10 March 2011

Raos Pacinan di Gempol




Kiprah etnis Tionghoa dalam perang melawan VOC belum lama ini diungkap Daradjadi Gondodiprojo dalam bukunya yang berjudul Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa Lawan VOC. Selama tiga tahun perang yang dimulai dari Batavia (Jakarta) sejak 1740 ini dipimpin Souw Phan Ciang alias Kapitan Sepanjang.

Daradjadi menggunakan berbagai dokumen dan arsip kraton untuk membabarkan kiprah etnis Tionghoa dalam perjuangan melawan eksploitasi kompeni Belanda itu. Di antaranya, Babad Tanah Jawi, Babad Pangeran Sambar Nyawa, serta arsip-arsip penting kraton.

Perlawanan warga Tionghoa itu, menurut Daradjadi, bermula ketika tentara VOC menangkap warga Tionghoa di Batavia dan sekitarnya pada Februari 1704. Buntutnya, sekitar 100 orang Tionghoa di Bekasi dan Tanjung Priok menyerang penjara untuk membebaskan kawan-kawannya yang ditahan.

“Yang memimpin perlawanan ini tak lain Kapiten Sepanjang,” jelas Daradjadi. Sejak itulah Kapiten Sepanjang yang bekerja sama dengan tentara Jawa di Jogjakarta dan Solo, kemudian di-backup pasukan dari Madura, bersama-sama angkat senjata melawan VOC di seluruh Pulau Jawa. Perang besar itu berkecamuk hingga ke Jawa Timur.

Salah satu tetenger atau saksi sejarah Perang Patjinan terdapat di kawasan Desa Carat, Gempol, Pasuruan. Di kawasan perkebunan tebu itu terdapat bangunan cagar budaya yang dikenal sebagai Raos Pacinan. Ada dua arca besar terbuat dari batu.

Sayang, kondisi arca di Raos Pacinan itu sudah lama rusak. “Katanya, dulu kedua arca di sini dirusak oleh orang-orang tertentu. Ada salah paham karena penduduk rupanya tidak paham kalau itu merupakan situs bersejarah yang perlu dilindungi,” ujar Bambang, karyawan peternakan bebek yang terletak tak jauh dari Raos Pacinan.

Setelah dikelola Dinas Purbakala, kondisi Raos Pacinan sudah jauh lebih terawat. Kompleks Raos Pacinan dibuat permanen, bahkan dilengkapi taman yang cukup bagus. Lengkap dengan plang berisi larangan merusak bangunan cagar budaya itu. “Tapi, ya, pengunjung tidak bisa melihat bentuk arcanya karena memang sudah nggak karuan,” tukas Bambang.

Melihat kiprahnya dalam perjuangan melawan penindasan Belanda, khususnya VOC, Daradjadi Gondodiprojo meminta pemerintah untuk segera memproses Kapitan Sepanjang sebagai pahlawan nasional. Sejumlah sejarawan pun menilai pemimpin perlawanan Tionghoa ini memang memenuhi semua kriteria sebagai pahlawan nasional.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment