13 March 2011

Kolekte Rp 5.000 dan Rp 500.000




Orang Flores yang baru pertama kali ikut misa di gereja-gereja di kota besar macam Surabaya, Jakarta, Semarang, atau Jogjakarta biasanya terkagum-kagum dengan kolekte. Jumlah uang kolekte yang terhimpun di Jawa memang bukan main besarnya, tentu saja dibandingkan dengan kolekte di NTT.

“Ini bukti bahwa umat Katolik di Jawa sangat peduli pada perkembangan gereja mereka. Kita di sini pun harus belajar untuk memberi. Menyisihkan sedikit uang untuk kolekte,” begitu omongan yang saya dengar dari beberapa tokoh umat ketika saya pulang kampung di Flores Timur belum lama ini.

Biasanya, cerita tentang kehebatan kolekte di Jawa selalu dijadikan bahan untuk memotivasi umat Katolik di Flores untuk rajin memberikan sedekah atawa kolekte. Bahwa gereja hanya bisa hidup dan berkembang jika didukung umat. Dan dukungan itu tak hanya sekadar omongan, pidato, tapi juga materi alias uang.

Sudah hampir 40 tahun tak ada lagi kiriman uang dan material dari luar negeri, khususnya Belanda dan Jerman, untuk gereja-gereja di Flores. Gereja-gereja di Indonesia harus bisa mandiri. Pastor-pastor harus dikasih makan. Gereja yang rusak di Flores Timur harus diperbaiki sendiri. Tidak bisa lagi minta tolong romo-romo misionaris yang kaya macam Pater Geurtz SVD, Pater Willem van der Leur SVD, Pater Eugene Schmidtz SVD, Pater Lorentz Hambach SVD, Pater Trumer SVD, Pater Dupont SVD, atau Pater Bode SVD yang semuanya sudah lama kembali ke Rumah Bapa.

Bicara soal kolekte dan support untuk gereja, umat Katolik di Jawa memang hebat. Kolekte di kota-kota besar, khususnya di “gereja-gereja elite” memang dahsyat. Gereja seperti bisa bikin apa saja dengan aliran duit yang sangat lancar. Gereja benar-benar mandiri, bahkan bisa menyisihkan sebagian dana untuk subsidi silang ke gereja-gereja miskin di pedesaan.

Misa hari Minggu di gereja-gereja Katolik di Surabaya Raya [ada 17 paroki di Surabaya, 3 paroki di Sidoarjo, 1 paroki di Gresik] paling sedikit tiga kali. Di Katedral Surabaya, bahkan digelar misa enam kali. Ditambah misa pemberkatan pernikahan, ya, bisa delapan atau sembilan kali. Bisa dibayangkan berapa banyak kolekte yang masuk.

Minggu pagi (13 Maret 2011), seperti biasa, saya ikut misa di Gereja Paroki Santa Maria Tak Bercela. Gereja Ngagel ini termasuk salah satu ‘gereja kaya’ di Surabaya. Tapi secara pribadi saya kurang sreg dengan cara menghimpun kolekte ala Ngagel. Mereka tidak pakai kantung kain macam di gereja-gereja lain, tapi wadah terbuka dari plastik.

Karena itu, duit kolekte yang masuk ke wadah itu bisa dilihat secara telanjang. Secara psikologis, orang sungkan kalau hanya menyetor Rp 5.000 atau Rp 10.000 ketika melihat umat di sebelah kasih Rp 100.000. Sistem kolekte terbuka ini memang efektif untuk memperbesar jumlah kolekte, tapi kurang enak bagi umat yang duitnya pas-pasan.

Tadi pagi, saya kembali dibuat tak berkutik ketika melihat umat yang duduk bersebelahan dengan saya memberikan kolekte Rp 500.000. Ayah, ibu, dan tiga anak masing-masing memasukkan uang Rp 100.000 ke dalam wadah plastik berwarna biru itu. Apa boleh buat, saya hanya bisa kasih Rp 10.000. Mau ambil Rp 50.000 kok dompetku sudah tipis. Hehehe....

Tentu saja, kita semua senang kalau umat berlomba-lomba memberikan duit banyak untuk kolekte di gereja. Tapi, menurut saya, wadah penampungan uang kolekte yang terlalu terbuka kurang enak bagi umat berpenghasilan pas-pasan. Bukan tidak mungkin orang miskin enggan ke ikut misa di gereja karena sungkan dengan kolekte.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

4 comments:

  1. Markus 12:41-44. Yesus memuji janda miskin yang memberikan sedikit, tapi dari kekurangannya. Sedangkan orang kaya memberikan banyak, tapi dari kelebihannya. Jadi Bung, di mata Tuhan itu relatif, tidak absolut.

    Kalau sungkan, masukkan saja di dalam amplop. Selain itu, apakah nggak ada jalur beramal lain di luar gereja?

    ReplyDelete
  2. Saya setuju dengan Bung George..Sebesar apapun pemberian atau derma yang kita berikan tak akan membuat Tuhan memalingkan wajah-Nya terhadap kita. Tuhan lebih melihat hati daripada uang...

    ReplyDelete
  3. kolekte itu tergantung kemampuan. cara pengumpulan memang macam2..

    ReplyDelete
  4. wk wk. kayaknya NTT belum merasakan yang kayak begitu pak. kalo grj katedral kupang, dan st familia sikumana, st yoseph naikoten dan beberapa gereja lain sudah tembus juta. yang lain mah, juta nya ya tetap hitung. kayak 1/4 juta.wk wk...tapi beginilah kondisi kami.kalo kolekte yang bpk kasih 10 rb, berbeda dengan kami yang selalu kasih cuma 1 rb saja. itu juga musti minta mama dulu...

    ReplyDelete