29 March 2011

Mengapa Keroncong (Hampir) Mati?


Semalam, saya melihat acara musik keroncong di televisi. Yah, apa lagi kalau bukan TVRI, satu-satunya stasiun televisi nasional yang masih menyisihkan ruang untuk keroncong. Televisi-televisi swasta? No way! Mereka lebih suka menayangkan gosip artis dan band-band pop yang sejatinya gitu-gitu aja kualitasnya.

Melihat keroncong di TVRI, saya untuk kesekian kalinya ngelus dada. Penonton di studio itu hampir semuanya orang tua. Hampir tak ada yang berusia di bawah 50 tahun. Ini makin mempertegas imej bahwa keroncong itu memang musiknya orang tua. Bukan musik untuk kawula muda. Dengan kata lain, sebentar lagi keroncong akan masuk museum karena gagal melakukan regenerasi.

Ndilalah, pagi tadi saya menemukan sebuah artikel di majalah berbahasa Jawa, PANJEBAR SEMANGAT, Nomor 13, 26 Maret 2011, halaman 25. Puji Sasongko menulis artikel berjudul: “Kena Apa Musik Keroncong Ora Disenengi Dening Kaum Mudha?” Mengapa musik keroncong tidak disenangi kaum muda?

Puji Sasongko terbilang penulis musik yang langka di Indonesia. Dia tahu betul anatomi, sejarah, dan perkembangan musik. Termasuk menyinggung keberadaan keroncong yang terkait erat dengan musik rakyat Portugis pada abad ke-17. Namun, musik asal Eropa itu sudah ‘dibumikan’ oleh orang Indonesia, khususnya Jawa, sehingga menjadi sangat Indonesia. Rasa Portugisnya hampir tak ada lagi, kecuali harmoni, struktur, dan melodi yang khas.

Puji Sasongko menulis cukup panjang. Banyak mengutip buku karya Harmunah, 1987, yang memang khusus membahas keroncong. Buku ini menjadi rujukan banyak orang mengingat tak banyak buku-buku tentang keroncong di Indonesia. Berikut saya sarikan pandangan Puji Sasongko mengenai hilangnya pamor musik keroncong di kalangan orang muda Indonesia.

1. LEBIH COCOK SEBAGAI MUSIK KAMAR

Irama keroncong yang mendayu-dayu, legato, nyantai... lebih pas disajikan di dalam ruangan. Orkes kamar. Musik keroncong menggunakan instrumen akustik murni. Beda dengan band-band pop atau rock yang menghentak, beat-beat kuat, volume keras, sehingga cocok dibawakan di lapangan atau luar ruangan. Keroncong tidak bisa dipakai untuk jingkrak-jingkrak sampai mandi keringat.

2. TEMPO ANDANTE HINGGA MODERATO

Musik keroncong memang tidak bisa dibawakan secara cepat, kecuali dimodifikasi seperti dilakukan Klantink, juara Indonesia Mencari Bakat asal Surabaya. Hampir semua lagu keroncong (asli) bertempo andante alias tenang. Tempo ini juga untuk memudahkan penyanyi dan pemusik bisa merasakan ketukan.

Tempo andante pun memungkinkan penyanyi dan pemusik melakukan improvisasi pada frase-frase tertentu. Dan ini memang menjadi ciri khas keroncong. Tempo yang tenang bisa lebih menampilkan pesan dari lagu atau musik. Suasana yang tercipta pun tenang, tentram, ayem, ngelangut. Ini membuat anak-anak muda menyebut keroncong sebagai musik yang bikin ngantuk. Mengajak orang untuk bermalas-malasan atau tidur saja.

3. SULIT DAN RUMIT

Benarkah keroncong itu musik yang sukar? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Beberapa pemusik pop-rock senior pernah mengatakan kepada saya bahwa musik keroncong itu memang sulit. Pemain-pemainnya harus punya skill di atas rata-rata. Kunci-kunci atau akor yang dipakai lebih banyak ketimbang lagu-lagu pop sederhana.

4. MONOTON, KURANG VARIASI

Lagu-lagu keroncong yang muncul di televisi sejak dulu, ya, itu-itu saja. Gampang ditebak. Hampir tidak ada komposisi baru. Beda dengan lagu-lagu pop yang hampir tiap hari selalu ada yang baru. Saking banyaknya lagu pop dan band pop, sehingga kita sulit mengingat nama-nama penyanyi dan band-band hari ini. Beda banget dengan era sebelum tahun 2000.

Kemonotonan ini juga tak lepas dari struktur musik keroncong yang rupanya sudah lama dibakukan. Ada keroncong asli, langgam, stambul satu, stambul dua. Ini semacam rumus atau pakem standar yang tak bisa diotak-atik. Kalau ingin mendapatkan rasa keroncong beneran, seorang penulis lagu harus paham formula keroncong. Jumlah birama, penggunaan akor, pemilihan kata, teknik instrumentasi.

Ada juga 'lagu ekstra' yang disebutkan Harmunah. Maksudnya lagu-lagu pop yang dikeroncongkan seperti dulu sering dibuat Hetty Koes Endang dan Mus Mulyadi. Meskipun melenceng dari pakem keroncong, lagu ekstra sedikit banyak membantu memperluas penggemar musik keroncong ke kalangan muda. Tapi kendalanya tetap saja di tempo dan bentuk iringan yang tanpa beat dan santai itu.

5. TAK SESUAI DENGAN JIWA KAUM MUDA

Psikologi orang muda itu dinamis, tegas, meledak-ledak, energetik. Kawula muda juga suka hal-hal yang glamor, gebyar, wah, seksi. Dan itu hanya bisa diperoleh di konser pop, disco, rock, atau jazz. Penyanyi keroncong dari dulu memakai kebaya atau busana ala ibu-ibu yang datang ke resepsi pernikahan. Beda dengan kostum panggung Inul Daratista, Dewi Persik, atau Julia Perez.

6. TAK DAPAT TEMPAT DI TELEVISI

Setelah Reformasi 1998, televisi-televisi tumbuh bak jamur di musim hujan. Kita sudah sulit menghitung televisi di Indonesia hari ini. Terlalu banyak dan selalu bertambah. Beda dengan zaman Orde Baru, stasiun televisi kita hanya satu: TVRI. Ironisnya, televisi-televisi yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan kalau ditambah stasiun luar, itu tak ada yang mau menayangkan musik keroncong. Sekarang ini televisi-televisi kita hanya mau menyiarkan program yang bisa mendatangkan uang, uang, uang, uang.

Keroncong jelas bukanlah musik komersial yang bisa menyedot iklan. Dan keroncong tidak sendirian. Musik-musik budaya yang berkualitas macam orkes tradisional, orkes atau musik klasik Barat, bahkan jazz dan blues... sudah lama tidak muncul di televisi swasta. Mana ada program jazz di RCTI, Indosiar, Trans TV, ANTV, SCTV, atau Global TV.

Karena itu, wahai keroncong, jangan terlalu bersedih karena engkau tidak merana seorang diri. Masih banyak genre musik lain di Indonesia, yang justru punya kualitas, ternyata sudah ditendang keluar dari televisi. Kita patut berterima kasih kepada TVRI baik nasional maupun Jawa Timur yang masih mau menyediakan ruang kepada keroncong secara konsisten.

7. KURANG APRESIASI MUSIK DI SEKOLAH

Sebagian besar sekolah di Indonesia tidak punya guru musik yang baik. Asal comot untuk mengajar seni suara atau apresiasi musik. Guru-guru sekolah dasar, yang berada di garis depan, ternyata banyak yang tak punya pemahaman tentang musik. Bagaimana bisa mengajak anak-anak mencintai musik klasik, tradisional, atau keroncong? Maka, jangan heran, anak-anak justru mendapat 'apresiasi musik' dari acara-acara pop di televisi yang sejatinya dibuat untuk menjadikan anak-anak muda sebagai target pasar.

8. ORKES KERONCONG MAKIN LANGKA

Coba sebutkan orkes-orkes keroncong di kota anda! Saya pastikan anda kesulitan menyebut lima nama. Bahkan, satu orkes saja sudah sulit. Sebab, sudah lama orkes-orkes keroncong bubar karena sepi tanggapan. Selain itu, pemain-pemain senior sudah terlalu tua dan gagal melakukan regenerasi. Jangankan di kota-kota kecil, di Surabaya saja, yang disebut-sebut kota terbesar kedua di Indonesia, kita sangat sulit mendapatkan orkes keroncong yang solid dan rutin pentas.

9. MINIM PERHATIAN PEMERINTAH

Di Indonesia makin jarang ada pejabat yang punya apresiasi seni musik macam Presiden Soekarno. Visi kebudayaan para pemimpin Indonesia sejak 20 tahun terakhir sangat buruk. Bukannya membina dan mengembangkan kesenian tradisional, para bupati atau wali kota malah rame-rame ke Jakarta untuk mendukung peserta KDI, AFI, atau Indonesian Idol asal daerahnya. Jelas sekali bahwa si pejabat itu sudah masuk jebakan perangkap industri pop yang luar biasa canggih.

Sangat ironis, pejabat-pejabat kita dijadikan mainan industri musik pop dan televisi. Kita membutuhkan pemimpin-pemimpin yang punya visi seni budaya seperti Bung Karno. Oh ya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata asyik menciptakan lagu-lagu pop manis, tapi kurang sadar bahwa kesenian tradisional kita sudah di mulut jurang kepunahan. SBY ikut arus pop & mass culture.

10. MASA DEPAN SURAM

Suramnya perkembangan musik keroncong, gagalnya regenerasi, hilangnya penggemar membuat praktisi keroncong merana. Tak ada masa depan. Banyak pemusik dan penyanyi keroncong di Jawa Timur yang hidup terlunta-lunta. Untuk sekadar makan sehari-hari saja susah. Sebaliknya, industri musik pop (termasuk rock dan sejenisnya) menawarkan karir yang gemerlap, nama besar, uang banyak.

Jangan heran, begitu banyak orang tua di Indonesia yang mendorong anak-anaknya untuk ikut kontes menyanyi di televisi ala KDI, AFI, atau Indonesia Idol. Siapa tahu jadi artis terkenal yang bergelimang uang dan kemewahan. Ada perubahan orientasi para orang tua dan anak-anaknya saat ini. Pelajaran di sekolah atau kampus tak lagi dipentingkan. Bahkan, banyak orang tua yang mengorbankan pendidikan formal anak-anaknya demi mengejar ambisi menjadi artis pop.

Mana ada orang tua di Indonesia yang ingin anak-anaknya jadi penyanyi keroncong?

Puji Sasongko menulis: "Ora anane masa depan kang bisa diarep-arep saka olah seni liwat musik keroncong kalebu salah sijine panyebab kena apa musik keroncong didohi kawula mudha. Kawula mudha ngadoh ateges tuwuh masalah ing proses regenerasi. Proses regenerasi gagal!"

27 March 2011

Frans Limahelu - Yayasan Caraka Mulia




Mulai Senin (28/3/2011), Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia-Belanda (YPKIB) resmi bersalin rupa menjadi Yayasan Caraka Mulia (YCM). Kantor pusatnya pun tak lagi di Jl Cokroaminoto, tapi di Jl Wahidin 36 Surabaya.

Oleh Lambertus Hurek


MENURUT rencana, yayasan yang fokus pada pengembangan bahasa dan kebudayaan Belanda ini akan diresmikan oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia Tjeerd De Zwaan. Kemarin, Ketua YCM Prof Dr Frans Limahelu bersama sejumlah stafnya sibuk mempersiapkan acara grand opening YCM yang ditandai dengan pameran foto bertajuk Hikajat Kalimas dan Soekoe Djawa di Soeriname.

Di sela-sela persiapan peresmian tersebut, Frans Limahelu menyempatkan diri melayani wawancara dengan saya. Frans didampingi Listya Sidharta dan Mario Rawung, dua staf YCM. Berikut petikannya:

Mengapa YPKIB berubah menjadi YCM?

Kami berusaha menyesuaikan diri dengan undang-undang yayasan yang baru. YPKIB memang perlu disesuaikan agar bisa berkiprah dengan optimal. Tapi, secara umum kegiatan-kegiatan YCM hampir sama dengan YPKIB. Kami tetap menyediakan perpustakaan, mengadakan kursus bahasa Belanda, aktivitas kebudayaan dan kesenian, menyediakan saluran televisi Belanda, dan sebagainya.

Apakah YCM punya hubungan dengan Kedubes Belanda?

Tidak ada hubungan langsung. YCM ini mandiri, otonom, termasuk dalam urusan finansial. Pihak Kedutaan Besar Belanda lebih berperan sebagai fasilitator. Tugas kami semacam agen kebudayaan Indonesia-Belanda. YCM berusaha menjadi jembatan yang baik antara masyarakat Indonesia dan Belanda. Misi yang sudah dirintis oleh YPKIB itu akan terus dikembangkan oleh YCM.

Pameran foto-foto tempo doeloe ini inisiatif Kedubes Belanda atau YCM?

Jelas YCM dong! Dua minggu lalu, kami bikin pameran foto untuk memperkenalkan YCM kepada masyarakat Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Semacam soft opening lah. Ternyata, sambutan masyarakat cukup baik. Maka, untuk upacara peresmian hari Senin, pameran foto kembali kami adakan. Kami bekerja sama dengan Hans Edward yang punya koleksi foto-foto bagus Surabaya tempo doeloe.

Kami ambil tema Hikajat Kalimas untuk menggambarkan betapa pentingnya Kalimas sebagai lalu lintas perdagangan di Surabaya tempo doeloe. Belakangan, kami juga bekerja sama dengan Matte Soemoprawiro, fotografer asal Suriname. Foto-foto ini menceritakan perjalanan dan kehidupan orang Jawa yang berada di Suriname.

Apakah YCM masih menyelenggarakan kursus bahasa Belanda?

Tentu saja. Dan di Indonesia ini hanya ada dua tempat kursus bahasa Belanda, yakni satu di Jakarta dan satunya lagi di YCM Surabaya. Syukurlah, peminat kursus bahasa Belanda di Surabaya termasuk lumayan banyak. Tahun lalu ada 500 peserta lebih.

Mengapa minat masyarakat untuk belajar bahasa Belanda kalah jauh dibandingkan bahasa Inggris atau Mandarin?

Pertimbangan bisnis. Orang-orang sekarang yang belajar bahasa asing itu kan melihat dulu prospek ekonomi ke depan. Bahasa Inggris lebih diutamakan karena sudah lama menjadi bahasa internasional. Dengan menguasai bahasa Inggris, maka otomatis komunitas pergaulan dan relasinya menjadi semakin luas. Sementara bahasa Belanda hanya digunakan di lingkungan yang terbatas. Perusahaan-perusahaan Belanda yang masih bertahan di Indonesia pun tinggal sedikit, seperti Unilever atau Philips.

Perguruan tinggi di Belanda sendiri juga kabarnya menyelenggarakan kuliah dalam bahasa Inggris. Sehingga, mahasiswa-mahasiswa Indonesia tidak ‘dipaksa’ untuk menguasai bahasa Belanda.

Memang. Dua puluh tahun lalu perguruan-perguruan tinggi di Belanda menyelenggarakan kuliah dalam bahasa Belanda. Tapi memang dalam 20 tahun terakhir, bahasa Inggris juga mulai digunakan secara luas. Dan itu ada kaitannya dengan Uni Eropa. Nah, dengan adanya Uni Eropa, maka bahasa Inggris digunakan sebagai sarana komunikasi masyarakat di negara-negara Uni Eropa. Dengan sendirinya, peranan bahasa Belanda semakin berkurang.

Lantas, apakah bahasa Belanda masih dibutuhkan orang Indonesia hari ini?

Jelas masih dibutuhkan. Jangan lupa, apa yang kita pelajari di sekolah-sekolah atau kampus di kita hampir semuanya berasal dari Belanda. Sistem pendidikan kita, administrasi negara, provinsi, kabupaten.. bahkan Undang-Undang Dasar 1945 itu disusun oleh orang-orang yang berlatar belakang pendidikan Belanda. Itu fakta sejarah yang tidak bisa kita abaikan.

Kemudian soal air atau banjir. Belanda itu negara yang paling ahli dalam mengelola air, manajemen banjir. Bagaimana membangun kanal-kanal, saluran air, agar agar kota tidak kebanjiran. Kita di Surabaya bisa belajar banyak dari Negeri Belanda. Dan itu berarti kita perlu menguasai bahasa Belanda. Bukan hanya bahasa Belanda modern, tapi juga bahasa Belanda versi lama. (rek)

Tentang Frans Limahelu

Nama : Prof Dr Frans Limahelu SH LLM
Lahir : Surabaya, 16 April 1940
Anak : 2 orang
Pekerjaan : Dosen FH Universitas Airlangga
Jabatan : Ketua Kajian Konstitusi Unair
Organisasi : Ketua Yayasan Caraka Mulia
Hobi : Bersosialisasi, cangkrukan

Pendidikan
Lagere School Surabaya
SMP Kristen Petra, Embong Wungu, Surabaya
SMAK Sint Louis Surabaya
FH Universitas Airlangga
Master Hukum (S-2) di USA
Doktor Hukum (S-3) di Universitas Airlangga



Tak Suka Dipanggil Profesor

ORANGNYA low profile, suka bersosialisasi, mudah bergaul dengan berbagai kalangan. Meskipun bergelar profesor dan doktor ilmu hukum, Frans Limahelu kurang suka disapa dengan gelar profesor, doktor, dan sejenisnya. Pria berdarah Maluku ini lebih suka disapa Pak Frans. Tidak perlu embel-embel gelar akademik yang panjang itu.


“Buat apa membawa-bawa gelar profesor ke mana-mana? Toh, saya ini sebetulnya sudah pensiun dan sekarang jadi pegawai outsourcing di Unair,” kata Frans seraya tersenyum. “Jadi, apa bedanya seorang profesor emeritus dengan karyawan outsourcing di pabrik-pabrik?” tambahnya.

Setelah pensiun tahun lalu, Frans Limahelu masih diminta almamaternya, Fakultas Hukum Universitas Airlangga, untuk menjadi guru besar. Profesor emeritus?

“Hehehe... Emeritus itu kan cuma istilah sopannya saja. Artinya, sudah pensiun dan sekarang menjadi pegawai outsourcing,” katanya enteng.

Nah, di sela-sela waktu luangnya yang kian banyak, setelah resmi menjadi emeritus itu, Frans diminta untuk membantu Yayasan Caraka Mulia (YCM). Yayasan yang beralamat di Jalan Wahidin 36 Surabaya ini merupakan metamorfosis Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia-Belanda. YCM ini umumnya diperkuat para alumni lembaga pendidikan di Negeri Belanda dan kalangan penutur bahasa Belanda alias Hollands-spreken.

“Saya tidak pernah studi di Belanda. Saya malah mengambil master di negaranya Barack Obama,” kata ayah dua anak ini. “Makanya, saya sendiri juga heran, kok diminta mengurus YCM,” tambahnya.

Yang menarik, meskipun tak pernah mencicipi studi di Negeri Belanda, kemampuan bahasa Belanda Frans Limahelu jangan diragukan lagi. Dia fasih ber-Hollands-spreken dengan meneer-meneer dari negara kincir angin itu. Ternyata, kemampuan berbahasa Belanda ini diperoleh Frans ketika duduk di Lagere School, semacam sekolah dasar pada tahun 1940-an di Surabaya.

“Itu pun sampai kelas lima saja pelajaran-pelajaran diberikan dalam bahasa Belanda. Mulai kelas enam pelajaran harus diberikan dalam bahasa Indonesia,” tutur pria yang senang menikmati musik itu.

Rupanya, bekal pengenalan bahasa Belanda di masa transisi antara Hindia-Belanda dan awal kemerdekaan ini begitu membekas di kepala seorang Frans Limahelu. Bahasa itu kemudian benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi Frans dengan para penutur bahasa Belanda di Kota Surabaya. “Jadi, keliru kalau saya dianggap alumni perguruan tinggi Belanda,” katanya. (hurek)


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

24 March 2011

Ikut FORMI Sidoarjo




Seminggu terakhir ini saya beberapa kali diajak ikut rapat membahas Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Sidoarjo. Pengurus federasi bakal dikukuhkan di Alun-Alun Sidoarjo, Minggu (27/3/2011) pagi. Saya diminta Suwignyo, salah satu pejabat Dinas Pariwisata Sidoarjo masuk sebagai salah satu pengurus.

Acara pengukuhan di alun-alun itu bakal dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf, Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, dan Wabup Sidoarjo MG Hadi Sutjipto ini dimeriahkan gebyar senam, gerak jalan, serta atraksi budaya lintas etnis.

“Kita ingin memperkenalkan FORMI Sidoarjo sebagai payung berbagai olahraga rekreasi yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Kita juga sekaligus mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan dengan berolahraga secara rutin,” ujar Wakil Bupati Sidoarjo MG Hadi Sutjipto, yang juga ketua umum FORMI Sidoarjo.

Berbeda dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang menaungi olahraga prestasi, FORMI menjadi wadah bagi olahraga-olahraga rekreasi dan tradisional yang berkembang di masyarakat. Berbagai komunitas olahraga rekreasi seperti senam jantung sehat, senam tera, senam pernapasan, senam aerobik, barongsai, liang-liong, patrol, sepeda kuno, fun bike, serta olahraga tradisional hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Namun, selama ini belum ada wadah atau federasi yang menaunginya.

FORMI Sidoarjo dibentuk sebagai wadah bagi berbagai komunitas olahraga-olahraga tersebut. Sesuai Undang-Undang Olahraga Nomor 3 Tahun 2005, olahraga rekreasi yang hidup dan dikembangkan oleh masyarakat wajib didukung oleh pemerintah. Karena itu, FORMI Sidoarjo ini juga mengembangkan sayap di 18 kecamatan di Kabupaten Sidoarjo.

Diawali gebyar senam pagi bersama pada pukul 06.00, yang diikuti ribuan orang dari berbagai komunitas, Wagub Jatim Syaifullah Yusuf akan melepas gerak jalan massal keliling kota. Rutenya: alun-alun, Jl Sultan Agung, Ramayana, Jl Thamrin, kembali finis di alun-alun.

Perkumpulan Barongsai dan Liang-Liong Dharma Bhakti berada di barisan terdepan, disusul praktisi senam jantung sehat dari 18 kecamatan. Atraksi selanjutnya, Ogoh-Ogoh Sidoarjo memandu ratusan praktisi senam lansia dari Yayasan Gerontologi Abiyoso, senam pernapasan, senam tera, senam pernapasan, senam asma, Asosiasi Pelatih Senam Indonesia (APSI) Sidoarjo, serta cheerleader. Selanjutnya, Reog Singoyudho Dharma Bhakti, Gedangan, ikut menghibur masyarakat Sidoarjo.

Gerak jalan dan pawai budaya kian meriah dengan hadirnya ratusan anggota Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti) dengan kostum yang khas dan rancak. Sajian musik patrol juga akan memeriahkan launching FORMI Sidoarjo ini.

Lima tahun terakhir, saya melihat banyak organisasi, perkumpulan, asosiasi, paguyuban, forum, dewan kesenian, dewan kerajinan... dan sejenisnya yang dideklarasikan di Sidoarjo. Tapi, biasanya, setelah deklarasi atau seremoni pengukuhan yang meriah, organisasi itu mandek. Tak ada kegiatan sama sekali. Bahkan, papan nama dan sekretariatnya pun tak ada.

Saya khawatir FORMI Sidoarjo pun bakal mengalami nasib seperti itu. Apalagi, federasi ini sangat didominasi birokrat dari Pemkab Sidoarjo. Ada elemen civil society seperti Njoo Tiong Hoo (pembina barongsai dan liongsai), I Nyoman Anom (kesenian Bali), atau Imam Supii (reog ponorogo), tapi jumlahnya tidak banyak. Kesan bahwa FORMI ini sebuah organisasi yang top down sangat terasa.

Mudah-mudahan FORMI Sidoarjo ini ada gunanya bagi masyarakat!



FORMI KABUPATEN SIDOARJO
Jl. Sultan Agung 34 Sidoarjo, Telepon 031-894 1104
Email: formi.sidoarjo@gmail.com,
Website: http://formisidoarjo.blogspot.com
Ketua Umum : MG Hadi Sutjipto
Ketua Panitia : Siswanto
Sekretaris/Seksi Acara : Suwignyo


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

22 March 2011

Krisis Air di Ile Ape



Semalam saya menyunting artikel opini karya seorang dosen di Surabaya tentang hari air sedunia. Ah, saya baru sadar kalau di dunia ini ada peringatan hari air. Macam-macam sajalah hari-hari yang dirayakan orang.

Hari air. Hari anak. Hari perempuan. Hari ibu. Hari remaja. Hari listrik. Hari buruh. Hari pengusaha. Mungkin sebentar lagi ada hari kayu, hari tanah, hari udara, hari komputer, hari rumah, hari ikan, hari sapi...

Si penulis opini itu membahas krisis air bersih di Kota Surabaya. Bahan baku air PDAM Surabaya menggunakan air Kali Surabaya. Sementara kualitas air Kali Surabaya sendiri sangat buruk. Sudah lama tercemar limbah domestik dan industri. Ikan-ikan saja, katanya, banyak yang mati.

Kok manusia-manusia di Surabaya yang jumlahnya hampir empat juta orang itu mengonsumsi air PDAM berbahan baku air Kali Surabaya? Dia minta pemerintah supaya memperhatikan betul masalah air bersih ini. Sudahlah, kita belum berani bicara air minum – air keran yang bisa langsung minum – karena terlalu muluk. Masalah air bersih untuk mandi saja kita sudah setengah mati.

Saya langsung teringat persoalan air di daerah Ile Ape, Pulau Lembata di NTT. Daerah saya ini dikenal berlimpah-limpah air, tapi... AIR LAUT. Setiap hari kita dengar deru ombak dan gelombang. Macam-macam ikan ada di sana. Tapi bagaimana dengan air bersih untuk minum dan mandi?

Bukan saja krisis, tapi lebih dari krisis. Berjuta krisis! Orang di sana tidak pernah melihat yang namanya sungai. Sumur pun sangat-sangat langka. Ada desa yang tak punya satu pun sumur seperti di Mawa. Kalaupun menggali sumur, yang diperoleh hanyalah air asin. Air laut. Maka, penduduk Desa Mawa alias Napasabok harus berjalan kaki ke Atawatung untuk menimba air sumur. Kira-kira lima kilometer pergi-pulang.

Sejak beberapa tahun lalu, ada usaha untuk menampung air hujan. Rumah-rumah menyediakan bak khusus penampung air hujan. Lumayan. Masalah air bersih sedikit banyak bisa diatasi. Tapi, ya, tetap saja tidak normal kalau manusia harus minum air hujan setiap hari sampai bertahun-tahun. Sampai ajal menjemput.

Pemerintah Kabupaten Lembata bukan tak tahu persoalan air minum yang akut di Ile Ape. Sejak dulu ada wacana untuk mengalirkan air dari kecamatan lain yang punya sumber air. Wacana ini sejak 1980-an, ketika Lembata masih jadi satu dengan Kabupaten Flores Timur, kencang terdengar. Khususnya ketika Anton Langoday menjabat bupati Flores Timur. Sebagai orang Ile Ape, Pak Langoday tentu tahu betapa runyamnya krisis air minum di kecamatannya.

Bupati pun ganti beberapa kali. Lembata jadi kabupaten sendiri. Program air bersih di Ile Ape pun diangkat lagi. Di era Bupati Ande Manuk yang menjabat selama 10 tahun, dan sebentar lagi lengser, wacana pengadaan air di Ile Ape mulai direalisasikan. Entah apa petimbangannya, pemkab bikin proyek penyulingan air laut. Nama resminya. Pengolahan Air Laut Menjadi Air Tawar.

Air laut yang berlimpah ruah itu diproses, didestilasi, kadar garamnya dihilangkan, sehingga jadi air tawar. Instalasinya dibangun di pinggir pantai Bungamuda, yang juga kampung halaman Pak Bupati. Biayanya, yang terbaca di plang, sekitar Rp 10 miliar. Ini hanya tahap kedua. Pastilah total anggaran jauh lebih besar dari itu. pelaksana proyek: PT Wahana Tirta Persada.

Apakah proyek air minum berbahan baku air laut di Bungamuda ini efektif? Disukai masyarakat? Menjawab krisis air di Ile Ape, khususnya di Bungamuda, Lamawara, Lewotolok, Waowala, Tanjungbatu, Atawatung, Ebak, hingga Tokojaeng?

Seharusnya demikian. Bukankah ‘air tawar’ eks air laut sudah bisa masuk kampung? Dengan debit yang besar pula? Sayang, ketika saya pulang kampung awal tahun 2011 ini, rakyat jelata di kampung terkesan tidak puas. Pejabat-pejabat di beberapa desa yang jadi target proyek besar ini pun kurang sreg.

Orang-orang kampung malah takut minum air tawar olahan dari air laut ini. Macam-macam saja gosip yang beredar di kampung. Air itu penuh bahan kimia. Bisa merusak organ tubuh kalau dikonsumsi dalam waktu lama. Yang pasti, penduduk desa tetap saja minum air sumur meskipun harus berjalan jauh untuk menimba. Orang lebih asyik minum air hujan yang sebenarnya belum memenuhi syarat sebagai air minum yang baik.

“Proyek air di Bungamuda yang makan uang miliaran rupiah itu sia-sia,” kata beberapa ‘orang pintar’ asal Ile Ape di Kupang, ibu kota NTT.

Mereka mengkritik keras proyek penyulingan air laut dengan sistem SW-RO yang ternyata sudah dicoba di Kabupaten Alor, tapi gagal. Lha, kalau sudah gagal di Alor, kenapa masih juga dicoba di Lembata? Berapa tahun usia pakai sistem itu?

Apakah konsumen (rakyat jelata) sudah dikasih informasi sejelas-jelasnya, termasuk efek samping, mengonsumsi air laut yang ditawarkan itu? Maka, seperti biasa, para pengamat di Kupang menganggap instalasi yang dipasang di Bungamuda itu tak lebih hanyalah proyek belaka. Yang kipas-kipas uang tentunya kontrak, subkontraktor, serta oknum-oknum pejabat dan keluarganya.

Lantas, apa yang diinginkan rakyat kecil di kampung? Sederhana saja. Rencana lama itu supaya dilaksanakan. Yakni, mengalirkan air bersih melalui pipa-pipa yang sebenarnya sudah tersedia. Bukan menyuling air laut seperti yang ada sekarang.



KOMUNIKASI. Lagi-lagi komunikasi menjadi masalah besar di Lembata. Komunikasi antara rakyat dan pejabat, yang nota bene sama-sama etnis Lamaholot dan masih punya hubungan keluarga itu memang sangat buruk. Pejabat sangat sulit mendengar apa maunya rakyat. Rakyat, karena itu, selalu mencurigai pejabat-pejabat yang boleh jadi punya keinginan mulia untuk memakmurkan rakyatnya.

Kontroversi soal tambang mineral di Lembata selama bertahun-tahun pun tak lepas dari buruknya kualitas komunikasi. Pejabat-pejabat pemkab, khususnya Pak Bupati, mungkin punya niat baik, tapi pesannya tak sampai ke masyarakat. Rakyat curiga ada apa-apa di balik kengototan pemkab mengegolkan proyek tambang di Lembata.

Yah, semoga saja bupati Lembata yang baru bisa menuntaskan begitu banyak persoalan lama di kampung halaman kita. Dan semoga rakyat Ile Ape dalam 10 tahun ke depan sudah bisa menikmati air bersih yang bukan hasil desalinasi air laut!

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

20 March 2011

Alim Markus - Pengusaha Fuqing




Chief Executive Officer (CEO) Grup Maspion Alim Markus menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas 17 Agustus Surabaya, Sabtu (12/3/2011). Pria 59 tahun ini dinilai sebagai pengusaha nasionalis yang peduli terhadap dunia pendidikan dan kewirausahaan di tanah air.

Oleh LAMBERTUS HUREK


“SAYA ini lebih cocok dikasih gelar doktor humoris causa, bukan doktor honoris causa,” ujar Alim Markus lantas tertawa lepas.

Yang jelas, setelah mendapat gelar bergengsi ini, Mr Liem, sapaan akrabnya, berencana mendirikan Alim Markus Student and Entrepreneur Center untuk menularkan jiwa entrepreneurship kepada para mahasiswa di Surabaya.

Sepanjang hari kemarin, Alim Markus sibuk mengikuti pertemuan Asosiasi Pengusaha Fuqing Sedunia (The International Association of Fuqing Group) di Hotel Shangri-La Surabaya. Leluhur Alim Markus memang berasal dari kawasan Hokchia alias Fuqing di Provinsi Fujian, Tiongkok. Setiap tahun, para pengusaha Fuqing (baca: Fuching) ini aktif menggelar pertemuan untuk membahas berbagai persoalan, khususnya di bidang ekonomi.

Di sela forum berbahasa pengantar Mandarin itu, Alim Markus bersedia diwawancarai seputar asosiasi pengusaha Fuqing, doktor honoris causa, serta rencana mendirikan Alim Markus Student and Entrepreneur Center di Untag Surabaya.

Selamat atas gelar doktor honoris causa-nya, Pak!

Terima kasih. Saya ini lebih cocok dikasih gelar doktor humoris causa daripada doktor honoris causa. Itu yang bilang Pakdhe Karwo (Gubernur Jawa Timur Soekarwo) karena, katanya, saya ini suka humor. Tapi, yang jelas, gelar ini semakin mendorong saya untuk lebih memperhatikan pendidikan generasi muda di Indonesia, khususnya Surabaya. Termasuk akan mendirikan Alim Markus Student and Entrepreneur Center.

Apakah pertimbangan Anda mendirikan Alim Markus Student and Entrepreneur Center?

Begini. Maspion ini kan perusahaan besar yang punya CSR, corporate social responsibility. Nah, center yang akan saya bangun itu merupakan bagian dari CSR ini. Semacam bentuk tanggung jawab sosial kita kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Para mahasiswa itu tidak hanya bisa sekadar lulus, jadi sarjana. Mereka perlu punya kemampuan di bidang entrepreneurship. Itu yang akan kita kembangkan di Alim Markus Student and Entrepreneur Center. Kalau semakin banyak pengusaha, maka akan tercipta semakin banyak lapangan kerja di Indonesia.

Apa lagi yang digarap di center itu?

Center itu juga jadi pusat pengembangan bahasa dan budaya Tionghoa. Saya berharap ke depan ada jurusan atau program studi bahasa Tionghoa (di Untag Surabaya). Mahasiswa-mahasiswa bisa belajar bahasa Tionghoa di sana. Sebab, bahasa Tionghoa (Mandarin) ini termasuk bahasa internasional dengan jumlah penutur yang sangat banyak di berbagai negara.

Kapan dibangun? Tahun ini?

Oh, belum bisa tahun inilah. Sekarang masih dalam taraf perencanaan. Nanti kalau konsepnya sudah matang baru dimulai.

Tentang pertemuan pengusaha Fuqing sedunia di Surabaya. Pesertanya berapa orang dan dari negara mana saja?

Sekitar 80 sampai 100 orang. Yang ikut sekarang ada sekitar 20 negara. Selain kita (Indonesia) sebagai tuan rumah, ada Malaysia, Singapura, Australia, Tiongkok, Jepang, Hongkong, Taiwan, Amerika Serikat. Sebetulnya asosiasi Fuqing ini meliputi 57 negara di dunia. Setiap tahun memang ada acara rutin berupa pertemuan internasional seperti ini.

Kebetulan pengusaha asal Indonesia, Didi Darwis, sudah enam kali dipercaya menjadi ketua umum. Satu periode itu lamanya tiga tahun. Pengusaha-pengusaha Indonesia memang cukup banyak di sini. Tapi selama ini pertemuan biasanya diadakan di Fujian, Tiongkok. Nah, kita kemudian berpikir mengapa tidak diadakan di Indonesia saja?

Indonesia sendiri sudah berapa kali jadi tuan rumah?

Saya kira baru pertama kali ini. Saya minta supaya digelar di Kota Surabaya, dan ternyata disetujui oleh para pengurus.

Alasannya?

Pertama, lebih hemat waktu. Acaranya diadakan pada akhir pekan, sehingga tidak mengganggu pekerjaan para pengusaha. Kedua, kita bisa hemat devisa. Devisa yang ada tidak keluar ke negara lain. Ketiga, kita justru bisa mendatangkan devisa. Kan banyak pengusaha dari negara-negara lain yang datang ke sini.

Keempat, teman-teman pengusaha dari luar itu bisa melihat dan mendengar langsung kondisi Indonesia. Mereka jadi tahu bahwa Indonesia itu sebuah negara yang sangat luas. Wilayahnya dari Aceh sampai Papua. Ini kan hampir sama dengan jarak dari Jakarta ke Tokyo. Selama ini kan mereka sering mendengar berita-berita negatif seperti bom, gempa bumi, dan sebagainya. Seakan-akan kondisi Indonesia itu tidak aman. Nah, kalau pertemuan itu diadakan di Indonesia, mereka akhirnya sadar bahwa Indonesia itu ternyata sangat luas dan aman untuk bisnis atau investasi.

Materi apa saja yang dibahas di Surabaya?

Intinya, bagaimana meningkatkan hubungan dan kerja sama di antara pengurus dan anggota. Saya juga tidak lupa mempromosikan tempat-tempat wisata di Kota Surabaya kepada mereka. Saya kasih tahu bahwa Surabaya punya lapangan golf yang bagus. Ada kebun binatang, Jembatan Suramadu, juga Masjid Cheng Hoo yang arsitekturnya sangat unik. Saya juga bisa mengajak mereka untuk meninjau pabrik-pabrik di Maspion. (*)

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

17 March 2011

Moechtar Pemred Panjebar Semangat




Belum lama ini, tepatnya 22 Februari 2011, Drs. MOECHTAR merayakan ulang tahun ke-86. Di usia yang terbilang sangat lanjut ini, ayah lima anak ini tak kenal kata pensiun. Setiap hari dia sibuk menulis, mengurusi PANJEBAR SEMANGAT, majalah berbahasa Jawa, dan menerjemahkan karya sejumlah pengarang dunia.

Oleh LAMBERTUS HUREK


“Saya masih sehat-sehat saja, tapi tentu sehatnya orang tua,” ujar Moechtar yang saya temui di kediamannya, Sabtu (12/3/2011).

Pria yang mulai merintis karir sebagai wartawan pada 1950 di koran berbahasa Jawa, Espres, itu baru saja merilis buku berjudul PURI TUWA KANG NYALAWADI. ini merupakan kumpulan 13 cerita pendek (cerpen) karya pengarang-pengarang terkenal mancanegara antara lain Honore de Balzac (Prancis), Ignazio Silone (Italia), Saki (Myanmar), Edgar Allan Poe (Amerika Serikat), Ernest Hemmingway (Amerika Serikat), dan Arturo Barea (Argentina). Cerpen-cerpen itu diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.

Selama satu jam lebih, saya berbincang dengan Eyang Moechtar, sapaan bekas dosen Akademi Wartawan Surabaya itu.

APA PERTIMBANGAN ANDA MENERJEMAHKAN DAN MENERBITKAN CERPEN-CERPEN KARYA PENGARANG INTERNASIONAL ITU?

Sampai sekarang belum ada terjemahan cerpen-cerpen dunia yang dibukukan. Apalagi, dalam bahasa Jawa. Selama ini yang ada hanya di majalah-majalah saja. Habis dibaca kan hilang. Kalau dibukukan, habis dibaca bisa disimpan. Apalagi, kalau disimpan di perpustakaan pasti bisa dibaca banyak orang. Siapa saja bisa membaca. Selain itu, saya memang ingin menambah khasanah sastra Jawa dan nguri-uri bahasa Jawa. Ini agar sastra Jawa ora ilang tanpa tilas.

ANDA KAN MASIH SIBUK MENGURUS PANJEBAR SEMANGAT. LANTAS, BAGAIMANA ANDA MEMBAGI WAKTU UNTUK MENERJEMAHKAN CERPEN-CERPEN ITU?

Ya, saya kerjakan kalau ada waktu senggang. Sambil lalu saja. Saya terjemahkan sedikit-sedikit dan akhirnya selesai juga. Jadi, membuat buku terjemahan cerpen-cerpen ini sebenarnya tidak pakai target.

SIAPA YANG MEMBIAYAI PENERBITAN INI?

Saya sendiri. Begini. Untuk naskah-naskah berbahasa Jawa itu tidak ada penerbit buku di Indonesia yang mau membiayai. Saya pernah negosiasi dengan penerbit supaya biayanya ditanggung bersama 50:50. Si penerbitnya nggak berani. Takut nggak laku. Maka, mau tidak mau si penulis harus berusaha membiayai sendiri agar bisa diterbitkan. Tahun 2005, saya coba menerbitkan kumpulan cerita rakyat Jawa Timur berjudul Badher Bang Sisik Kencana. Ternyata, ya, habis juga.

KALAU TIDAK ADA PENERBIT YANG MAU, LALU SOLUSINYA BAGAIMANA?

Yah, saya akhirnya bikin Yayasan Jawi Adi. Yayasan ini yang kemudian menjadi penerbit buku-buku saya. Saya harus melakukan ini karena saya memang senang bahasa Jawa. Saya ingin merawat, nguri-uri, bahasa Jawa. Jadi, saya harus menerbitkan. Kalau sudah dibukukan, mudah-mudahan orang Jawa, khususnya generasi muda, tertarik untuk mau dan senang membaca.

MENGAPA BUKU-BUKU ATAU MAJALAH BERBAHASA JAWA JUSTRU KURANG DIMINATI MASYARAKAT JAWA SENDIRI?

Ini masalah reading habit. Kebiasaan membaca bocah-bocah sekarang memang kurang dibiasan untuk membaca. Lebih-lebih setelah ada televisi, yang jumlahnya banyak seperti sekarang, bocah-bocah itu lebih senang nonton televisi. Menonton itu gampang, nggak perlu susah-susah memperhatikan aksara dalam buku. Anak-anak muda kadang-kadang suka membaca, tapi yang dibaca itu komik. Cukup melihat gambarnya saja, orang sudah tahu ceritanya. Karena itu, reading habit harus dibiasakan sejak anak-anak masih sekolah dasar.

Seperti dikatakan Suparto Brata, membaca itu memang sangat berbeda dengan menonton dan mendengar. Orang hidup itu sejak bayi sudah bisa melihat dan mendengar. Tanpa sekolah atau belajar pun orang sudah bisa melihat dan mendengar. Berbeda dengan membaca, orang harus belajar lebih dulu dan dibiasakan sejak kecil.

KEBIJAKAN JAVA DAY ATAU HARI WAJIB BERBAHASA JAWA YANG DICANANGKAN PEMKOT SURABAYA BEBERAPA WAKTU LALU BAGAIMANA?

Sekarang malah nggak kedengaran lagi. Masalahnya, di SD tidak ada guru-guru bahasa Jawa yang mumpuni. Maka, anak-anak tidak diajarkan bahasa Jawa untuk berkomunikasi, tapi cuma sekadarnya saja seperti... anak kucing namanya ini, anak kuda namanya ini, anak kambing namanya ini, anaknya sapi, dan seterusnya. Ini kan tidak komunikatif.

Saya pernah mengatakan dalam Kongres Bahasa Jawa begini. Kalau ingin bahasa Jawa lestari, tetap hidup, ya, harus ada pelajaran bahasa Jawa di sekolah. Bahasa Jawa harus jadi pelajaran wajib yang menentukan kenaikan kelas dan kelulusan murid. (*)



PEMRED PALING SENIOR DI INDONESIA

TAK salah jika Moechtar (86 tahun) mendapat penghargaan sebagai Tetua Wartawan oleh pemerintah pada 1998. Maklum, sebagian besar hidup pria kelahiran Pacitan, 22 Februari 1925, ini diabdikan di dunia jurnalistik. Boleh Jadi, Moechtar merupakan pemimpin redaksi tertua di Indonesia.


Menekuni profesi wartawan sejak 1950, sebagai wartawan koran Espres, Moechtar terus bergelut dengan jurnalisme sampai saat ini. Kepiawaiannya menulis dalam bahasa Jawa membuat Moechtar diajak bergabung dengan PANJEBAR SEMANGAT sejak 1982.

“Saya merupakan satu-satunya orang di luar keluarga besar Imam Soepardi (alm) yang menempati key position di PANJEBAR SEMANGAT. Sebelum di PS, saya bekerja sebagai redaktur harian Bhirawa,” ujar Moechtar yang didapuk sebagai pemimpin redaksi PS pada tahun 2000.

Berbeda dengan media-media yang semakin marak di era reformasi, menurut Moechtar, majalah PS yang berkantor di Jalan Bubutan 85-B Surabaya ini punya misi dan idealisme yang sulit dikompromikan. Yakni, melestarikan bahasa Jawa. Jangan sampai tak ada lagi media massa berbahasa Jawa di tanah air, khususnya Jawa Timur.

Karena itu, ketika sejumlah pihak ikut menerbitkan majalah berbahasa Jawa, Moechtar justru menyambut dengan antusias. Media-media itu tidak dilihat sebagai kompetitor, pesaing bisnis, melainkan mitra untuk menguri-uri bahasa Jawa. Sayang, kini hampir semua media-media berbahasa Jawa itu tinggal nama.

“Ada yang hanya terbit dua tiga kali, kemudian tutup seterusnya,” ujar Moechtar sembari menyebut salah satu media terbitan Ponorogo.

Mengapa media-media berbahasa Jawa justru sulit hidup di tengah komunitas masyarakat yang berbahasa Jawa?

Kompleks persoalannya. Menurut Moechtar, anak-anak muda sekarang kurang berminat mempelajari bahasa Jawa, apalagi berlanggan majalah berbahasa Jawa seperti PS atau Jaya Baya. Orang cenderung berorientasi ke bahasa Indonesia yang dianggap mudah.

“Harus diakui, bahasa Jawa itu memang sulit. Ada unggah-unggah, kemudian ada ngaka, krama. Bahasa Jawa juga sulit untuk dipakai mencari pekerjaan. Maka, orang lebih senang belajar bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Mandarin. Orang tua juga tidak mendidik anak-anaknya untuk berbahasa Jawa,” tukasnya.

Meski begitu, Moechtar bersyukur karena majalah PS yang didirikan almarhum dr Soetomo, yang juga pendiri Boedi Oetomo, pada 1933 itu masih bisa eksis sampai hari ini. “Malah sekarang ini kalangan menengah ke atas pun sudah menjadi pembaca PS,” akunya. (hurek)



BIODATA SINGKAT

Nama : Drs. Moechtar
Lahir : Pacitan, 22 Februari 1925
Istri : Ismi Suarni (alm)
Anak : Bambang Guratno, Wijiasri Utami, Teguh Asri Yuwono, Retno Asri Lestari, Muh Arifin Sani (alm)
Pekerjaan : Pemimpin redaksi Panjebar Semangat
Alamat : Jalan Pucang Asri I/9 Surabaya

Pendidikan
HIS Pacitan
MULO Jogjakarta
HIK Jogjakarta
Sekolah Guru Menengah Laki-Laki (SGML)
Sekolah Menengah Tinggi Jogjakarta
UII Jogjakarta (Fakultas Psikologi)
Universitas Indonesia, Jakarta (Publisistik)

Penghargaan
Piagam Tetua Wartawan (1998)
Bintang Kencana Budaya/Piagam Budaya (2001)
Hadiah Sastra Rancage (2003)


Dimuat Radar Surabaya edisi Minggu 13 Maret 2011

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

13 March 2011

Kolekte Rp 5.000 dan Rp 500.000




Orang Flores yang baru pertama kali ikut misa di gereja-gereja di kota besar macam Surabaya, Jakarta, Semarang, atau Jogjakarta biasanya terkagum-kagum dengan kolekte. Jumlah uang kolekte yang terhimpun di Jawa memang bukan main besarnya, tentu saja dibandingkan dengan kolekte di NTT.

“Ini bukti bahwa umat Katolik di Jawa sangat peduli pada perkembangan gereja mereka. Kita di sini pun harus belajar untuk memberi. Menyisihkan sedikit uang untuk kolekte,” begitu omongan yang saya dengar dari beberapa tokoh umat ketika saya pulang kampung di Flores Timur belum lama ini.

Biasanya, cerita tentang kehebatan kolekte di Jawa selalu dijadikan bahan untuk memotivasi umat Katolik di Flores untuk rajin memberikan sedekah atawa kolekte. Bahwa gereja hanya bisa hidup dan berkembang jika didukung umat. Dan dukungan itu tak hanya sekadar omongan, pidato, tapi juga materi alias uang.

Sudah hampir 40 tahun tak ada lagi kiriman uang dan material dari luar negeri, khususnya Belanda dan Jerman, untuk gereja-gereja di Flores. Gereja-gereja di Indonesia harus bisa mandiri. Pastor-pastor harus dikasih makan. Gereja yang rusak di Flores Timur harus diperbaiki sendiri. Tidak bisa lagi minta tolong romo-romo misionaris yang kaya macam Pater Geurtz SVD, Pater Willem van der Leur SVD, Pater Eugene Schmidtz SVD, Pater Lorentz Hambach SVD, Pater Trumer SVD, Pater Dupont SVD, atau Pater Bode SVD yang semuanya sudah lama kembali ke Rumah Bapa.

Bicara soal kolekte dan support untuk gereja, umat Katolik di Jawa memang hebat. Kolekte di kota-kota besar, khususnya di “gereja-gereja elite” memang dahsyat. Gereja seperti bisa bikin apa saja dengan aliran duit yang sangat lancar. Gereja benar-benar mandiri, bahkan bisa menyisihkan sebagian dana untuk subsidi silang ke gereja-gereja miskin di pedesaan.

Misa hari Minggu di gereja-gereja Katolik di Surabaya Raya [ada 17 paroki di Surabaya, 3 paroki di Sidoarjo, 1 paroki di Gresik] paling sedikit tiga kali. Di Katedral Surabaya, bahkan digelar misa enam kali. Ditambah misa pemberkatan pernikahan, ya, bisa delapan atau sembilan kali. Bisa dibayangkan berapa banyak kolekte yang masuk.

Minggu pagi (13 Maret 2011), seperti biasa, saya ikut misa di Gereja Paroki Santa Maria Tak Bercela. Gereja Ngagel ini termasuk salah satu ‘gereja kaya’ di Surabaya. Tapi secara pribadi saya kurang sreg dengan cara menghimpun kolekte ala Ngagel. Mereka tidak pakai kantung kain macam di gereja-gereja lain, tapi wadah terbuka dari plastik.

Karena itu, duit kolekte yang masuk ke wadah itu bisa dilihat secara telanjang. Secara psikologis, orang sungkan kalau hanya menyetor Rp 5.000 atau Rp 10.000 ketika melihat umat di sebelah kasih Rp 100.000. Sistem kolekte terbuka ini memang efektif untuk memperbesar jumlah kolekte, tapi kurang enak bagi umat yang duitnya pas-pasan.

Tadi pagi, saya kembali dibuat tak berkutik ketika melihat umat yang duduk bersebelahan dengan saya memberikan kolekte Rp 500.000. Ayah, ibu, dan tiga anak masing-masing memasukkan uang Rp 100.000 ke dalam wadah plastik berwarna biru itu. Apa boleh buat, saya hanya bisa kasih Rp 10.000. Mau ambil Rp 50.000 kok dompetku sudah tipis. Hehehe....

Tentu saja, kita semua senang kalau umat berlomba-lomba memberikan duit banyak untuk kolekte di gereja. Tapi, menurut saya, wadah penampungan uang kolekte yang terlalu terbuka kurang enak bagi umat berpenghasilan pas-pasan. Bukan tidak mungkin orang miskin enggan ke ikut misa di gereja karena sungkan dengan kolekte.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Nostalgia Artis Lawas





Senang juga melihat artis-artis lama beraksi lagi di acara Zona Memori Metro TV. Bintang-bintang musik era 1980-an dan 1970-an, kemudian 1990-an, tampil kembali di muka publik. Menyanyi lagu-lagu lama yang bikin mereka ngetop.

Tapi, ya, namanya usia memang sulit diajak kompromi. Artis-artis yang usianya di atas 40, 50, bahkan 60... di Indonesia sudah tak bisa lagi disebut artis. Mereka bukan lagi penyanyi yang dulu kaset-kasetnya kita beli, kita kejar untuk sekadar bersalaman atau minta tanda tangan.

“Saya ini tiga bulan lagi sudah jadi nenek lho,” kata Mega Selvia yang malam itu menyanyi bersama dua rekannya, Gladys Suwandi dan Nindy Ellese.

Trio instan bentukan JK Records pada 1990-an ini memang tak lagi ceriwis. Mereka sudah jadi orang biasa yang tak lagi berurusan dengan rekaman atau show. Hidup Mega Selvia dan kawan-kawan sudah berubah drastis.

Nindy Ellese bahkan lebih sering muncul di gereja-gereja karismatik untuk kasih kesaksian, cerita pengalaman jatuh-bangun sebagai artis 1980-an. Nindy lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca Alkitab, tampil di KKR, dan sejenisnya.

Lex’s Trio, trio yang lebih senior, malam itu tampil bagus, tapi juga sulit berkompromi dengan usia. Waktu, usia, ternyata ‘musuh besar’ artis-artis di Indonesia. Dan, karena itu, mereka-mereka ini hilang ditelan waktu pula.

Ada juga Trio Libels yang masih kompak dengan lagu-lagu rancak. Ketiga bintang 1980-an ini secara kualitas jauh lebih bagus ketimbang trio-trio lain yang tampil di Zona Memori. Tapi karir musik mereka rasanya sudah lama tamat.

Yani sibuk di Malang mengurus kafe. Ronny di Jakarta dengan rutinitas hidup, urusan cari duit. Edwin sering jadi pembawa acara di TVRI. Praktis, Trio Libels ini sudah lama bubar atawa nonaktif.

Sebagai penggemar musik era 1980-an dan 1990-an, saya tentu senang melihat bintang-bintang lawas muncul lagi di televisi. Tapi juga sedih karena mereka muncul dengan status ‘bekas bintang’. Bukan bintang yang tetap awet meski usia terus menumpuk macam Rolling Stones, Iron Maiden, atau Deep Purple.


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

11 March 2011

Olivier Johannes Raap Londo Jowo



Olivier bersama Paulina Mayasari, koordinator Melantjong Petjinan Soerabaia.

Kecintaannya yang luar biasa terhadap eksotika Oud Java, Jawa tempo doeloe, membuat Olivier Johannes Raap suka blusukan dari kampung ke kampung. Pria asal Den Haag, Belanda, ini tengah mencari bahan untuk menyusun buku tentang Jawa.

DI kalangan pencinta sejarah di jagat maya, Olivier Johannes Raap lebih dikenal sebagai Priyambodo Prayitno, atau Mas Pri. Pemilik laman www.djawatempodoeloe.multiply.com ini bahkan menulis home town-nya: Surabaya.

Dan, biasanya, para pengguna internet tak meragukan klaim Olivier mengingat Mas Pri ini sangat fasih menulis dalam bahasa Indonesia. Dia pun punya banyak informasi tentang berbagai kota di Pulau Jawa berikut keunikan bangunan-bangunan dan kampung-kampungnya.

Tidak hanya Surabaya. Hampir semua kota di Jawa, mulai dari Bandung, Bogor, Jakarta, Semarang, Jogjakarta, Blitar, Jember, hingga Banyuwangi sudah pernah diubek-ubek bule yang ramah ini. “Saya memang senang jalan-jalan ke tempat yang ada kaitannya dengan sejarah,” ujar Olivier kepada saya ketika mengikuti acara Melantjong Petjinan VI, belum lama ini.

Saat itu Olivier alias Mas Pri sedang berkunjung ke Hok An Kiong, kelenteng tertua di Jalan Cokelat Surabaya. Olivier memperhatikan dengan saksama arsiektur kelenteng serta kawasan pecinan dengan bangunan-bangunan tua itu.

Pria berdarah campuran Belanda dan Perancis itu sehari-hari hanyalah seorang karyawan toko buku di Den Haag. Selain buku-buku, Olivier gemar mengoleksi prangko yang ada kaitannya dengan sejarah, khususnya Jawa. Foto-foto di prangko lawas, yang rata-rata dijepret pada tahun 1900-an itu, ‘memaksa’ dia untuk datang langsung ke Indonesia. Misi utamanya adalah mencari lokasi foto prangko tempo doeloe itu untuk dijepret kembali.

Dia meneliti terus-menerus cerita setiap foto itu, kemudian mengoleksi peta Surabaya dari tahun ke tahun sejak 1800. “Saya ke Surabaya ini untuk menyelesaikan buku saya. Mudah-mudahan bisa selesai sesuai rencana,” katanya dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar.

Tinggal di sebuah hotel tua, tetapi murah dan eksotis, Olivier setiap hari blusukan ke kampung-kampung untuk mencicipi makanan rakyat. Tak heran, Olivier sangat dikenal warga di perkampungan, termasuk para tukang becak. Dia juga senang menikmati angkutan kota atau bus yang dijejali penumpang ketimbang naik taksi atau menyewa kendaraan pribadi.

Justru dengan cara inilah, Olivier banyak menggali informasi dari tangan pertama di lapangan. Dia kemudian sering diminta menjadi pemandu untuk teman-temannya, sesama orang Belanda, yang melancong ke Surabaya. “Hampir semua kampung lama sudah saya datangi,” katanya.

Namun, dia sedih ketika melihat sejumlah bangunan tua yang kerap dia kunjungi dibongkar pemiliknya untuk dijadikan ruko. Atau, direnovasi total dan dibuat bangunan yang baru sama sekali.

Lantas, kapan proyek buku Jawa tempo doeloe-nya rampung?

“Mudah-mudahan bulan Mei,” tegasnya. (rek)




COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

10 March 2011

Raos Pacinan di Gempol




Kiprah etnis Tionghoa dalam perang melawan VOC belum lama ini diungkap Daradjadi Gondodiprojo dalam bukunya yang berjudul Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa Lawan VOC. Selama tiga tahun perang yang dimulai dari Batavia (Jakarta) sejak 1740 ini dipimpin Souw Phan Ciang alias Kapitan Sepanjang.

Daradjadi menggunakan berbagai dokumen dan arsip kraton untuk membabarkan kiprah etnis Tionghoa dalam perjuangan melawan eksploitasi kompeni Belanda itu. Di antaranya, Babad Tanah Jawi, Babad Pangeran Sambar Nyawa, serta arsip-arsip penting kraton.

Perlawanan warga Tionghoa itu, menurut Daradjadi, bermula ketika tentara VOC menangkap warga Tionghoa di Batavia dan sekitarnya pada Februari 1704. Buntutnya, sekitar 100 orang Tionghoa di Bekasi dan Tanjung Priok menyerang penjara untuk membebaskan kawan-kawannya yang ditahan.

“Yang memimpin perlawanan ini tak lain Kapiten Sepanjang,” jelas Daradjadi. Sejak itulah Kapiten Sepanjang yang bekerja sama dengan tentara Jawa di Jogjakarta dan Solo, kemudian di-backup pasukan dari Madura, bersama-sama angkat senjata melawan VOC di seluruh Pulau Jawa. Perang besar itu berkecamuk hingga ke Jawa Timur.

Salah satu tetenger atau saksi sejarah Perang Patjinan terdapat di kawasan Desa Carat, Gempol, Pasuruan. Di kawasan perkebunan tebu itu terdapat bangunan cagar budaya yang dikenal sebagai Raos Pacinan. Ada dua arca besar terbuat dari batu.

Sayang, kondisi arca di Raos Pacinan itu sudah lama rusak. “Katanya, dulu kedua arca di sini dirusak oleh orang-orang tertentu. Ada salah paham karena penduduk rupanya tidak paham kalau itu merupakan situs bersejarah yang perlu dilindungi,” ujar Bambang, karyawan peternakan bebek yang terletak tak jauh dari Raos Pacinan.

Setelah dikelola Dinas Purbakala, kondisi Raos Pacinan sudah jauh lebih terawat. Kompleks Raos Pacinan dibuat permanen, bahkan dilengkapi taman yang cukup bagus. Lengkap dengan plang berisi larangan merusak bangunan cagar budaya itu. “Tapi, ya, pengunjung tidak bisa melihat bentuk arcanya karena memang sudah nggak karuan,” tukas Bambang.

Melihat kiprahnya dalam perjuangan melawan penindasan Belanda, khususnya VOC, Daradjadi Gondodiprojo meminta pemerintah untuk segera memproses Kapitan Sepanjang sebagai pahlawan nasional. Sejumlah sejarawan pun menilai pemimpin perlawanan Tionghoa ini memang memenuhi semua kriteria sebagai pahlawan nasional.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

08 March 2011

Riski Nurilawati Penyanyi Tunanetra




Sekitar 1.500 hadirin yang memenuhi Gedung SIBEC Surabaya, pekan lalu terpukau mendengar suara emas Riski Nurilawati. Gadis berusia 19 tahun ini memang sangat fasih membawakan lagu-lagu pop Mandarin pada Malam Kesenian Indonesia-Tiongkok, Minggu (27/2/2011). Padahal, Riski yang asli Surabaya, non-Tionghoa, seorang tunanetra.


Oleh Lambertus Hurek

Kontan saja, para undangan yang sebagian besar pengusaha dan tokoh masyarakat Tionghoa Surabaya pun berdecak kagum. Konsul Jenderal Tiongkok Wang Huagen bahkan secara khusus datang menghampiri Riski dan menjabat tangannya. Saking simpatinya, Pak Konsul pun menanyakan apa kebutuhan Riski yang paling mendesak. “Saya bilang laptop untuk kuliah,” ujarnya.

Wang Huagen pun segera menghubungi para pengusaha yang tergabung dalam Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS). Dan, Jumat (4/3/2011) siang, Konjen Tiongkok bersama para pengusaha datang ke ruang rektorat Unesa untuk menyampaikan bantuan laptop spesial.

Selain cerdas, putri bungsu dari empat bersaudara pasangan Sutikno dan Suwati ini sudah mengoleksi belasan trofi lomba menyanyi dan cerdas cermat yang diikutinya sejak duduk di sekolah dasar. Para pengusaha Tionghoa, khususnya Liem Ouyen, ketua PMTS, terkaget-kaget setelah mengetahui bahwa Riski ternyata mampu menghafal sekitar 350 lagu pop Mandarin. Padahal, Riski sama sekali tidak pernah ikut kursus atau mempelajari bahasa nasional Tiongkok itu di sekolah.

“Anak itu memang istimewa. Dia punya kekurangan, tapi dikaruniai kemampuan memori yang luar biasa,” puji Liem Ouyen ketika mendampingi Rektor Unesa Prof Dr Muchlas Samani.

Bagaimana perasaan Anda ketika dikunjungi Konjen Tiongkok bersama para pengusaha Tionghoa Surabaya?

Saya benar-benar kaget karena responsn Pak Konjen begitu cepat. Saya baru ngomong soal laptop itu hari Senin, kemudian Rabu saya dikontak, dan Jumat sudah diserahkan. Alhamdulillah! Laptop ini sangat berarti bagi saya untuk mengikuti perkualiahan, karena saya kan tidak bisa membaca secara langsung.

Anda kuliah bersama mahasiswa-mahasiswa normal?


Ya. Mahasiswa yang tunanetra hanya dua orang: saya dan Ninis. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya karena saya harus menyesuaikan diri dengan mereka. Bukan mahasiswa-mahasiswa dan dosen yang menyesuaikan diri dengan saya.

Lalu, bagaimana Anda menyerap bahan-bahan kuliah atau buku teks?


Caranya, ya, dengan laptop itu. Laptopnya sih laptop biasa, cuma diinstal khusus dengan program Jaws. Dengan program itu, maka laptopnya akan secara otomatis membacakan bahan-bahan kuliah untuk saya. Saya hanya mengandalkan ingatan dan suasana hati untuk mengingat semua informasi tersebut. Laptop itu sangat asyik karena dia tidak akan capek, marah, atau bosan. Lain halnya kalau yang membacakan itu teman sesama mahasiswa. Lama-lama mereka pasti akan bosan juga. Hehehe....

Jadi, tidak ada hambatan mengikuti kuliah?

Hambatannya, ya, dari saya sendiri. Sebab, bahan-bahan itu kan harus di-scan agar bisa dibaca oleh laptop atau komputer. Kadang-kadang malas juga nyekennya karena bahan-bahan yang harus di-scan cukup banyak.

Dulu, sebelum ada laptop, bagaimana Anda mengikuti pelajaran?

Ya, harus minta bantuan teman atau keluarga untuk membacakan buku-buku atau catatan. Saya juga memperhatikan betul suara guru-guru yang sedang mengajar. Kalau saya kurang ngerti, ya, saya datangi untuk bertanya.

Lantas, sejak kapan Anda mulai belajar menyanyi dan main piano?

Ceritanya, waktu kelas tiga SD saya sempat jadi penyiar Kids Radio di Graha Pena. Itu radio khusus untuk anak-anak. Di situ ada Kids Club yang punya kursus vokal dan piano. Sejak itulah saya mulai belajar menyanyi, khususnya lagu-lagu Mandarin.

Mengapa tertarik dengan lagu-lagu Mandarin?

Waktu itu ada sebuah acara, dan saya diminta tampil menyanyi. Guru saya kemudian minta saya belajar lagu Mandarin dari Teresa Teng berjudul Good Bye My Love. Saya pun belajar sendiri pakai kaset dan tape recorder. Akhirnya, saya bisa membawakan lagu itu dan jadi senang dengan lagu-lagunya Teresa Teng. Aku suka lagu-lagu Mandarin karena bisa bikin aku tidur, bisa bikin aku nangis. Pokoknya asyik deh!

Lantas, bagaimana Anda menghafal hingga 350 lagu Mandarin, belum termasuk lagu-lagu Indonesai dan Barat?

Menghafal lagu-lagu itu kan tidak bisa sekaligus, tapi perlahan-lahan selama berbulan-bulan. Dimulai dengan lagu Good Bye My Love ketika saya SD, lama-kelamaan kan koleksi lagu saya bertambah. Jadi, 350 lagu itu saya kuasai dalam tempo 10 tahun. Sekarang pun saya sedang menghafal lagu-lagu baru sehingga penguasaan lagu saya terus bertambah. (*)


BIODATA SINGKAT

Nama : Riski Nurilawati
Lahir : Surabaya, 20 Januari 1992
Profesi : Penyanyi tunanetra
Hobi : Menyanyi dan Cuci Pakaian
Artis favorit : Teresa Teng
Cita-cita : guru, pemusik

Pendidikan
SD Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya
SMP YPAB Surabaya
SMAN 10 Surabaya
Universitas Negeri Surabaya (Prodi Pendidikan Luar Biasa)

Penghargaan
Juara I lomba lagu Jepang antar-SMA tingkat Jatim, 2010
Juara I lomba menyanyi tingkat nasional antarsekolah inkulasi, 2008
Juara I vokalis festival band se-Jawa dan Bali, 2008
Juara I cerdas cermat antar-SLB, 2006
Juara I lomba menyanyi antar-SLB, 2006
Juara I lomba menyanyi Hipenca Jatim, 2005



COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

03 March 2011

Kapitan Sepanjang Panglima Tionghoa




Kiprah etnis Tionghoa dalam pentas sejarah Indonesia makin terkuak. Salah satu pemimpin Tionghoa melawan pasukan VOC adalah Souw Phan Ciang alias Khe Panjang atau Kapitan Sepanjang.

Kapitan Sepanjang menjadi panglima besar dalam Perang Sepanjang di Batavia, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur pada 1740-1743. Selama tiga tahun Kapitan Sepanjang berkolaborasi dengan pasukan Mataram (Jawa) dan Madura untuk berperang melawan tentara VOC.

Fakta sejarah ini dipaparkan Daradjadi Gondodiprojo saat meluncurkan bukunya yang berjudul Perang Sepanjang 1740-1743: Tionghoa-Jawa Lawan VOC di Toko Buku Petra-Toga Mas, Jl Pucang Anom Timur 5 Surabaya, kemarin (26/2/2011).

Acara launching dan bedah buku ini dihadiri sekitar 150 peserta. Hadir sejumlah tokoh Soerabaia Tempo Doeloe seperti Eddy Samson, Oei Hiem Hwie, Suparto Brata, serta Henry Najoan.

Daradjadi mengaku menggunakan berbagai dokumen dan arsip kraton untuk membabarkan kiprah etnis Tionghoa dalam perjuangan melawan eksploitasi kompeni Belanda itu. Di antaranya, Babad Tanah Jawi, Babad Pangeran Sambar Nyawa, serta arsip-arsip penting kraton.
“Saya ingin menyumbangkan informasi kepada masyarakat tentang salah satu perang yang jarang dibahas orang. Bahkan, tidak pernah diajarkan dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah,” kata Daradjadi.

Perlawanan warga Tionghoa terhadap kompeni di Batavia, menurut Daradjadi, meletus ketika tentara VOC menangkap warga Tionghoa pada Februari 1704. Bertepatan dengan tahun baru Imlek, sekitar 100 orang Tionghoa di Bekasi dan Tanjung Priok. Pihak Tionghoa melawan dengan menyerang penjara untuk membebaskan kawan-kawannya.

“Pemimpinnya tak lain Kapiten Sepanjang,” papar Daradjadi. Para petinggi VOC pun panik. Rumah-rumah warga Tionghoa pun digeledah. Karena tak berhasil menemukan pemberontak, VOC mulai melakukan pembantaian massal warga Tionghoa di Jakarta. Represi VOC ini tak ayal membangkitkan perlawanan semua warga Tionghoa di Jawa.

Perlawanan hebat kaum Tionghoa ini terus bergeser hingga ke Jawa Tengah. Pasukan Tionghoa yang bekerja sama dengan pasukan Mataram kemudian berperang habis-habisan melawan Belanda. Bahkan, mereka dibantu pasukan Cakraningrat IV dari Madura. Meski akhirnya kalah, pasukan Tionghoa-Jawa-Madura ini sempat membuat VOC kocar-kacir. Kapiten Sepanjang ‘menghilang’ ke Bali dan baru diketahui keberadaannya pada 1758.

Prof Dr Wasino dari Universitas Negeri Semarang, yang menjadi salah satu pembahas, menilai Sepanjang sudah sangat layak diangkat sebagai pahlawan nasional. Sebab, hampir semua kriteria pahlawan nasional sudah dipenuhi Sepanjang.

“Perjuangan Sepanjang ini bukan hanya sesaat, tapi terus-menerus. Dia juga berjuang bersama etnis lain dan tidak pernah menyerah,” tegasnya.

Prof Wasino menilai buku karya Daradjadi ini berhasil menyajikan sisi lain etnis Tionghoa yang selama ini diabaikan dalam sejarah Indonesia. “Cap bahwa orang Tionghoa hanya berdagang dan mencari keuntungan akan hilang setelah orang membaca buku Pak Daradjadi ini,” tegasnya. (*)

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

02 March 2011

Suhu Andreas Wejangi Wartawan



Buku AGAMA SAYA ADALAH JURNALISME karangan Andreas Harsono rupanya laku keras di Surabaya. Saya cek di dua toko buku, ternyata habis. Syukurlah, buku terbitan Kanisius, Jogjakarta, 2010, itu masih satu di Gramedia Manyar, Surabaya. Saya pun membeli buku bersampul merah itu. Lumayan murah, Rp 50.000.

Seperti sudah diumumkan di blognya, http://andreasharsono.blogspot.com, Andreas Harsono menyebut buku ini hanyalah ‘buku-bukuan’. Sekadar kumpulan catatan ringan, pendek-pendek, di berbagai tempat, termasuk di blognya. Kalau [hampir] semua naskah sudah ditayangkan di blog, mengapa harus membeli buku 268 halaman itu?

Ada teman yang beli karena penasaran. Jangan-jangan naskah di buku sudah diperkaya, lebih lengkap, panjang, dan mutakhir. Juga lebih mudah dibaca sambil tidur-tiduran ketimbang membaca di internet.

Saya sendiri sudah lama melihat Andreas Harsono ini ibarat seorang SUHU asal Hokkian (Fujian) di Tiongkok. Suhu jurnalisme. XINWENJIZHE SHIFU.

SUHU atau SHIFU dalam Putonghua (bahasa Mandarin) tidak sama dengan guru, dosen, pengajar, atau konsultan biasa. Suhu itu jauh lebih dalam maknanya. Shifu alias Suhu berperan sebagai orangtua, penasihat rohani, penanam nilai-nilai etika dan moralitas kepada para murid atau xuesheng.

Seorang suhu di bidang jurnalisme pun berbeda dengan pakar-pakar ilmu komunikasi atau pengurus dewan pers yang kasih pendidikan dan latihan wartawan, kemudian disangoni angpao, kemudian pulang. Atau, dosen fakultas komunikasi atau jurnalistik yang hanya berdiri di depan kelas tanpa mengenal karakter masing-masing muridnya. Sang Suhu ikut bertanggung jawab atas perkembangan si murid kapan saja diminta maupun tidak.

Maka, Andreas Harsono ini berhak dipanggil Suhu Andreas, shifu jurnalisme di Indonesia. Lihatlah, dia antusias menjawab Rudi Agung tentang jurnalisme Islam. Menjawab Handono tentang pendidikan jurnalisme di Pulau Jawa. Menjawab Luh Putu Ernila Utami tentang teknik dan filosofi menulis. Kasih penjelasan cara belajar menulis bahasa Inggris untuk Fauzul Muhammad.

Kasih masukan, sekaligus ngeroweng tentang cara merekrut wartawan yang kurang baik di Indonesia. Juga memberi wawasan tentang seksisme, rasialisme, dan sektarianisme kepada Sapariah Saturi yang tak lain istrinya sendiri. Semua itu diunggah di internet, sehingga siapa saja bisa mengakses ‘ajaran-ajaran’ Suhu Andreas dengan mudah dan murah.

Seorang suhu sejati memang tidak pernah pelit membagi-bagikan ilmu. Semakin dibagikan kepada sesama, ilmu itu bukannya habis, tapi bertambah-tambah.

Sebagai suhu, Andreas Harsono sudah lama mengambil jarak dengan rutinitas pekerjaan di newsroom. Arek Tionghoa Jember ini berada di luar pagar sebagai pemantau media. Dia pernah bikin majalah PANTAU yang memperkenalkan tulisan-tulisan panjang, naratif, dan mendalam. Dia tidak dibebani target menyetor sekian berita dan foto per hari. Karena itu, Andreas Harsono memang punya posisi yang layak untuk kasih petuah-petuah bijak di bidang jurnalistik.

Namanya juga suhu, di sepanjang 34 tulisannya, Andreas Harsono berkali-kali menekankan sejumlah poin penting yang sering diabaikan media di Indonesia. Sejak dulu Andreas Harsono memang konsisten membahas soal-soal ini: Sembilan elemen jurnalisme. By line. Pagar api. Pentingnya tulisan panjang, naratif. Sumber anonim. Investigative reporting.

Tulisan-tulisan Andreas Harsono ini mengingatkan pembaca, khususnya pekerja media, untuk selalu ELING LAN WASPADA di zaman yang makin wuedaan ini.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

01 March 2011

Atawatung Kampung Eksotik



Gereja Stasi Maria Perantara Atawatung di Lembata, NTT, yang tergolong bagus dibandingkan gereja-gereja stasi lain di pelosok NTT. [foto: Lambertus Hurek]


Gereja Atawatung di Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, NTT, memang sangat menarik. Terletak di pinggir laut, yang dipenuhi bebatuan, gereja Katolik ini punya arsitektur menarik.

Tinggi menjulang, sangat indah. Gereja Atawatung ini tak kalah indah dengan gereja-gereja di Pulau Jawa, termasuk gereja-gereja peninggalan Belanda. Jika ada semacam perlombaan di Lembata, saya bisa pastikan Gereja Atawatung termasuk salah satu gereja terbaik.

“Gereja ini kami bangun dengan swadaya masyarakat. Juga ada sedikit sumbangan dari donatur,” kata Daniel Demong Benikakan, salah satu tukang, yang juga penduduk asli Desa Lamagute, kepada saya.

Penggarapan dilakukan dengan cara manual. Tak ada alat-alat berat, alat bantu untuk menggarap menara yang menjulang macam di kota-kota besar. Semuanya digarap ala tukang-tukang kampung tempo doeloe. Tapi hasilnya, seperti saya saksikan sendiri, sungguh luar biasa. Dari luar, dalam... semuanya istimewa.

“Gereja Atawatung itu paling bagus di seluruh Ile Ape dan Ile Ape Timur,” puji beberapa orang kampung yang berada di Kupang.

Dan, itu sebabnya, saya merasa perlu jalan kaki dari Bungamuda ke Atawatung [sekitar 2,5 kilometer] untuk memotret Gereja Atawatung.

Gereja Atawatung, bagi saya pribadi, merupakan gereja paling berkesan dalam hidup saya. Di masa kecil, kami yang tinggal di Mawa (desa Napasabok), tetangga Atawatung, harus beribadah di situ. Perayaan ekaristi, ibadat sabda tanpa imam. Saya dipermandikan, sambut baru, mempelajari berbagai tradisi Katolik di Atawatung. Saya jadi hafal lagu-lagu gregorian versi Syukur Kepada Bapa juga di Gereja Atawatung ini.

Pemberkatan nikah alias sakramen pernikahan penduduk Mawa diterimakan di Gereja Atawatung. Kedua mempelai, para saksi, keluarga, umat... harus jalan kaki ramai-ramai ke Atawatung. Pengalaman yang tak pernah hilang dari ingatan saya meskipun saat ini penduduk Mawa sudah punya gereja sendiri, Gereja Stasi Mawa yang dulunya balai desa.

Nah, Gereja Atawatung yang cantik ini merupakan hasil renovasi total. Bangunan lama dibongkar habis. Kemudian di lokasi yang sama dibangun gereja baru dengan model konstruksi yang mirip, tapi lebih modern. Ini agar nuansa gereja lama yang dirintis misionaris-misionaris SVD macam Pater Lorentz Hambach SVD, Pater Lambertus Paji Seran SVD, Pater Geurtz SVD, Pater Willem van der Leur SVD, dan beberapa pater lama tidak hilang begitu saja.

Saya yang lama merantau pun tidak pangling dengan Gereja Atawatung. Sayang, saya tidak sempat ikut misa di dalamnya karena di Minggu pagi itu saya sudah misa di Gereja Mawa. Seharusnya saya ikut misa di Gereja Atawatung sekalian bernostalgia dengan masa-masa SD dulu.

Masa ketika lagu KEPADAMU BUNDA PERAWAN menjadi lagu paling favorit penduduk Atawatung dan Mawa. Masa ketika suara emas Kak Fransiska Ola, solis favorit dari Atawatung, sangat digandrungi umat di sana. Masa ketika Pater Geurtz selalu meminta umat untuk antre di depan Gereja Atawatung dan mengumpulkan batu-batu kecil (kerikil).

