Kiprah etnis Tionghoa dalam pentas sejarah Indonesia makin terkuak. Salah satu pemimpin Tionghoa melawan pasukan VOC adalah Souw Phan Ciang alias Khe Panjang atau Kapitan Sepanjang.
Kapitan Sepanjang menjadi panglima besar dalam Perang Sepanjang di Batavia, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur pada 1740-1743. Selama tiga tahun Kapitan Sepanjang berkolaborasi dengan pasukan Mataram (Jawa) dan Madura untuk berperang melawan tentara VOC.
Fakta sejarah ini dipaparkan Daradjadi Gondodiprojo saat meluncurkan bukunya yang berjudul Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa Lawan VOC di Toko Buku Petra-Toga Mas, Jl Pucang Anom Timur 5 Surabaya, kemarin (26/2/2011).
Acara launching dan bedah buku ini dihadiri sekitar 150 peserta. Hadir sejumlah tokoh Soerabaia Tempo Doeloe seperti Eddy Samson, Oei Hiem Hwie, Suparto Brata, serta Henry Najoan.
Daradjadi mengaku menggunakan berbagai dokumen dan arsip kraton untuk membabarkan kiprah etnis Tionghoa dalam perjuangan melawan eksploitasi kompeni Belanda itu. Di antaranya, Babad Tanah Jawi, Babad Pangeran Sambar Nyawa, serta arsip-arsip penting kraton.
“Saya ingin menyumbangkan informasi kepada masyarakat tentang salah satu perang yang jarang dibahas orang. Bahkan, tidak pernah diajarkan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah,” kata Daradjadi.
Perlawanan warga Tionghoa terhadap kompeni di Batavia, menurut Daradjadi, meletus ketika tentara VOC menangkap warga Tionghoa pada Februari 1704. Bertepatan dengan tahun baru Imlek, sekitar 100 orang Tionghoa di Bekasi dan Tanjung Priok. Pihak Tionghoa melawan dengan menyerang penjara untuk membebaskan kawan-kawannya.
“Pemimpinnya tak lain Kapiten Sepanjang,” papar Daradjadi. Para petinggi VOC pun panik. Rumah-rumah warga Tionghoa pun digeledah. Karena tak berhasil menemukan pemberontak, VOC mulai melakukan pembantaian massal warga Tionghoa di Jakarta. Represi VOC ini tak ayal membangkitkan perlawanan semua warga Tionghoa di Jawa.
Perlawanan hebat kaum Tionghoa ini terus bergeser hingga ke Jawa Tengah. Pasukan Tionghoa yang bekerja sama dengan pasukan Mataram kemudian berperang habis-habisan melawan Belanda. Bahkan, mereka dibantu pasukan Cakraningrat IV dari Madura. Meski akhirnya kalah, pasukan Tionghoa-Jawa-Madura ini sempat membuat VOC kocar-kacir. Kapiten Sepanjang ‘menghilang’ ke Bali dan baru diketahui keberadaannya pada 1758.
Prof Dr Wasino dari Universitas Negeri Semarang, yang menjadi salah satu pembahas, menilai Sepanjang sudah sangat layak diangkat sebagai pahlawan nasional. Sebab, hampir semua kriteria pahlawan nasional sudah dipenuhi Sepanjang.
“Perjuangan Sepanjang ini bukan hanya sesaat, tapi terus-menerus. Dia juga berjuang bersama etnis lain dan tidak pernah menyerah,” tegasnya.
Prof Wasino menilai buku karya Daradjadi ini berhasil menyajikan sisi lain etnis Tionghoa yang selama ini diabaikan dalam sejarah Indonesia. “Cap bahwa orang Tionghoa hanya berdagang dan mencari keuntungan akan hilang setelah orang membaca buku Pak Daradjadi ini,” tegasnya. (*)
COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

0 comments:
Post a Comment
Silakan menulis komentar Anda di dalam kotak.Terima kasih banyak.