20 March 2011

Alim Markus - Pengusaha Fuqing




Chief Executive Officer (CEO) Grup Maspion Alim Markus menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas 17 Agustus Surabaya, Sabtu (12/3/2011). Pria 59 tahun ini dinilai sebagai pengusaha nasionalis yang peduli terhadap dunia pendidikan dan kewirausahaan di tanah air.

Oleh LAMBERTUS HUREK


“SAYA ini lebih cocok dikasih gelar doktor humoris causa, bukan doktor honoris causa,” ujar Alim Markus lantas tertawa lepas.

Yang jelas, setelah mendapat gelar bergengsi ini, Mr Liem, sapaan akrabnya, berencana mendirikan Alim Markus Student and Entrepreneur Center untuk menularkan jiwa entrepreneurship kepada para mahasiswa di Surabaya.

Sepanjang hari kemarin, Alim Markus sibuk mengikuti pertemuan Asosiasi Pengusaha Fuqing Sedunia (The International Association of Fuqing Group) di Hotel Shangri-La Surabaya. Leluhur Alim Markus memang berasal dari kawasan Hokchia alias Fuqing di Provinsi Fujian, Tiongkok. Setiap tahun, para pengusaha Fuqing (baca: Fuching) ini aktif menggelar pertemuan untuk membahas berbagai persoalan, khususnya di bidang ekonomi.

Di sela forum berbahasa pengantar Mandarin itu, Alim Markus bersedia diwawancarai seputar asosiasi pengusaha Fuqing, doktor honoris causa, serta rencana mendirikan Alim Markus Student and Entrepreneur Center di Untag Surabaya.

Selamat atas gelar doktor honoris causa-nya, Pak!

Terima kasih. Saya ini lebih cocok dikasih gelar doktor humoris causa daripada doktor honoris causa. Itu yang bilang Pakdhe Karwo (Gubernur Jawa Timur Soekarwo) karena, katanya, saya ini suka humor. Tapi, yang jelas, gelar ini semakin mendorong saya untuk lebih memperhatikan pendidikan generasi muda di Indonesia, khususnya Surabaya. Termasuk akan mendirikan Alim Markus Student and Entrepreneur Center.

Apakah pertimbangan Anda mendirikan Alim Markus Student and Entrepreneur Center?

Begini. Maspion ini kan perusahaan besar yang punya CSR, corporate social responsibility. Nah, center yang akan saya bangun itu merupakan bagian dari CSR ini. Semacam bentuk tanggung jawab sosial kita kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Para mahasiswa itu tidak hanya bisa sekadar lulus, jadi sarjana. Mereka perlu punya kemampuan di bidang entrepreneurship. Itu yang akan kita kembangkan di Alim Markus Student and Entrepreneur Center. Kalau semakin banyak pengusaha, maka akan tercipta semakin banyak lapangan kerja di Indonesia.

Apa lagi yang digarap di center itu?

Center itu juga jadi pusat pengembangan bahasa dan budaya Tionghoa. Saya berharap ke depan ada jurusan atau program studi bahasa Tionghoa (di Untag Surabaya). Mahasiswa-mahasiswa bisa belajar bahasa Tionghoa di sana. Sebab, bahasa Tionghoa (Mandarin) ini termasuk bahasa internasional dengan jumlah penutur yang sangat banyak di berbagai negara.

Kapan dibangun? Tahun ini?

Oh, belum bisa tahun inilah. Sekarang masih dalam taraf perencanaan. Nanti kalau konsepnya sudah matang baru dimulai.

Tentang pertemuan pengusaha Fuqing sedunia di Surabaya. Pesertanya berapa orang dan dari negara mana saja?

Sekitar 80 sampai 100 orang. Yang ikut sekarang ada sekitar 20 negara. Selain kita (Indonesia) sebagai tuan rumah, ada Malaysia, Singapura, Australia, Tiongkok, Jepang, Hongkong, Taiwan, Amerika Serikat. Sebetulnya asosiasi Fuqing ini meliputi 57 negara di dunia. Setiap tahun memang ada acara rutin berupa pertemuan internasional seperti ini.

Kebetulan pengusaha asal Indonesia, Didi Darwis, sudah enam kali dipercaya menjadi ketua umum. Satu periode itu lamanya tiga tahun. Pengusaha-pengusaha Indonesia memang cukup banyak di sini. Tapi selama ini pertemuan biasanya diadakan di Fujian, Tiongkok. Nah, kita kemudian berpikir mengapa tidak diadakan di Indonesia saja?

Indonesia sendiri sudah berapa kali jadi tuan rumah?

Saya kira baru pertama kali ini. Saya minta supaya digelar di Kota Surabaya, dan ternyata disetujui oleh para pengurus.

Alasannya?

Pertama, lebih hemat waktu. Acaranya diadakan pada akhir pekan, sehingga tidak mengganggu pekerjaan para pengusaha. Kedua, kita bisa hemat devisa. Devisa yang ada tidak keluar ke negara lain. Ketiga, kita justru bisa mendatangkan devisa. Kan banyak pengusaha dari negara-negara lain yang datang ke sini.

Keempat, teman-teman pengusaha dari luar itu bisa melihat dan mendengar langsung kondisi Indonesia. Mereka jadi tahu bahwa Indonesia itu sebuah negara yang sangat luas. Wilayahnya dari Aceh sampai Papua. Ini kan hampir sama dengan jarak dari Jakarta ke Tokyo. Selama ini kan mereka sering mendengar berita-berita negatif seperti bom, gempa bumi, dan sebagainya. Seakan-akan kondisi Indonesia itu tidak aman. Nah, kalau pertemuan itu diadakan di Indonesia, mereka akhirnya sadar bahwa Indonesia itu ternyata sangat luas dan aman untuk bisnis atau investasi.

Materi apa saja yang dibahas di Surabaya?

Intinya, bagaimana meningkatkan hubungan dan kerja sama di antara pengurus dan anggota. Saya juga tidak lupa mempromosikan tempat-tempat wisata di Kota Surabaya kepada mereka. Saya kasih tahu bahwa Surabaya punya lapangan golf yang bagus. Ada kebun binatang, Jembatan Suramadu, juga Masjid Cheng Hoo yang arsitekturnya sangat unik. Saya juga bisa mengajak mereka untuk meninjau pabrik-pabrik di Maspion. (*)

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

No comments:

Post a Comment