01 March 2011

Atawatung Kampung Eksotik



Gereja Stasi Maria Perantara Atawatung di Lembata, NTT, yang tergolong bagus dibandingkan gereja-gereja stasi lain di pelosok NTT. [foto: Lambertus Hurek]


Gereja Atawatung di Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, NTT, memang sangat menarik. Terletak di pinggir laut, yang dipenuhi bebatuan, gereja Katolik ini punya arsitektur menarik.

Tinggi menjulang, sangat indah. Gereja Atawatung ini tak kalah indah dengan gereja-gereja di Pulau Jawa, termasuk gereja-gereja peninggalan Belanda. Jika ada semacam perlombaan di Lembata, saya bisa pastikan Gereja Atawatung termasuk salah satu gereja terbaik.

“Gereja ini kami bangun dengan swadaya masyarakat. Juga ada sedikit sumbangan dari donatur,” kata Daniel Demong Benikakan, salah satu tukang, yang juga penduduk asli Desa Lamagute, kepada saya.

Penggarapan dilakukan dengan cara manual. Tak ada alat-alat berat, alat bantu untuk menggarap menara yang menjulang macam di kota-kota besar. Semuanya digarap ala tukang-tukang kampung tempo doeloe. Tapi hasilnya, seperti saya saksikan sendiri, sungguh luar biasa. Dari luar, dalam... semuanya istimewa.

“Gereja Atawatung itu paling bagus di seluruh Ile Ape dan Ile Ape Timur,” puji beberapa orang kampung yang berada di Kupang.

Dan, itu sebabnya, saya merasa perlu jalan kaki dari Bungamuda ke Atawatung [sekitar 2,5 kilometer] untuk memotret Gereja Atawatung.

Gereja Atawatung, bagi saya pribadi, merupakan gereja paling berkesan dalam hidup saya. Di masa kecil, kami yang tinggal di Mawa (desa Napasabok), tetangga Atawatung, harus beribadah di situ. Perayaan ekaristi, ibadat sabda tanpa imam. Saya dipermandikan, sambut baru, mempelajari berbagai tradisi Katolik di Atawatung. Saya jadi hafal lagu-lagu gregorian versi Syukur Kepada Bapa juga di Gereja Atawatung ini.

Pemberkatan nikah alias sakramen pernikahan penduduk Mawa diterimakan di Gereja Atawatung. Kedua mempelai, para saksi, keluarga, umat... harus jalan kaki ramai-ramai ke Atawatung. Pengalaman yang tak pernah hilang dari ingatan saya meskipun saat ini penduduk Mawa sudah punya gereja sendiri, Gereja Stasi Mawa yang dulunya balai desa.

Nah, Gereja Atawatung yang cantik ini merupakan hasil renovasi total. Bangunan lama dibongkar habis. Kemudian di lokasi yang sama dibangun gereja baru dengan model konstruksi yang mirip, tapi lebih modern. Ini agar nuansa gereja lama yang dirintis misionaris-misionaris SVD macam Pater Lorentz Hambach SVD, Pater Lambertus Paji Seran SVD, Pater Geurtz SVD, Pater Willem van der Leur SVD, dan beberapa pater lama tidak hilang begitu saja.

Saya yang lama merantau pun tidak pangling dengan Gereja Atawatung. Sayang, saya tidak sempat ikut misa di dalamnya karena di Minggu pagi itu saya sudah misa di Gereja Mawa. Seharusnya saya ikut misa di Gereja Atawatung sekalian bernostalgia dengan masa-masa SD dulu.

Masa ketika lagu KEPADAMU BUNDA PERAWAN menjadi lagu paling favorit penduduk Atawatung dan Mawa. Masa ketika suara emas Kak Fransiska Ola, solis favorit dari Atawatung, sangat digandrungi umat di sana. Masa ketika Pater Geurtz selalu meminta umat untuk antre di depan Gereja Atawatung dan mengumpulkan batu-batu kecil (kerikil).

“Sambut taruh batu! Sambut taruh batu!” kata Pater Geurtz.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment