02 March 2011

Suhu Andreas Wejangi Wartawan



Buku AGAMA SAYA ADALAH JURNALISME karangan Andreas Harsono rupanya laku keras di Surabaya. Saya cek di dua toko buku, ternyata habis. Syukurlah, buku terbitan Kanisius, Jogjakarta, 2010, itu masih satu di Gramedia Manyar, Surabaya. Saya pun membeli buku bersampul merah itu. Lumayan murah, Rp 50.000.

Seperti sudah diumumkan di blognya, http://andreasharsono.blogspot.com, Andreas Harsono menyebut buku ini hanyalah ‘buku-bukuan’. Sekadar kumpulan catatan ringan, pendek-pendek, di berbagai tempat, termasuk di blognya. Kalau [hampir] semua naskah sudah ditayangkan di blog, mengapa harus membeli buku 268 halaman itu?

Ada teman yang beli karena penasaran. Jangan-jangan naskah di buku sudah diperkaya, lebih lengkap, panjang, dan mutakhir. Juga lebih mudah dibaca sambil tidur-tiduran ketimbang membaca di internet.

Saya sendiri sudah lama melihat Andreas Harsono ini ibarat seorang SUHU asal Hokkian (Fujian) di Tiongkok. Suhu jurnalisme. XINWENJIZHE SHIFU.

SUHU atau SHIFU dalam Putonghua (bahasa Mandarin) tidak sama dengan guru, dosen, pengajar, atau konsultan biasa. Suhu itu jauh lebih dalam maknanya. Shifu alias Suhu berperan sebagai orangtua, penasihat rohani, penanam nilai-nilai etika dan moralitas kepada para murid atau xuesheng.

Seorang suhu di bidang jurnalisme pun berbeda dengan pakar-pakar ilmu komunikasi atau pengurus dewan pers yang kasih pendidikan dan latihan wartawan, kemudian disangoni angpao, kemudian pulang. Atau, dosen fakultas komunikasi atau jurnalistik yang hanya berdiri di depan kelas tanpa mengenal karakter masing-masing muridnya. Sang Suhu ikut bertanggung jawab atas perkembangan si murid kapan saja diminta maupun tidak.

Maka, Andreas Harsono ini berhak dipanggil Suhu Andreas, shifu jurnalisme di Indonesia. Lihatlah, dia antusias menjawab Rudi Agung tentang jurnalisme Islam. Menjawab Handono tentang pendidikan jurnalisme di Pulau Jawa. Menjawab Luh Putu Ernila Utami tentang teknik dan filosofi menulis. Kasih penjelasan cara belajar menulis bahasa Inggris untuk Fauzul Muhammad.

Kasih masukan, sekaligus ngeroweng tentang cara merekrut wartawan yang kurang baik di Indonesia. Juga memberi wawasan tentang seksisme, rasialisme, dan sektarianisme kepada Sapariah Saturi yang tak lain istrinya sendiri. Semua itu diunggah di internet, sehingga siapa saja bisa mengakses ‘ajaran-ajaran’ Suhu Andreas dengan mudah dan murah.

Seorang suhu sejati memang tidak pernah pelit membagi-bagikan ilmu. Semakin dibagikan kepada sesama, ilmu itu bukannya habis, tapi bertambah-tambah.

Sebagai suhu, Andreas Harsono sudah lama mengambil jarak dengan rutinitas pekerjaan di newsroom. Arek Tionghoa Jember ini berada di luar pagar sebagai pemantau media. Dia pernah bikin majalah PANTAU yang memperkenalkan tulisan-tulisan panjang, naratif, dan mendalam. Dia tidak dibebani target menyetor sekian berita dan foto per hari. Karena itu, Andreas Harsono memang punya posisi yang layak untuk kasih petuah-petuah bijak di bidang jurnalistik.

Namanya juga suhu, di sepanjang 34 tulisannya, Andreas Harsono berkali-kali menekankan sejumlah poin penting yang sering diabaikan media di Indonesia. Sejak dulu Andreas Harsono memang konsisten membahas soal-soal ini: Sembilan elemen jurnalisme. By line. Pagar api. Pentingnya tulisan panjang, naratif. Sumber anonim. Investigative reporting.

Tulisan-tulisan Andreas Harsono ini mengingatkan pembaca, khususnya pekerja media, untuk selalu ELING LAN WASPADA di zaman yang makin wuedaan ini.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

7 comments:

  1. Jadi penasaran nih? Judulnya aja provokatif.. Keren..


    http://www.youtube.com/watch?v=kB0wi4Ihj6M

    ReplyDelete
  2. Alamak! Jadi tidak enak awak ini dibilang suhu segala macam. Awak cuma reporter, masih bergulat dgn pekerjaan sehari-hari, mencari sesuap nasi untuk anak dan isteri serta belajar jadi wartawan.

    ReplyDelete
  3. tulisan mas andreas memang bagus2...

    ReplyDelete
  4. Terima kasih Ancis dan Suhu Andreas yang sudah kasih komen di sini. Semoga tetap sehat dan produktif. Salam damai.

    ReplyDelete
  5. tulisan2 andreas memang enak dibaca n memberi banyak ilmu seputar jurnalistik. kita juga jadi tahu kelemahan2 media n wartawan2 di indonesia. salut!!!

    ReplyDelete
  6. Minta link penjualan online buku ini dong... di gramedia banjarmasin ga ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa kontak langsung ke Andreas Harsono. Masuk aja ke blog atau Twitter beliau. Terima kasih.

      Delete