01 April 2011

Kwan im Kiong di Pamekasan




DI KALANGAN WARGA TIONGHOA DI JAWA TIMUR, KELENTENG KWAN IM KIONG PAMEKASAN PUNYA KEUNIKAN TERSENDIRI. TEMPAT IBADAH TRIDHARMA DI TEPI PANTAI TALANGSIRING, KECAMATAN GALIS, INI SELALU DIJADIKAN JUJUGAN PADA PERAYAAN DEWI KWAN IM.

Mengapa Kwan Im Kiong, yang juga dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara, selalu didatangi warga Tionghoa, khususnya yang beragama Tridharma? Apa kelebihan kelenteng ini?

Sejumlah warga Tionghoa mengaku tertarik karena rumah
ibadah ini punya sejarah yang panjang. Selain itu, ada semacam legenda atau cerita lisan yang telah berlangsung turun-temurun. "Ada sisa-sisa peninggalan budaya sejak era Majapahit," kata Liem, salah satu pengunjung Kwan Im Kiong, beberapa waktu lalu.

Alkisah, pada tahun 1800-an, seorang laki-laki bernama Pak Burung menemukan empat buah patung yang terbuat dari batu hitam yang keras di kampung Candi. Kampung atau Dusun Candi saat ini termasuk Desa Polaga di wilayah Kecamatan Galis, Pamekasan, Pulau Madura.

Candi merupakan perkampungan yang lokasinya di dekat pantai, yakni pantai Selat Madura. Pantai selatan di daerah Kabupaten Pamekasan. Pantai tersebut kemudian dikenal sebagai Pantai Talang. Pantai Talang ini merupakan pantai yang landai dan bagus pemandangannya. Termasuk juga digunakan sebagai pelabuhan.

Karena itu, tidak heran kalau sejak zaman raja-raja dulu, di pantai Talang dibangun sebuah pelabuhan. Berkat keindahan pemandangan alamnya, Pemerintah Kabupaten Pamekasan kemudian membangun tempat wisata bernama Pantai Talangsiring.

Nah, menurut cerita yang kerap dituturkan warga Tionghoa di Pulau Madura, pantai Talang pada zaman raja-raja dahulu selalu dijadikan tempat berlabuh perahu-perahu dari seluruh penjuru Nusantara. Khususnya armada Kerajaan Majapahit yang mensuplai bahan-bahan untuk keperluan keamanan ataupun spiritual di Pamekasan.

Di antaranya, pengiriman patung-patung dan perlengkapan sembahyang. Maklum, sejak ratusan tahun lalu sudah ada perantau asal Tiongkok yang mencari penghidupan di wilayah Nusantara.

Pada masa Majapahit itu berdiri Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo, sebelah barat Pamekasan pada awal abad ke-16. Kerajaan kecil ini menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto.



Para mahasiswa dan masyarakat yang beragama Islam pun sering main-main alias wisata ke sini. Jangan khawatir, ada mushala untuk salat wajib lima waktu plus salat sunnah.

AWALNYA ADA RENCANA MEMBANGUN SEBUAH CANDI DI SUATU TEMPAT YANG AGAK JAUH DARI JAMBURINGIN. NAMUN, CANDI UNTUK PEMUJAAN ALA KAWULA KERAJAAN MAJAPAHIT ITU GAGAL TERWUJUD.

Candi yang tak pernah terwujud itu disebut penduduk setempat dengan Candi Burung. Burung dalam bahasa Madura berarti gagal. Desa Candi Burung merupakan salah satu desa di Kecamatan Poppo, yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin.

Jamburingin, yang dulunya nama sebuah kerajaan kecil di Pamekasan, saat ini menjadi nama salah satu desa di Kecamatan Proppo. Selanjutnya, seperti diceritakan Kosala Mahinda, ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara, dalam situs resmi Kelenteng Kwan Im Kiong Pamekasan, raja-raja Jaburingin yang masih keturunan Majapahit, membangun candi di sebelah timur Kraton Jamburingin.

Tepatnya di kampung Gayam, kurang lebih dua kilometer ke arah timur Kraton Jamburingin. "Sampai saat ini masyarakat masih menyebut tempat tersebut Candi Gayam," katanya.

Saat ini tempat tersebut merupakan semak belukar. Namun, kita masih bisa melihat jejak sebuah candi kuno di sana. Apalagi, setelah ditemukan batu bata berukir yang diperkirakan bekas dinding Candi Gayam.

Demikianlah, kiriman patung-patung dari Majapahit ke Kraton Jamburingin sama sekali tidak terangkat setelah tiba di Pelabuhan Talang. Penduduk saat itu hanya bisa mengangkat beberapa ratus meter saja dari pantai. Karena itu, penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk mebangun candi di tempat tersebut.

Dalam perkembangannya, kejayaan Kerajaan Majapahit mulai surut. Tak berapa lama kemudian agama Islam mulai tersebar di Pulau Madura, termasuk daerah Pamekasan. Agama Islam ini mendapat sambutan yang sangat baik dari penduduk. Maka, rencana membangun candi di Pantai Talang pun tak pernah terlaksana.

Patung-patung kiriman dari Majapahit pun ditinggalkan orang. Lenyap terbenam oleh zaman dan memang benar-benar tertimbun dalam tanah tanah. Barulah sekitar tahun 1800 Pak Burung menemukan patung-patung di ladangnya.

Kabar tersebut sangat menarik perhatian penjajah Belanda. Karena itu, pemerintah Hindia Belanda meminta Bupati Pamekasan Raden Abdul Latif Palgunadi alias Panembahan Mangkuadiningrat I (1804-1842) untuk mengangkat dan memindahkan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Tetapi, karena saat itu peralatan sangat terbatas dan patung-patung tersebut sangat berat, pamindahan ke Kadipaten Pamekasan gagal pula. Maka, patung-patung tersebut tetap berada Di tempat ketika ditemukan Pak Burung.




SEKITAR 100 TAHUN KEMUDIAN, SEBUAH KELUARGA TIONGHOA MEMBELI TANAH TEMPAT DITEMUKANNYA PATUNG-PATUNG OLEH PAK BURUNG. LOKASI ITULAH YANG KEMUDIAN DIBANGUN KELENTENG KWAN IM KIONG ALIAS VIHARA AVALOKITESVARA.


Setelah dibersihkan, keluarga Tionghoa di Madura di era penjajahan Belanda itu akhirnya mengetahui bahwa patung-patung tersebut bukan sembarang patung. Ia ada kaitan dengan patung-patung khas Buddha beraliran Mahayana yang punya banyak penganut di daratan Tiongkok.

Salah satu patung penemuan Pak Burung yang berukuran besar ternyata patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara. Tingginya 155 sentimeter. Kabar ini pun tersebar luas di kalangan orang Tionghoa di Pamekasan dan Pulau Madura umumnya. Sejak itulah digagas pembangunan kelenteng untuk menampung Kwan Im Po Sat, dewi welas asih yang sangat dihormati di kalangan masyarakat Tionghoa.

"Jadi, kelenteng ini memang punya sejarah yang sangat panjang," ujar Kosala Mahinda, ketua Yayasan Avalokitesvara, pengelola Kwan Im Kiong di Dusun Candi, Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan.

Faktor sejarah dan kekhasan inilah yang juga membuat Kwan Im Kiong sejak dulu menjadi jujugan warga Tionghoa. Tak hanya di Jawa Timur, bahkan huaren-huaren dari luar Pulau Jawa pun kerap memanfaatkan kesempatan untuk datang bersembahyang di Kwan Im Kiong. Biasanya, para peziarah dari wilayah-wilayah yang jauh datang dalam rombongan besar.

Kini, setelah Pulau Madura dan Jawa dihubungkan dengan Jembatan Suramadu, praktis kunjungan wisatawan, khususnya warga Tionghoa, ke Kwan Im Kiong meningkat pesat. Hampir setiap hari ada saja warga yang mampir ke vihara di kawasan pantai wisata Talangsiring ini.

"Yah, kami penasaran sama Jembatan Suramadu, sekalian jalan-jalan ke Madura. Kwan Im Kiong memang termasuk salah satu kelenteng yang sangat dikenal umat Tridharma," ujar seorang pengunjung yang mengaku datang dari Sumatera.

Sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas penemuan patung-patung Buddhis di Dusun Candi, Pantai Talangsiring, pengelola TITD Kwan Im Kiong sejak dulu menggelar peringatan hari-hari besar yang berkaitan dengan Dewi Kwan Im secara istimewa. Dalam setahun ada tiga kali perayaan Dewi Kwan Im yang diikuti ribuan orang dengan aneka atraksi menarik.

Bukan itu saja. Semua urusan konsumsi dan akomodasi ribuan pengunjung itu pun ditanggung pengelola kelenteng.



Ini satu-satunya pura di Pulau Madura yang dibangun di kompleks Kelenteng Kwan Im Kiong.


DI TANGAN YAYASAN VIHARA AVALOKITESVARA YANG DIPIMPIN KOSALA MAHINDA, KWAN IM KIONG PAMEKASAN MAKIN DIKENAL DI TANAH AIR. KELENTENG DI PANTAI WISATA TALANGSIRING, KECAMATAN GALIS, INI JUGA MASUK MUSEUM REKOR INDONESIA.

Bagi Kosala Mahinda, bhinneka tunggal ika tak sekadar slogan atau basa-basi belaka. Penghormatan terhadap keberagaman, kemajemukan, masyarakat Indonesia tercermin di dalam kompleks Kwan Im Kiong.

Sebagai sebuah kelenteng atau tempat ibadah Tridharma, tentu saja Kwan Im Kiong punya fasilitas peribadatan untuk agama Samkauw: Buddha, Khonghucu, Taoisme. Namun, yang unik di Kwan Im Kiong adalah keberadaan pura dan musala.

Tak heran, tahun lalu Muri memberikan anugerah khusus kepada pengelola Kelenteng Kwan Im Kiong sebagai simbol kerukunan antarumat beragama. Menurut Kosala Mahinda, sejak dulu para pengelola kelenteng ini memang punya wawasan bhinneka tunggal ika yang kental. Semua agama atau aliran diberi tempat yang layak. "Kami hanya ingin perdamaian dan cinta kasih di antara umat manusia," ujarnya.

Karena itu, jangan heran ketika Anda berkunjung ke Kwan Im Kiong, Anda akan melihat kesibukan para peziarah dengan cara beribadahnya yang khas. Umat Khonghucu langsung mengambil posisi di lithang yang luas, dekat pintu masuk. Ada lukisan jumbo menggambarkan Nabi Kongzi bersama pengikut-pengikutnya. Para konfusian pun berdoa dengan khusyuk di lithang itu.

Kesibukan serupa diperlihatkan peziarah yang Buddhis dan Taois. Mereka langsung menuju ke rumah ibadah mereka, lengkap dengan altar dan rupang-rupangnya. Umat Hindu pun punya pura yang cukup asri. Hanya saja, pura ini biasanya lebih sepi ketimbang lithang, kelenteng, vihara, atau musala. "Tapi tetap saja ada orang Hindu yang datang beribadah di pura," kata Kosala.

Maklum, sampai sekarang di seluruh Pulau Madura, yang terdiri dari empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) hanya ada satu tempat ibadah untuk umat Hindu. Yakni, pura kecil yang dibangun di dalam kompleks Kwan Im Kiong. Pihak Muri Semarang pun terkagum-kagum melihat kenyataan ini.

Lantas, bagaimana dengan musala? Nah, tempat ibadah untuk umat Islam ini juga sangat penting mengingat tak sedikit pengunjung yang beragama Islam. Selain pelajar, mahasiswa, atau rombongan wisatawan, banyak pula sopir maupun tim pendukung grup seni budaya yang beragama Islam. Mereka tentu membutuhkan musala yang layak untuk menjalankan salat lima waktu.

"Mungkin baru di Pamekasan ini ada sebuah kelenteng yang punya tempat ibadah untuk lima agama sekaligus," ujar Paulus Pangka, staf Muri Semarang. (*)

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

5 comments:

  1. wah ini satu2nya pura di tanah madura ya om..salut sama pluralisme orang Tionghoa..salam

    ReplyDelete
  2. Membanggakan, saya tidak pernah mengerti sejarah ini meski boleh dikata cukup sering ke Pamekasan. Tetap semangat Kosala, semoga makin mewarnai kehidupan beragama di Indonesia.

    ReplyDelete
  3. namo amituofo, sudah lama saya tidak kesana, pengen kesana, semoga senantiasa banyak keberkahan buat kita semua

    ReplyDelete
  4. semoga daerah lain mengikuti langkah-langkah yang baik seperti ini yaitu bineka tunggal ika. sehingga semua bisa hidup berdampingan dengan aman dan bahagia

    ReplyDelete
  5. desember 2012 saya datang dari tangerang kesana, pertama kali datang tempat ini begitu religious dan sangat menghargai perbedaan. Karena disana terdapat mushollah,candi untuk umat hindu dan tentu saja kelenteng. Saya senang sekali bisa berkunjung kesana,semoga saya bisa berkunjung lagi kesana. omitofo.

    ReplyDelete