08 March 2011

Riski Nurilawati Penyanyi Tunanetra




Sekitar 1.500 hadirin yang memenuhi Gedung SIBEC Surabaya, pekan lalu terpukau mendengar suara emas Riski Nurilawati. Gadis berusia 19 tahun ini memang sangat fasih membawakan lagu-lagu pop Mandarin pada Malam Kesenian Indonesia-Tiongkok, Minggu (27/2/2011). Padahal, Riski yang asli Surabaya, non-Tionghoa, seorang tunanetra.


Oleh Lambertus Hurek

Kontan saja, para undangan yang sebagian besar pengusaha dan tokoh masyarakat Tionghoa Surabaya pun berdecak kagum. Konsul Jenderal Tiongkok Wang Huagen bahkan secara khusus datang menghampiri Riski dan menjabat tangannya. Saking simpatinya, Pak Konsul pun menanyakan apa kebutuhan Riski yang paling mendesak. “Saya bilang laptop untuk kuliah,” ujarnya.

Wang Huagen pun segera menghubungi para pengusaha yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS). Dan, Jumat (4/3/2011) siang, Konjen Tiongkok bersama para pengusaha datang ke ruang rektorat Unesa untuk menyampaikan bantuan laptop spesial.

Selain cerdas, putri bungsu dari empat bersaudara pasangan Sutikno dan Suwati ini sudah mengoleksi belasan trofi lomba menyanyi dan cerdas cermat yang diikutinya sejak duduk di sekolah dasar. Para pengusaha Tionghoa, khususnya Liem Ouyen, ketua PMTS, terkaget-kaget setelah mengetahui bahwa Riski ternyata mampu menghafal sekitar 350 lagu pop Mandarin. Padahal, Riski sama sekali tidak pernah ikut kursus atau mempelajari bahasa nasional Tiongkok itu di sekolah.

“Anak itu memang istimewa. Dia punya kekurangan, tapi dikaruniai kemampuan memori yang luar biasa,” puji Liem Ouyen ketika mendampingi Rektor Unesa Prof Dr Muchlas Samani.

Bagaimana perasaan Anda ketika dikunjungi Konjen Tiongkok bersama para pengusaha Tionghoa Surabaya?

Saya benar-benar kaget karena responsn Pak Konjen begitu cepat. Saya baru ngomong soal laptop itu hari Senin, kemudian Rabu saya dikontak, dan Jumat sudah diserahkan. Alhamdulillah! Laptop ini sangat berarti bagi saya untuk mengikuti perkualiahan, karena saya kan tidak bisa membaca secara langsung.

Anda kuliah bersama mahasiswa-mahasiswa normal?


Ya. Mahasiswa yang tunanetra hanya dua orang: saya dan Ninis. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya karena saya harus menyesuaikan diri dengan mereka. Bukan mahasiswa-mahasiswa dan dosen yang menyesuaikan diri dengan saya.

Lalu, bagaimana Anda menyerap bahan-bahan kuliah atau buku teks?


Caranya, ya, dengan laptop itu. Laptopnya sih laptop biasa, cuma diinstal khusus dengan program Jaws. Dengan program itu, maka laptopnya akan secara otomatis membacakan bahan-bahan kuliah untuk saya. Saya hanya mengandalkan ingatan dan suasana hati untuk mengingat semua informasi tersebut. Laptop itu sangat asyik karena dia tidak akan capek, marah, atau bosan. Lain halnya kalau yang membacakan itu teman sesama mahasiswa. Lama-lama mereka pasti akan bosan juga. Hehehe....

Jadi, tidak ada hambatan mengikuti kuliah?

Hambatannya, ya, dari saya sendiri. Sebab, bahan-bahan itu kan harus di-scan agar bisa dibaca oleh laptop atau komputer. Kadang-kadang malas juga nyekennya karena bahan-bahan yang harus di-scan cukup banyak.

Dulu, sebelum ada laptop, bagaimana Anda mengikuti pelajaran?

Ya, harus minta bantuan teman atau keluarga untuk membacakan buku-buku atau catatan. Saya juga memperhatikan betul suara guru-guru yang sedang mengajar. Kalau saya kurang ngerti, ya, saya datangi untuk bertanya.

Lantas, sejak kapan Anda mulai belajar menyanyi dan main piano?

Ceritanya, waktu kelas tiga SD saya sempat jadi penyiar Kids Radio di Graha Pena. Itu radio khusus untuk anak-anak. Di situ ada Kids Club yang punya kursus vokal dan piano. Sejak itulah saya mulai belajar menyanyi, khususnya lagu-lagu Mandarin.

Mengapa tertarik dengan lagu-lagu Mandarin?

Waktu itu ada sebuah acara, dan saya diminta tampil menyanyi. Guru saya kemudian minta saya belajar lagu Mandarin dari Teresa Teng berjudul Good Bye My Love. Saya pun belajar sendiri pakai kaset dan tape recorder. Akhirnya, saya bisa membawakan lagu itu dan jadi senang dengan lagu-lagunya Teresa Teng. Aku suka lagu-lagu Mandarin karena bisa bikin aku tidur, bisa bikin aku nangis. Pokoknya asyik deh!

Lantas, bagaimana Anda menghafal hingga 350 lagu Mandarin, belum termasuk lagu-lagu Indonesai dan Barat?

Menghafal lagu-lagu itu kan tidak bisa sekaligus, tapi perlahan-lahan selama berbulan-bulan. Dimulai dengan lagu Good Bye My Love ketika saya SD, lama-kelamaan kan koleksi lagu saya bertambah. Jadi, 350 lagu itu saya kuasai dalam tempo 10 tahun. Sekarang pun saya sedang menghafal lagu-lagu baru sehingga penguasaan lagu saya terus bertambah. (*)


BIODATA SINGKAT

Nama : Riski Nurilawati
Lahir : Surabaya, 20 Januari 1992
Profesi : Penyanyi tunanetra
Hobi : Menyanyi dan Cuci Pakaian
Artis favorit : Teresa Teng
Cita-cita : guru, pemusik

Pendidikan
SD Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya
SMP YPAB Surabaya
SMAN 10 Surabaya
Universitas Negeri Surabaya (Prodi Pendidikan Luar Biasa)

Penghargaan
Juara I lomba lagu Jepang antar-SMA tingkat Jatim, 2010
Juara I lomba menyanyi tingkat nasional antarsekolah inkulasi, 2008
Juara I vokalis festival band se-Jawa dan Bali, 2008
Juara I cerdas cermat antar-SLB, 2006
Juara I lomba menyanyi antar-SLB, 2006
Juara I lomba menyanyi Hipenca Jatim, 2005



COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comment:

  1. subhanallah... bangga sekali dengan semua prestasi yang rise punya. tetap semangat ya, kakak selalu berdoa untuk kejayaan rise.

    ReplyDelete