17 March 2011

Moechtar Pemred Panjebar Semangat




Belum lama ini, tepatnya 22 Februari 2011, Drs. MOECHTAR merayakan ulang tahun ke-86. Di usia yang terbilang sangat lanjut ini, ayah lima anak ini tak kenal kata pensiun. Setiap hari dia sibuk menulis, mengurusi PANJEBAR SEMANGAT, majalah berbahasa Jawa, dan menerjemahkan karya sejumlah pengarang dunia.

Oleh LAMBERTUS HUREK


“Saya masih sehat-sehat saja, tapi tentu sehatnya orang tua,” ujar Moechtar yang saya temui di kediamannya, Sabtu (12/3/2011).

Pria yang mulai merintis karir sebagai wartawan pada 1950 di koran berbahasa Jawa, Espres, itu baru saja merilis buku berjudul PURI TUWA KANG NYALAWADI. ini merupakan kumpulan 13 cerita pendek (cerpen) karya pengarang-pengarang terkenal mancanegara antara lain Honore de Balzac (Prancis), Ignazio Silone (Italia), Saki (Myanmar), Edgar Allan Poe (Amerika Serikat), Ernest Hemmingway (Amerika Serikat), dan Arturo Barea (Argentina). Cerpen-cerpen itu diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.

Selama satu jam lebih, saya berbincang dengan Eyang Moechtar, sapaan bekas dosen Akademi Wartawan Surabaya itu.

APA PERTIMBANGAN ANDA MENERJEMAHKAN DAN MENERBITKAN CERPEN-CERPEN KARYA PENGARANG INTERNASIONAL ITU?

Sampai sekarang belum ada terjemahan cerpen-cerpen dunia yang dibukukan. Apalagi, dalam bahasa Jawa. Selama ini yang ada hanya di majalah-majalah saja. Habis dibaca kan hilang. Kalau dibukukan, habis dibaca bisa disimpan. Apalagi, kalau disimpan di perpustakaan pasti bisa dibaca banyak orang. Siapa saja bisa membaca. Selain itu, saya memang ingin menambah khasanah sastra Jawa dan nguri-uri bahasa Jawa. Ini agar sastra Jawa ora ilang tanpa tilas.

ANDA KAN MASIH SIBUK MENGURUS PANJEBAR SEMANGAT. LANTAS, BAGAIMANA ANDA MEMBAGI WAKTU UNTUK MENERJEMAHKAN CERPEN-CERPEN ITU?

Ya, saya kerjakan kalau ada waktu senggang. Sambil lalu saja. Saya terjemahkan sedikit-sedikit dan akhirnya selesai juga. Jadi, membuat buku terjemahan cerpen-cerpen ini sebenarnya tidak pakai target.

SIAPA YANG MEMBIAYAI PENERBITAN INI?

Saya sendiri. Begini. Untuk naskah-naskah berbahasa Jawa itu tidak ada penerbit buku di Indonesia yang mau membiayai. Saya pernah negosiasi dengan penerbit supaya biayanya ditanggung bersama 50:50. Si penerbitnya nggak berani. Takut nggak laku. Maka, mau tidak mau si penulis harus berusaha membiayai sendiri agar bisa diterbitkan. Tahun 2005, saya coba menerbitkan kumpulan cerita rakyat Jawa Timur berjudul Badher Bang Sisik Kencana. Ternyata, ya, habis juga.

KALAU TIDAK ADA PENERBIT YANG MAU, LALU SOLUSINYA BAGAIMANA?

Yah, saya akhirnya bikin Yayasan Jawi Adi. Yayasan ini yang kemudian menjadi penerbit buku-buku saya. Saya harus melakukan ini karena saya memang senang bahasa Jawa. Saya ingin merawat, nguri-uri, bahasa Jawa. Jadi, saya harus menerbitkan. Kalau sudah dibukukan, mudah-mudahan orang Jawa, khususnya generasi muda, tertarik untuk mau dan senang membaca.

MENGAPA BUKU-BUKU ATAU MAJALAH BERBAHASA JAWA JUSTRU KURANG DIMINATI MASYARAKAT JAWA SENDIRI?

Ini masalah reading habit. Kebiasaan membaca bocah-bocah sekarang memang kurang dibiasan untuk membaca. Lebih-lebih setelah ada televisi, yang jumlahnya banyak seperti sekarang, bocah-bocah itu lebih senang nonton televisi. Menonton itu gampang, nggak perlu susah-susah memperhatikan aksara dalam buku. Anak-anak muda kadang-kadang suka membaca, tapi yang dibaca itu komik. Cukup melihat gambarnya saja, orang sudah tahu ceritanya. Karena itu, reading habit harus dibiasakan sejak anak-anak masih sekolah dasar.

Seperti dikatakan Suparto Brata, membaca itu memang sangat berbeda dengan menonton dan mendengar. Orang hidup itu sejak bayi sudah bisa melihat dan mendengar. Tanpa sekolah atau belajar pun orang sudah bisa melihat dan mendengar. Berbeda dengan membaca, orang harus belajar lebih dulu dan dibiasakan sejak kecil.

KEBIJAKAN JAVA DAY ATAU HARI WAJIB BERBAHASA JAWA YANG DICANANGKAN PEMKOT SURABAYA BEBERAPA WAKTU LALU BAGAIMANA?

Sekarang malah nggak kedengaran lagi. Masalahnya, di SD tidak ada guru-guru bahasa Jawa yang mumpuni. Maka, anak-anak tidak diajarkan bahasa Jawa untuk berkomunikasi, tapi cuma sekadarnya saja seperti... anak kucing namanya ini, anak kuda namanya ini, anak kambing namanya ini, anaknya sapi, dan seterusnya. Ini kan tidak komunikatif.

Saya pernah mengatakan dalam Kongres Bahasa Jawa begini. Kalau ingin bahasa Jawa lestari, tetap hidup, ya, harus ada pelajaran bahasa Jawa di sekolah. Bahasa Jawa harus jadi pelajaran wajib yang menentukan kenaikan kelas dan kelulusan murid. (*)



PEMRED PALING SENIOR DI INDONESIA

TAK salah jika Moechtar (86 tahun) mendapat penghargaan sebagai Tetua Wartawan oleh pemerintah pada 1998. Maklum, sebagian besar hidup pria kelahiran Pacitan, 22 Februari 1925, ini diabdikan di dunia jurnalistik. Boleh Jadi, Moechtar merupakan pemimpin redaksi tertua di Indonesia.


Menekuni profesi wartawan sejak 1950, sebagai wartawan koran Espres, Moechtar terus bergelut dengan jurnalisme sampai saat ini. Kepiawaiannya menulis dalam bahasa Jawa membuat Moechtar diajak bergabung dengan PANJEBAR SEMANGAT sejak 1982.

“Saya merupakan satu-satunya orang di luar keluarga besar Imam Soepardi (alm) yang menempati key position di PANJEBAR SEMANGAT. Sebelum di PS, saya bekerja sebagai redaktur harian Bhirawa,” ujar Moechtar yang didapuk sebagai pemimpin redaksi PS pada tahun 2000.

Berbeda dengan media-media yang semakin marak di era reformasi, menurut Moechtar, majalah PS yang berkantor di Jalan Bubutan 85-B Surabaya ini punya misi dan idealisme yang sulit dikompromikan. Yakni, melestarikan bahasa Jawa. Jangan sampai tak ada lagi media massa berbahasa Jawa di tanah air, khususnya Jawa Timur.

Karena itu, ketika sejumlah pihak ikut menerbitkan majalah berbahasa Jawa, Moechtar justru menyambut dengan antusias. Media-media itu tidak dilihat sebagai kompetitor, pesaing bisnis, melainkan mitra untuk menguri-uri bahasa Jawa. Sayang, kini hampir semua media-media berbahasa Jawa itu tinggal nama.

“Ada yang hanya terbit dua tiga kali, kemudian tutup seterusnya,” ujar Moechtar sembari menyebut salah satu media terbitan Ponorogo.

Mengapa media-media berbahasa Jawa justru sulit hidup di tengah komunitas masyarakat yang berbahasa Jawa?

Kompleks persoalannya. Menurut Moechtar, anak-anak muda sekarang kurang berminat mempelajari bahasa Jawa, apalagi berlanggan majalah berbahasa Jawa seperti PS atau Jaya Baya. Orang cenderung berorientasi ke bahasa Indonesia yang dianggap mudah.

“Harus diakui, bahasa Jawa itu memang sulit. Ada unggah-unggah, kemudian ada ngaka, krama. Bahasa Jawa juga sulit untuk dipakai mencari pekerjaan. Maka, orang lebih senang belajar bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Mandarin. Orang tua juga tidak mendidik anak-anaknya untuk berbahasa Jawa,” tukasnya.

Meski begitu, Moechtar bersyukur karena majalah PS yang didirikan almarhum dr Soetomo, yang juga pendiri Boedi Oetomo, pada 1933 itu masih bisa eksis sampai hari ini. “Malah sekarang ini kalangan menengah ke atas pun sudah menjadi pembaca PS,” akunya. (hurek)



BIODATA SINGKAT

Nama : Drs. Moechtar
Lahir : Pacitan, 22 Februari 1925
Istri : Ismi Suarni (alm)
Anak : Bambang Guratno, Wijiasri Utami, Teguh Asri Yuwono, Retno Asri Lestari, Muh Arifin Sani (alm)
Pekerjaan : Pemimpin redaksi Panjebar Semangat
Alamat : Jalan Pucang Asri I/9 Surabaya

Pendidikan
HIS Pacitan
MULO Jogjakarta
HIK Jogjakarta
Sekolah Guru Menengah Laki-Laki (SGML)
Sekolah Menengah Tinggi Jogjakarta
UII Jogjakarta (Fakultas Psikologi)
Universitas Indonesia, Jakarta (Publisistik)

Penghargaan
Piagam Tetua Wartawan (1998)
Bintang Kencana Budaya/Piagam Budaya (2001)
Hadiah Sastra Rancage (2003)


Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu 13 Maret 2011

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

3 comments:

  1. Kita salut pada bapak yang mau melestarikan bahasa Jawa lewat majalah. Tetapi saya kira beliau salah strategi. Sebenarnya kalau mau Bahasa Jawa lestari sebagai bahasa tulisan, penulis harus mengikuti strategi Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris, yaitu meninggalkan yang sulit-sulit dan tidak perlu: unggah-ungguh, krama, dll.

    Di Surabaya, pasarnya ialah masyarakat yang berbahasa Jawa ala Surabaya, yaitu ngoko yang bukan ala Mataraman seperti di Pacitan, tetapi bahasa arek pesisir. Bahasa ini dituturkan oleh semua orang, baik Jawa, Madura, Tionghoa, maupun pendatang dari Flores! Hanya tidak pernah saya lihat ada buku yang ditulis menggunakan bahasa arek.

    Hampir 100 tahun yang lalu, para penulis dan redaktur Tionghoa menerbitkan buku-buku dan majalah-majalah dalam bahasa Melayu pasar. Sesuai dengan perkembangannya yang pesat karena mudah, Bahasa Melayu pasar menjadi standar, menjadi Bahasa Indonesia! Jika bahasa arek mulai dituliskan sekarang, sangat mungkin 20-30 tahun lagi ia berkembang di seluruh Jawa Timur, lestari sebagai bahasa sastra yang lebih kuat daripada bahasa Jawa yang aslinya dari eks wilayah Mataram!

    ReplyDelete
  2. Bung Wens di USA, terima kasih atas catatan sampean. Saya pun sudah lama menginginkan manajemen PS melakukan perubahan dan penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Mulai dari isi, tampilan, desain, jenis kertas... dan sebagainya. PS tidak bisa terus-menerus mempertahankan pola yang ada, merasa nyaman, padahal semua tahu pembaca media berbahasa Jawa makin lama makin sedikit.

    Saya juga sebetulnya 'tidak rela' kalau Pak Moechtar yang sudah 86 tahun tetap menjadi pemimpin redaksi. Harus ada regenerasi kalau ingin PS bertahan. Begitu banyak perubahan teknologi, sudah terjadi perubahan generasi, sehingga orang lama macam Eyang Moechtar sudah seharusnya memberi kesempatan kepada 'cucu-cucu' yang lebih segar.

    Saya hanya bisa geleng-geleng kepala begitu tahu ada pemred majalah mingguan yang berusia 86 tahun. Apakah ini juga cermin bahwa tidak ada lagi orang muda di Jawa Timur yang mampu di bidang jurnalistik dan bahasa Jawa? Semoga ini menjadi bahan refleksi kita bersama.

    ReplyDelete
  3. cek kumpulan cerkak bahasa jawa
    www.kumpulan-cerkak.blogspot.co.id

    ReplyDelete