SAMBUTAN SINGKAT SLAMET ABDUL SJUKUR
KESAN ISWARGIA R. SUDARNO
KESAN GLENN BAGUS
SELESAI



COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comment: