11 March 2011

Olivier Johannes Raap Londo Jowo



Olivier bersama Paulina Mayasari, koordinator Melantjong Petjinan Soerabaia.

Kecintaannya yang luar biasa terhadap eksotika Oud Java, Jawa tempo doeloe, membuat Olivier Johannes Raap suka blusukan dari kampung ke kampung. Pria asal Den Haag, Belanda, ini tengah mencari bahan untuk menyusun buku tentang Jawa.

DI kalangan pencinta sejarah di jagat maya, Olivier Johannes Raap lebih dikenal sebagai Priyambodo Prayitno, atau Mas Pri. Pemilik laman www.djawatempodoeloe.multiply.com ini bahkan menulis home town-nya: Surabaya.

Dan, biasanya, para pengguna internet tak meragukan klaim Olivier mengingat Mas Pri ini sangat fasih menulis dalam bahasa Indonesia. Dia pun punya banyak informasi tentang berbagai kota di Pulau Jawa berikut keunikan bangunan-bangunan dan kampung-kampungnya.

Tidak hanya Surabaya. Hampir semua kota di Jawa, mulai dari Bandung, Bogor, Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Blitar, Jember, hingga Banyuwangi sudah pernah diubek-ubek bule yang ramah ini. “Saya memang senang jalan-jalan ke tempat yang ada kaitannya dengan sejarah,” ujar Olivier kepada saya ketika mengikuti acara Melantjong Petjinan VI, belum lama ini.

Saat itu Olivier alias Mas Pri sedang berkunjung ke Hok An Kiong, kelenteng tertua di Jalan Cokelat Surabaya. Olivier memperhatikan dengan saksama arsiektur kelenteng serta kawasan pecinan dengan bangunan-bangunan tua itu.

Pria berdarah campuran Belanda dan Perancis itu sehari-hari hanyalah seorang karyawan toko buku di Den Haag. Selain buku-buku, Olivier gemar mengoleksi prangko yang ada kaitannya dengan sejarah, khususnya Jawa. Foto-foto di prangko lawas, yang rata-rata dijepret pada tahun 1900-an itu, ‘memaksa’ dia untuk datang langsung ke Indonesia. Misi utamanya adalah mencari lokasi foto prangko tempo doeloe itu untuk dijepret kembali.

Dia meneliti terus-menerus cerita setiap foto itu, kemudian mengoleksi peta Surabaya dari tahun ke tahun sejak 1800. “Saya ke Surabaya ini untuk menyelesaikan buku saya. Mudah-mudahan bisa selesai sesuai rencana,” katanya dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar.

Tinggal di sebuah hotel tua, tetapi murah dan eksotis, Olivier setiap hari blusukan ke kampung-kampung untuk mencicipi makanan rakyat. Tak heran, Olivier sangat dikenal warga di perkampungan, termasuk para tukang becak. Dia juga senang menikmati angkutan kota atau bus yang dijejali penumpang ketimbang naik taksi atau menyewa kendaraan pribadi.

Justru dengan cara inilah, Olivier banyak menggali informasi dari tangan pertama di lapangan. Dia kemudian sering diminta menjadi pemandu untuk teman-temannya, sesama orang Belanda, yang melancong ke Surabaya. “Hampir semua kampung lama sudah saya datangi,” katanya.

Namun, dia sedih ketika melihat sejumlah bangunan tua yang kerap dia kunjungi dibongkar pemiliknya untuk dijadikan ruko. Atau, direnovasi total dan dibuat bangunan yang baru sama sekali.

Lantas, kapan proyek buku Jawa tempo doeloe-nya rampung?

“Mudah-mudahan bulan Mei,” tegasnya. (rek)




COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment