01 March 2011

Gereja Ebak di Lembata




Jalan kaki dari Lamawara ke Ebak di Ile Ape Timur, Pulau Lembata, NTT, cukup melelahkan. Sekitar tujuh atau delapan kilometer. Lebih capek lagi karena harus pulang-pergi. Tapi, dasar sudah niat, rasa capek tak saya rasakan.

Saya justru bisa melihat pemandangan alam, debur ombak, batu-batu besar, pohon lontar, hingga pohon kelor yang tengah hijau-hijaunya. Maklum, saat itu, di awal tahun 2011, curah hujan cukup memadai di Ile Ape yang biasanya gersang itu.

Mengapa harus jauh-jauh ke Ebak, jalan kaki pula? Saya memang ingin sekali melihat kondisi gereja mungil, Gereja Stasi Ebak, yang tempo doeloe cukup cantik. Bangunannya bundar, beda dengan gereja-gereja stasi lain di Ile Ape. Bagaimana kondisinya sekarang?

Akhirnya, saya tiba juga di Desa Aulesa, nama lain Ebak. Tak banyak orang yang saya temui di jalan raya. Cuma, dari kejauhan saya dengar perang mulut antarsuami-istri khas kampung. Saling berbalas kata-kata kasar dan tak patut. Di pelosok kampung di Lembata memang nyaris tak ada rahasia di dalam keluarga. Semua orang tahu hampir semua kejadian di rumah tangga orang lain.

Orang-orang di luar Jawa memang belum mengenal apa yang disebut ‘ranah publik’ dan ‘ranah privat’. Campur-baur begiru saja. Maka, jangan heran kalau pejabat-pejabat di NTT, mulai gubernur, bupati, sampai camat, bisa dengan mudah memasukkan sanak familinya sebagai PNS, pegawai negeri sipil. Itulah sebabnya pemberantas KKN, khususnya nepotisme, menjadi sangat sulit di bumi NTT.

Nah, di pinggir pantai itu saya berdiri persis di muka Gereja Stasi Ebak. Bentuknya tak lagi bunder. Jauh lebih besar dan gemuk. Bisa jadi karena umatnya tambah banyak. Atau, untuk menampung umat dari stasi-stasi lain ketika Ebak jadi tuan rumah perayaan Natal atau Paskah. Di Ile Ape memang ada tradisi mengadakan misa raya bersama pada Natal dan Paskah secara bergiliran.

Saya benar-benar pangling. Pemandangan alam di sekeliling Gereja Ebak sudah berubah total. Termasuk jalanan yang sepi. Saya pun tak bisa berbincang dengan orang Ebak. Beda dengan gereja-gereja di Jawa yang selalu terbuka dan ada penjaga atau karyawan, juga puluhan umat yang beraktivitas setiap hari, gereja-gereja stasi (kampung) di NTT hanya buka hari Minggu.

Di luar hari Minggu atau hari besar kristiani, gereja-gereja ditutup rapat. Maka, saya tak bisa melihat interior Gereja Ebak seperti apa. Juga tak bisa berdoa singkat Bapa Kami dan Salam Maria seperti yang dilakukan orang-orang Lembata umumnya.

Setelah ‘pamit’ sama bangunan kosong itu, saya pun pulang. Jalan kaki lagi!

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment