01 March 2011

Masjid Mawa Simbol Toleransi



FOTO: Masjid Nurul Jannah di Lembata, NTT.



FOTO: Ina Siti Kasa Manuk (kiri) dan Ina Masita Hurek, umat Islam di kampung saya.


Saat mudik ke kampung halaman awal 2011 ini saya mampir ke sebuah masjid sederhana di Desa Mawa, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT. Masjid beratap seng seperti rumah-rumah di kampung. Namanya tak pernah saya lupa: Nurul Jannah.

“Nurul itu artinya sinar. Jannah artinya surga. Nurul Jannah kira-kira berarti Sinar Surgawi. Insyaallah, masjid ini memberikan sinar surgawi kepada para jamaah di kampung,” kata Ama Imam Ansyar Paokuma (almarhum) kepada saya ketika masih kecil.

Ama Imam ini dulu sering sekali datang ke rumah saya, sekitar 200 meter dari masjid, untuk bersantai. Ngomong ngalor-ngidul. Termasuk bicara tentang perkembangan masjid, persiapan lomba kasidah, pelajaran mengaji untuk anak-anak, hingga masalah P3NTR.

Saya ingat betul istilah P3NTR, karena sering diulang-ulang, meski tidak tahu apa kepanjangannya. Tapi, yang jelas, P3NTR ini semacam petugas KUA (Kantor Urusan Agama) yang mencatat pernikahan orang-orang Islam di kampung saya, Lembata.

Saya bertemu Ama Hasan Wahon, penjaga sekaligus takmir Masjid Nurul Jannah. Terlalu lama meninggalkan Lewotanah membuat orang-orang kampung, termasuk Ama Hasan dan istrinya, Ina Maryam, tak lagi mengenal saya. Saya mula-mula sengaja merahasiakan identitas diri saya.

Saya bertanya rumah Ama Imam Paokuma yang sekarang sudah ambruk, tinggal fondasi. Mengku (anaknya Ama Imam) di mana sekarang? Diken di mana? Tuan di mana? Ina Sana (istrinya Ama Imam) di mana? Ama Imam dan keluarganya, yang merupakan tokoh agama Islam di kampung, bahkan di Lembata, memang sangat penting dalam hidup saya. Kami memang masih punya pertalian kekerabatan yang erat.

Saya langsung terbayang masa kecil ketika saya bersama teman-teman SD di kampung di pesisir Laut Flores itu bermain-main di lapangan, persis di depan rumah Ama Imam. Beliau ini punya selera musik yang cukup tinggi untuk ukuran orang Flores Timur pada masa itu. Ketika orang lain suka lagu-lagu Ida Laila, Rhoma Irama, atau Camelia Malik, Ama Imam justru sangat senang lagu-lagu disco-nya Boney M:

By the rivers of Babylon, there we sat down;
ye-eah we wept, when we remembered Zion.


Hampir setiap pagi Ama Imam, sang takmir masjid itu, memutar lagu pop melankolis. Suara tape recorder sederhana, belum stereo khas era 1980-an, itu dipancarluaskan ke mana-mana melalui pengeras suara TOA berwarna biru. Itu menjadi hiburan gratis buat orang-orang kampung yang memang sangat haus hiburan.

Saya ingat betul lago pop kesayangan almarhum Ama Imam Ansyar:

Kasih... apakah salahku
Begitu kejam perlakuanmu
Kasih... tegakah hatimu
Membuatku menderita
.........................


Ama Hasan, yang fisiknya kian rapuh dimakan usia, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Termasuk perkembangan masjid dan umat Islam di kampung. Termasuk Ama Nurdin yang kini menjadi imam masjid, pengganti almarhum Ama Imam Ansyar Paokuma. Saya tidak heran kalau Nurdin jadi imam masjid karena sejak dulu paling fasih mengaji Alquran.

Saking fasihnya, gaya bicara bahasa daerahnya, bahasa Lamaholot, pun cenderung berlogat Arab. Ama Nurdin ini punya adik, Muhammad Sinun, yang juga pandai mengaji. Juga paling bagus (dan kasar) kalau bermain sepak bola di kampung. Sinun ini, ketika saya masih satu SD dengan saya di Mawa, selain menendang bola, juga doyan menendang kaki lawan. Hehehe....

Masjid Mawa ini dari segi arsitektur dan sebagainya tidak istimewa. Tapi, bagi saya, Masjid Mawa justru paling istimewa di Indonesia. Ketika kaum minoritas di Pulau Jawa mengeluhkan izin pembangunan gereja [atau pura atau vihara atau kelenteng], saya selalu ingat Masjid Nurul Jannah di Mawa.

Saya pun baru sadar bahwa untuk membangun sebuah tempat ibadah, perlu izin yang berbelit-belit, setelah hijrah ke Jawa. Dan izin itu belum tentu diloloskan. Bahkan, surat izin itu bisa dicabut kembali jika warga ramai-ramai mencabut surat izin itu. Bahkan, gereja-gereja yang sudah berusia puluhan tahun, seperti di Situbondo pada Oktober 1996, bisa dirusak dan dibakar begitu saja oleh massa, sementara polisi dan tentara hanya bisa menonton dari kejauhan.

Apa keistimewaan Masjid Nurul Jannah di Desa Mawa ini:

1. Masjid Nurul Jannah dibangun justru di tengah-tengah masyarakat Desa Mawa yang hampir semuanya beragama Katolik. Umat Islam hanya beberapa keluarga saja. Orang-orang di kampung saya tidak punya fobia ISLAMISASI atau KRISTENISASI. Yang Islam, ya, tetap Islam, begitu pula juga yang Katolik. Orang-orang kampung di Lembata sejak dulu tidak pernah didoktrin untuk mencurigai orang yang berbeda agama.

2. Tidak perlu repot-repot mengurus izin, minta tanda tangan sekian puluh orang di radius sekian ratus meter dari masjid yang akan dibangun. Mengapa?

Orang Mawa justru bangga kalau di desanya ada sebuah masjid yang bagus. Ini bisa mengangkat nama kampung. Sebab, sewaktu-waktu bisa jadi tuan rumah Idul Fitri bersama, di mana umat Islam dari berbagai kampung datang untuk salat berjamaan dan merayakan pesta Lebaran.

3. Dibangun secara gotong royong oleh masyarakat. Tak pandang apa agamanya, semua masyarakat bersama-sama membangun masjid itu pada tahun 1980-an. Sebelumnya hanya ada langgar (surau) kecil berdinding gedhek atau bambu.

4. Masjid Nurul Jannah dibangun justru ketika umat Katolik, mayoritas masyarakat desa, belum punya gereja. Umat Katolik di Mawa selama bertahun-tahun jalan kaki sekitar 1,5 kilometer untuk misa atau ibadat sabda di Gereja Stasi Atawatung. Bayangkan! Tidak punya gereja, tapi malah umat Katolik di Mawa lebih memprioritaskan pembangunan masjid!

Jujur, semangat kebersamaan, bukan sekadar toleransi, macam ini tidak pernah saya temukan di tempat-tempat lain di Indonesia. Yang justru saya tangkap dalam 20 tahun terakhir ini, khususnya di Jawa, Sumatera, dan provinsi-provinsi maju lainnya, ada semangat yang menggebu-gebu untuk mempersulit izin pembangunan gereja atau rumah ibadah kaum minoritas.

Bila perlu, izin yang sudah ada dicabut, sehingga jemaat keleleran. Bahkan, ada pejabat-pejabat dan wakil rakyat yang sangat senang melihat ada jemaat yang bikin kebaktian di kebun atau jalan raya. Juga ada pejabat-pejabat yang berkomitmen tak akan mengeluarkan selembar izin pembangunan gereja selama dia berkuasa. Bagi pejabat-pejabat tertentu, yang pintar, tapi picik, kaum minoritas harus digencet sampai penyet!

4. Kepala desa saat itu, Ama Carolus Nimanuho, yang beragama Katolik, memerintahkan rakyat untuk gemohing. Sama-sama bertanggung jawab mulai dari pembuatan fondasi hingga pembangunan masjid tuntas. Maka, saya melihat sendiri warga ramai-ramai angkut pasir, batu, dan material lain untuk membangun Masjid Nurul Jannah. Saya sendiri yang masih SD pun bersama teman-teman cilik ikut mengangkut pasir dan batu itu.

5. Ketika Masjid Nurul Jannah dipercaya sebagai tuan rumah Idul Fitri bersama sekecamatan, maka panitianya adalah seluruh warga masyarakat. Kepala desa menjadi koordinator untuk menyukseskan hajatan besar itu. Dan umat Islam dari berbagai kampung yang jauh itu menginap di rumah-rumah penduduk Mawa yang sebagian besar Katolik itu.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

3 comments:

  1. Terharu sangat dengan story masjid Nurul Jannah. Indahnya keberagaman. Thanks for sharing, salam

    ReplyDelete
  2. inilah keragaman yang menentramkan hati. salam kenal saudaraku

    ReplyDelete
  3. memang ada perbedaan karakter n budaya di NTT dg di jawa. persoalan SARA di jawa sdh terlalu kompleks n kacau balau shg intoleransinya muncul di mana2. aq kira ini contoh yg bagus tapi sulit ditiru di negara yg makin kurang menghargai perbedaan ini.

    ReplyDelete