27 March 2011

Frans Limahelu - Yayasan Caraka Mulia




Mulai Senin (28/3/2011), Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia-Belanda (YPKIB) resmi bersalin rupa menjadi Yayasan Caraka Mulia (YCM). Kantor pusatnya pun tak lagi di Jl Cokroaminoto, tapi di Jl Wahidin 36 Surabaya.

Oleh Lambertus Hurek


MENURUT rencana, yayasan yang fokus pada pengembangan bahasa dan kebudayaan Belanda ini akan diresmikan oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd De Zwaan. Kemarin, Ketua YCM Prof Dr Frans Limahelu bersama sejumlah stafnya sibuk mempersiapkan acara grand opening YCM yang ditandai dengan pameran foto bertajuk Hikajat Kalimas dan Soekoe Djawa di Soeriname.

Di sela-sela persiapan peresmian tersebut, Frans Limahelu menyempatkan diri melayani wawancara dengan saya. Frans didampingi Listya Sidharta dan Mario Rawung, dua staf YCM. Berikut petikannya:

Mengapa YPKIB berubah menjadi YCM?

Kami berusaha menyesuaikan diri dengan undang-undang yayasan yang baru. YPKIB memang perlu disesuaikan agar bisa berkiprah dengan optimal. Tapi, secara umum kegiatan-kegiatan YCM hampir sama dengan YPKIB. Kami tetap menyediakan perpustakaan, mengadakan kursus bahasa Belanda, aktivitas kebudayaan dan kesenian, menyediakan saluran televisi Belanda, dan sebagainya.

Apakah YCM punya hubungan dengan Kedubes Belanda?

Tidak ada hubungan langsung. YCM ini mandiri, otonom, termasuk dalam urusan finansial. Pihak Kedutaan Besar Belanda lebih berperan sebagai fasilitator. Tugas kami semacam agen kebudayaan Indonesia-Belanda. YCM berusaha menjadi jembatan yang baik antara masyarakat Indonesia dan Belanda. Misi yang sudah dirintis oleh YPKIB itu akan terus dikembangkan oleh YCM.

Pameran foto-foto tempo doeloe ini inisiatif Kedubes Belanda atau YCM?

Jelas YCM dong! Dua minggu lalu, kami bikin pameran foto untuk memperkenalkan YCM kepada masyarakat Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Semacam soft opening lah. Ternyata, sambutan masyarakat cukup baik. Maka, untuk upacara peresmian hari Senin, pameran foto kembali kami adakan. Kami bekerja sama dengan Hans Edward yang punya koleksi foto-foto bagus Surabaya tempo doeloe.

Kami ambil tema Hikajat Kalimas untuk menggambarkan betapa pentingnya Kalimas sebagai lalu lintas perdagangan di Surabaya tempo doeloe. Belakangan, kami juga bekerja sama dengan Matte Soemoprawiro, fotografer asal Suriname. Foto-foto ini menceritakan perjalanan dan kehidupan orang Jawa yang berada di Suriname.

Apakah YCM masih menyelenggarakan kursus bahasa Belanda?

Tentu saja. Dan di Indonesia ini hanya ada dua tempat kursus bahasa Belanda, yakni satu di Jakarta dan satunya lagi di YCM Surabaya. Syukurlah, peminat kursus bahasa Belanda di Surabaya termasuk lumayan banyak. Tahun lalu ada 500 peserta lebih.

Mengapa minat masyarakat untuk belajar bahasa Belanda kalah jauh dibandingkan bahasa Inggris atau Mandarin?

Pertimbangan bisnis. Orang-orang sekarang yang belajar bahasa asing itu kan melihat dulu prospek ekonomi ke depan. Bahasa Inggris lebih diutamakan karena sudah lama menjadi bahasa internasional. Dengan menguasai bahasa Inggris, maka otomatis komunitas pergaulan dan relasinya menjadi semakin luas. Sementara bahasa Belanda hanya digunakan di lingkungan yang terbatas. Perusahaan-perusahaan Belanda yang masih bertahan di Indonesia pun tinggal sedikit, seperti Unilever atau Philips.

Perguruan tinggi di Belanda sendiri juga kabarnya menyelenggarakan kuliah dalam bahasa Inggris. Sehingga, mahasiswa-mahasiswa Indonesia tidak ‘dipaksa’ untuk menguasai bahasa Belanda.

Memang. Dua puluh tahun lalu perguruan-perguruan tinggi di Belanda menyelenggarakan kuliah dalam bahasa Belanda. Tapi memang dalam 20 tahun terakhir, bahasa Inggris juga mulai digunakan secara luas. Dan itu ada kaitannya dengan Uni Eropa. Nah, dengan adanya Uni Eropa, maka bahasa Inggris digunakan sebagai sarana komunikasi masyarakat di negara-negara Uni Eropa. Dengan sendirinya, peranan bahasa Belanda semakin berkurang.

Lantas, apakah bahasa Belanda masih dibutuhkan orang Indonesia hari ini?

Jelas masih dibutuhkan. Jangan lupa, apa yang kita pelajari di sekolah-sekolah atau kampus di kita hampir semuanya berasal dari Belanda. Sistem pendidikan kita, administrasi negara, provinsi, kabupaten.. bahkan Undang-Undang Dasar 1945 itu disusun oleh orang-orang yang berlatar belakang pendidikan Belanda. Itu fakta sejarah yang tidak bisa kita abaikan.

Kemudian soal air atau banjir. Belanda itu negara yang paling ahli dalam mengelola air, manajemen banjir. Bagaimana membangun kanal-kanal, saluran air, agar agar kota tidak kebanjiran. Kita di Surabaya bisa belajar banyak dari Negeri Belanda. Dan itu berarti kita perlu menguasai bahasa Belanda. Bukan hanya bahasa Belanda modern, tapi juga bahasa Belanda versi lama. (rek)

Tentang Frans Limahelu

Nama : Prof Dr Frans Limahelu SH LLM
Lahir : Surabaya, 16 April 1940
Anak : 2 orang
Pekerjaan : Dosen FH Universitas Airlangga
Jabatan : Ketua Kajian Konstitusi Unair
Organisasi : Ketua Yayasan Caraka Mulia
Hobi : Bersosialisasi, cangkrukan

Pendidikan
Lagere School Surabaya
SMP Kristen Petra, Embong Wungu, Surabaya
SMAK Sint Louis Surabaya
FH Universitas Airlangga
Master Hukum (S-2) di USA
Doktor Hukum (S-3) di Universitas Airlangga



Tak Suka Dipanggil Profesor

ORANGNYA low profile, suka bersosialisasi, mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Meskipun bergelar profesor dan doktor ilmu hukum, Frans Limahelu kurang suka disapa dengan gelar profesor, doktor, dan sejenisnya. Pria berdarah Maluku ini lebih suka disapa Pak Frans. Tidak perlu embel-embel gelar akademik yang panjang itu.


“Buat apa membawa-bawa gelar profesor ke mana-mana? Toh, saya ini sebetulnya sudah pensiun dan sekarang jadi pegawai outsourcing di Unair,” kata Frans seraya tersenyum. “Jadi, apa bedanya seorang profesor emeritus dengan karyawan outsourcing di pabrik-pabrik?” tambahnya.

Setelah pensiun tahun lalu, Frans Limahelu masih diminta almamaternya, Fakultas Hukum Universitas Airlangga, untuk menjadi guru besar. Profesor emeritus?

“Hehehe... Emeritus itu kan cuma istilah sopannya saja. Artinya, sudah pensiun dan sekarang menjadi pegawai outsourcing,” katanya enteng.

Nah, di sela-sela waktu luangnya yang kian banyak, setelah resmi menjadi emeritus itu, Frans diminta untuk membantu Yayasan Caraka Mulia (YCM). Yayasan yang beralamat di Jalan Wahidin 36 Surabaya ini merupakan metamorfosis Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia-Belanda. YCM ini umumnya diperkuat para alumni lembaga pendidikan di Negeri Belanda dan kalangan penutur bahasa Belanda alias Hollands-spreken.

“Saya tidak pernah studi di Belanda. Saya malah mengambil master di negaranya Barack Obama,” kata ayah dua anak ini. “Makanya, saya sendiri juga heran, kok diminta mengurus YCM,” tambahnya.

Yang menarik, meskipun tak pernah mencicipi studi di Negeri Belanda, kemampuan bahasa Belanda Frans Limahelu jangan diragukan lagi. Dia fasih ber-Hollands-spreken dengan meneer-meneer dari negara kincir angin itu. Ternyata, kemampuan berbahasa Belanda ini diperoleh Frans ketika duduk di Lagere School, semacam sekolah dasar pada tahun 1940-an di Surabaya.

“Itu pun sampai kelas lima saja pelajaran-pelajaran diberikan dalam bahasa Belanda. Mulai kelas enam pelajaran harus diberikan dalam bahasa Indonesia,” tutur pria yang senang menikmati musik itu.

Rupanya, bekal pengenalan bahasa Belanda di masa transisi antara Hindia-Belanda dan awal kemerdekaan ini begitu membekas di kepala seorang Frans Limahelu. Bahasa itu kemudian benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi Frans dengan para penutur bahasa Belanda di Kota Surabaya. “Jadi, keliru kalau saya dianggap alumni perguruan tinggi Belanda,” katanya. (hurek)


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comment:

  1. selamat untuk yayasan caraka mulia. thanks untuk mas hurek atas catatannya yang bernas.

    ReplyDelete