22 March 2011

Krisis Air di Ile Ape



Semalam saya menyunting artikel opini karya seorang dosen di Surabaya tentang hari air sedunia. Ah, saya baru sadar kalau di dunia ini ada peringatan hari air. Macam-macam sajalah hari-hari yang dirayakan orang.

Hari air. Hari anak. Hari perempuan. Hari ibu. Hari remaja. Hari listrik. Hari buruh. Hari pengusaha. Mungkin sebentar lagi ada hari kayu, hari tanah, hari udara, hari komputer, hari rumah, hari ikan, hari sapi...

Si penulis opini itu membahas krisis air bersih di Kota Surabaya. Bahan baku air PDAM Surabaya menggunakan air Kali Surabaya. Sementara kualitas air Kali Surabaya sendiri sangat buruk. Sudah lama tercemar limbah domestik dan industri. Ikan-ikan saja, katanya, banyak yang mati.

Kok manusia-manusia di Surabaya yang jumlahnya hampir empat juta orang itu mengonsumsi air PDAM berbahan baku air Kali Surabaya? Dia minta pemerintah supaya memperhatikan betul masalah air bersih ini. Sudahlah, kita belum berani bicara air minum – air keran yang bisa langsung minum – karena terlalu muluk. Masalah air bersih untuk mandi saja kita sudah setengah mati.

Saya langsung teringat persoalan air di daerah Ile Ape, Pulau Lembata di NTT. Daerah saya ini dikenal berlimpah-limpah air, tapi... AIR LAUT. Setiap hari kita dengar deru ombak dan gelombang. Macam-macam ikan ada di sana. Tapi bagaimana dengan air bersih untuk minum dan mandi?

Bukan saja krisis, tapi lebih dari krisis. Berjuta krisis! Orang di sana tidak pernah melihat yang namanya sungai. Sumur pun sangat-sangat langka. Ada desa yang tak punya satu pun sumur seperti di Mawa. Kalaupun menggali sumur, yang diperoleh hanyalah air asin. Air laut. Maka, penduduk Desa Mawa alias Napasabok harus berjalan kaki ke Atawatung untuk menimba air sumur. Kira-kira lima kilometer pergi-pulang.

Sejak beberapa tahun lalu, ada usaha untuk menampung air hujan. Rumah-rumah menyediakan bak khusus penampung air hujan. Lumayan. Masalah air bersih sedikit banyak bisa diatasi. Tapi, ya, tetap saja tidak normal kalau manusia harus minum air hujan setiap hari sampai bertahun-tahun. Sampai ajal menjemput.

Pemerintah Kabupaten Lembata bukan tak tahu persoalan air minum yang akut di Ile Ape. Sejak dulu ada wacana untuk mengalirkan air dari kecamatan lain yang punya sumber air. Wacana ini sejak 1980-an, ketika Lembata masih jadi satu dengan Kabupaten Flores Timur, kencang terdengar. Khususnya ketika Anton Langoday menjabat bupati Flores Timur. Sebagai orang Ile Ape, Pak Langoday tentu tahu betapa runyamnya krisis air minum di kecamatannya.

Bupati pun ganti beberapa kali. Lembata jadi kabupaten sendiri. Program air bersih di Ile Ape pun diangkat lagi. Di era Bupati Ande Manuk yang menjabat selama 10 tahun, dan sebentar lagi lengser, wacana pengadaan air di Ile Ape mulai direalisasikan. Entah apa petimbangannya, pemkab bikin proyek penyulingan air laut. Nama resminya. Pengolahan Air Laut Menjadi Air Tawar.

Air laut yang berlimpah ruah itu diproses, didestilasi, kadar garamnya dihilangkan, sehingga jadi air tawar. Instalasinya dibangun di pinggir pantai Bungamuda, yang juga kampung halaman Pak Bupati. Biayanya, yang terbaca di plang, sekitar Rp 10 miliar. Ini hanya tahap kedua. Pastilah total anggaran jauh lebih besar dari itu. pelaksana proyek: PT Wahana Tirta Persada.

Apakah proyek air minum berbahan baku air laut di Bungamuda ini efektif? Disukai masyarakat? Menjawab krisis air di Ile Ape, khususnya di Bungamuda, Lamawara, Lewotolok, Waowala, Tanjungbatu, Atawatung, Ebak, hingga Tokojaeng?

Seharusnya demikian. Bukankah ‘air tawar’ eks air laut sudah bisa masuk kampung? Dengan debit yang besar pula? Sayang, ketika saya pulang kampung awal tahun 2011 ini, rakyat jelata di kampung terkesan tidak puas. Pejabat-pejabat di beberapa desa yang jadi target proyek besar ini pun kurang sreg.

Orang-orang kampung malah takut minum air tawar olahan dari air laut ini. Macam-macam saja gosip yang beredar di kampung. Air itu penuh bahan kimia. Bisa merusak organ tubuh kalau dikonsumsi dalam waktu lama. Yang pasti, penduduk desa tetap saja minum air sumur meskipun harus berjalan jauh untuk menimba. Orang lebih asyik minum air hujan yang sebenarnya belum memenuhi syarat sebagai air minum yang baik.

“Proyek air di Bungamuda yang makan uang miliaran rupiah itu sia-sia,” kata beberapa ‘orang pintar’ asal Ile Ape di Kupang, ibu kota NTT.

Mereka mengkritik keras proyek penyulingan air laut dengan sistem SW-RO yang ternyata sudah dicoba di Kabupaten Alor, tapi gagal. Lha, kalau sudah gagal di Alor, kenapa masih juga dicoba di Lembata? Berapa tahun usia pakai sistem itu?

Apakah konsumen (rakyat jelata) sudah dikasih informasi sejelas-jelasnya, termasuk efek samping, mengonsumsi air laut yang ditawarkan itu? Maka, seperti biasa, para pengamat di Kupang menganggap instalasi yang dipasang di Bungamuda itu tak lebih hanyalah proyek belaka. Yang kipas-kipas uang tentunya kontrak, subkontraktor, serta oknum-oknum pejabat dan keluarganya.

Lantas, apa yang diinginkan rakyat kecil di kampung? Sederhana saja. Rencana lama itu supaya dilaksanakan. Yakni, mengalirkan air bersih melalui pipa-pipa yang sebenarnya sudah tersedia. Bukan menyuling air laut seperti yang ada sekarang.



KOMUNIKASI. Lagi-lagi komunikasi menjadi masalah besar di Lembata. Komunikasi antara rakyat dan pejabat, yang nota bene sama-sama etnis Lamaholot dan masih punya hubungan keluarga itu memang sangat buruk. Pejabat sangat sulit mendengar apa maunya rakyat. Rakyat, karena itu, selalu mencurigai pejabat-pejabat yang boleh jadi punya keinginan mulia untuk memakmurkan rakyatnya.

Kontroversi soal tambang mineral di Lembata selama bertahun-tahun pun tak lepas dari buruknya kualitas komunikasi. Pejabat-pejabat pemkab, khususnya Pak Bupati, mungkin punya niat baik, tapi pesannya tak sampai ke masyarakat. Rakyat curiga ada apa-apa di balik kengototan pemkab mengegolkan proyek tambang di Lembata.

Yah, semoga saja bupati Lembata yang baru bisa menuntaskan begitu banyak persoalan lama di kampung halaman kita. Dan semoga rakyat Ile Ape dalam 10 tahun ke depan sudah bisa menikmati air bersih yang bukan hasil desalinasi air laut!

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

2 comments:

  1. hi mas salam kenal Y...
    sama sama dari lembata ni

    ReplyDelete
  2. sebetulnya pemerintah dan masyarakat serta pihak swasta berperan. Ile ape dan ile ape timur secara geologis memiliki kuantitas airtanah yg relatif banyak sayang kualitas airtanahnya buruk. Dari hasil penelitian Bello 2012 kandungan unsur klor dan flourida airtanah di Ile ape timur sangat tinggi (jangan tanya kenapa orang ile ape dg ciri khas gigi seperti itu, dan itulah jawabannya, kondisi geologi setempatlah yg berperan mengontrolnya). Sekarang berani atau tidak pemerintah menggelontorkan dana untuk penelitian terkait airtanah kepada para profesional untuk mengatasi masalah air ini.

    ReplyDelete