“Sambut taruh batu! Sambut taruh batu!” kata Pater Geurtz.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Gereja Ebak di Lembata




Jalan kaki dari Lamawara ke Ebak di Ile Ape Timur, Pulau Lembata, NTT, cukup melelahkan. Sekitar tujuh atau delapan kilometer. Lebih capek lagi karena harus pulang-pergi. Tapi, dasar sudah niat, rasa capek tak saya rasakan.

Saya justru bisa melihat pemandangan alam, debur ombak, batu-batu besar, pohon lontar, hingga pohon kelor yang tengah hijau-hijaunya. Maklum, saat itu, di awal tahun 2011, curah hujan cukup memadai di Ile Ape yang biasanya gersang itu.

Mengapa harus jauh-jauh ke Ebak, jalan kaki pula? Saya memang ingin sekali melihat kondisi gereja mungil, Gereja Stasi Ebak, yang tempo doeloe cukup cantik. Bangunannya bundar, beda dengan gereja-gereja stasi lain di Ile Ape. Bagaimana kondisinya sekarang?

Akhirnya, saya tiba juga di Desa Aulesa, nama lain Ebak. Tak banyak orang yang saya temui di jalan raya. Cuma, dari kejauhan saya dengar perang mulut antarsuami-istri khas kampung. Saling berbalas kata-kata kasar dan tak patut. Di pelosok kampung di Lembata memang nyaris tak ada rahasia di dalam keluarga. Semua orang tahu hampir semua kejadian di rumah tangga orang lain.

Orang-orang di luar Jawa memang belum mengenal apa yang disebut ‘ranah publik’ dan ‘ranah privat’. Campur-baur begiru saja. Maka, jangan heran kalau pejabat-pejabat di NTT, mulai gubernur, bupati, sampai camat, bisa dengan mudah memasukkan sanak familinya sebagai PNS, pegawai negeri sipil. Itulah sebabnya pemberantas KKN, khususnya nepotisme, menjadi sangat sulit di bumi NTT.

Nah, di pinggir pantai itu saya berdiri persis di muka Gereja Stasi Ebak. Bentuknya tak lagi bunder. Jauh lebih besar dan gemuk. Bisa jadi karena umatnya tambah banyak. Atau, untuk menampung umat dari stasi-stasi lain ketika Ebak jadi tuan rumah perayaan Natal atau Paskah. Di Ile Ape memang ada tradisi mengadakan misa raya bersama pada Natal dan Paskah secara bergiliran.

Saya benar-benar pangling. Pemandangan alam di sekeliling Gereja Ebak sudah berubah total. Termasuk jalanan yang sepi. Saya pun tak bisa berbincang dengan orang Ebak. Beda dengan gereja-gereja di Jawa yang selalu terbuka dan ada penjaga atau karyawan, juga puluhan umat yang beraktivitas setiap hari, gereja-gereja stasi (kampung) di NTT hanya buka hari Minggu.

Di luar hari Minggu atau hari besar kristiani, gereja-gereja ditutup rapat. Maka, saya tak bisa melihat interior Gereja Ebak seperti apa. Juga tak bisa berdoa singkat Bapa Kami dan Salam Maria seperti yang dilakukan orang-orang Lembata umumnya.

Setelah ‘pamit’ sama bangunan kosong itu, saya pun pulang. Jalan kaki lagi!

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Masjid Mawa Simbol Toleransi



FOTO: Masjid Nurul Jannah di Lembata, NTT.



FOTO: Ina Siti Kasa Manuk (kiri) dan Ina Masita Hurek, umat Islam di kampung saya.


Saat mudik ke kampung halaman awal 2011 ini saya mampir ke sebuah masjid sederhana di Desa Mawa, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT. Masjid beratap seng seperti rumah-rumah di kampung. Namanya tak pernah saya lupa: Nurul Jannah.

“Nurul itu artinya sinar. Jannah artinya surga. Nurul Jannah kira-kira berarti Sinar Surgawi. Insyaallah, masjid ini memberikan sinar surgawi kepada para jamaah di kampung,” kata Ama Imam Ansyar Paokuma (almarhum) kepada saya ketika masih kecil.

Ama Imam ini dulu sering sekali datang ke rumah saya, sekitar 200 meter dari masjid, untuk bersantai. Ngomong ngalor-ngidul. Termasuk bicara tentang perkembangan masjid, persiapan lomba kasidah, pelajaran mengaji untuk anak-anak, hingga masalah P3NTR.

Saya ingat betul istilah P3NTR, karena sering diulang-ulang, meski tidak tahu apa kepanjangannya. Tapi, yang jelas, P3NTR ini semacam petugas KUA (Kantor Urusan Agama) yang mencatat pernikahan orang-orang Islam di kampung saya, Lembata.

Saya bertemu Ama Hasan Wahon, penjaga sekaligus takmir Masjid Nurul Jannah. Terlalu lama meninggalkan Lewotanah membuat orang-orang kampung, termasuk Ama Hasan dan istrinya, Ina Maryam, tak lagi mengenal saya. Saya mula-mula sengaja merahasiakan identitas diri saya.

Saya bertanya rumah Ama Imam Paokuma yang sekarang sudah ambruk, tinggal fondasi. Mengku (anaknya Ama Imam) di mana sekarang? Diken di mana? Tuan di mana? Ina Sana (istrinya Ama Imam) di mana? Ama Imam dan keluarganya, yang merupakan tokoh agama Islam di kampung, bahkan di Lembata, memang sangat penting dalam hidup saya. Kami memang masih punya pertalian kekerabatan yang erat.

Saya langsung terbayang masa kecil ketika saya bersama teman-teman SD di kampung di pesisir Laut Flores itu bermain-main di lapangan, persis di depan rumah Ama Imam. Beliau ini punya selera musik yang cukup tinggi untuk ukuran orang Flores Timur pada masa itu. Ketika orang lain suka lagu-lagu Ida Laila, Rhoma Irama, atau Camelia Malik, Ama Imam justru sangat senang lagu-lagu disco-nya Boney M:

By the rivers of Babylon, there we sat down;
ye-eah we wept, when we remembered Zion.


Hampir setiap pagi Ama Imam, sang takmir masjid itu, memutar lagu pop melankolis. Suara tape recorder sederhana, belum stereo khas era 1980-an, itu dipancarluaskan ke mana-mana melalui pengeras suara TOA berwarna biru. Itu menjadi hiburan gratis buat orang-orang kampung yang memang sangat haus hiburan.

Saya ingat betul lago pop kesayangan almarhum Ama Imam Ansyar:

Kasih... apakah salahku
Begitu kejam perlakuanmu
Kasih... tegakah hatimu
Membuatku menderita
.........................


Ama Hasan, yang fisiknya kian rapuh dimakan usia, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Termasuk perkembangan masjid dan umat Islam di kampung. Termasuk Ama Nurdin yang kini menjadi imam masjid, pengganti almarhum Ama Imam Ansyar Paokuma. Saya tidak heran kalau Nurdin jadi imam masjid karena sejak dulu paling fasih mengaji Alquran.

Saking fasihnya, gaya bicara bahasa daerahnya, bahasa Lamaholot, pun cenderung berlogat Arab. Ama Nurdin ini punya adik, Muhammad Sinun, yang juga pandai mengaji. Juga paling bagus (dan kasar) kalau bermain sepak bola di kampung. Sinun ini, ketika saya masih satu SD dengan saya di Mawa, selain menendang bola, juga doyan menendang kaki lawan. Hehehe....

Masjid Mawa ini dari segi arsitektur dan sebagainya tidak istimewa. Tapi, bagi saya, Masjid Mawa justru paling istimewa di Indonesia. Ketika kaum minoritas di Pulau Jawa mengeluhkan izin pembangunan gereja [atau pura atau vihara atau kelenteng], saya selalu ingat Masjid Nurul Jannah di Mawa.

Saya pun baru sadar bahwa untuk membangun sebuah tempat ibadah, perlu izin yang berbelit-belit, setelah hijrah ke Jawa. Dan izin itu belum tentu diloloskan. Bahkan, surat izin itu bisa dicabut kembali jika warga ramai-ramai mencabut surat izin itu. Bahkan, gereja-gereja yang sudah berusia puluhan tahun, seperti di Situbondo pada Oktober 1996, bisa dirusak dan dibakar begitu saja oleh massa, sementara polisi dan tentara hanya bisa menonton dari kejauhan.

Apa keistimewaan Masjid Nurul Jannah di Desa Mawa ini:

1. Masjid Nurul Jannah dibangun justru di tengah-tengah masyarakat Desa Mawa yang hampir semuanya beragama Katolik. Umat Islam hanya beberapa keluarga saja. Orang-orang di kampung saya tidak punya fobia ISLAMISASI atau KRISTENISASI. Yang Islam, ya, tetap Islam, begitu pula juga yang Katolik. Orang-orang kampung di Lembata sejak dulu tidak pernah didoktrin untuk mencurigai orang yang berbeda agama.

2. Tidak perlu repot-repot mengurus izin, minta tanda tangan sekian puluh orang di radius sekian ratus meter dari masjid yang akan dibangun. Mengapa?

Orang Mawa justru bangga kalau di desanya ada sebuah masjid yang bagus. Ini bisa mengangkat nama kampung. Sebab, sewaktu-waktu bisa jadi tuan rumah Idul Fitri bersama, di mana umat Islam dari berbagai kampung datang untuk salat berjamaan dan merayakan pesta Lebaran.

3. Dibangun secara gotong royong oleh masyarakat. Tak pandang apa agamanya, semua masyarakat bersama-sama membangun masjid itu pada tahun 1980-an. Sebelumnya hanya ada langgar (surau) kecil berdinding gedhek atau bambu.

4. Masjid Nurul Jannah dibangun justru ketika umat Katolik, mayoritas masyarakat desa, belum punya gereja. Umat Katolik di Mawa selama bertahun-tahun jalan kaki sekitar 1,5 kilometer untuk misa atau ibadat sabda di Gereja Stasi Atawatung. Bayangkan! Tidak punya gereja, tapi malah umat Katolik di Mawa lebih memprioritaskan pembangunan masjid!

Jujur, semangat kebersamaan, bukan sekadar toleransi, macam ini tidak pernah saya temukan di tempat-tempat lain di Indonesia. Yang justru saya tangkap dalam 20 tahun terakhir ini, khususnya di Jawa, Sumatera, dan provinsi-provinsi maju lainnya, ada semangat yang menggebu-gebu untuk mempersulit izin pembangunan gereja atau rumah ibadah kaum minoritas.

Bila perlu, izin yang sudah ada dicabut, sehingga jemaat keleleran. Bahkan, ada pejabat-pejabat dan wakil rakyat yang sangat senang melihat ada jemaat yang bikin kebaktian di kebun atau jalan raya. Juga ada pejabat-pejabat yang berkomitmen tak akan mengeluarkan selembar izin pembangunan gereja selama dia berkuasa. Bagi pejabat-pejabat tertentu, yang pintar, tapi picik, kaum minoritas harus digencet sampai penyet!

4. Kepala desa saat itu, Ama Carolus Nimanuho, yang beragama Katolik, memerintahkan rakyat untuk gemohing. Sama-sama bertanggung jawab mulai dari pembuatan fondasi hingga pembangunan masjid tuntas. Maka, saya melihat sendiri warga ramai-ramai angkut pasir, batu, dan material lain untuk membangun Masjid Nurul Jannah. Saya sendiri yang masih SD pun bersama teman-teman cilik ikut mengangkut pasir dan batu itu.

5. Ketika Masjid Nurul Jannah dipercaya sebagai tuan rumah Idul Fitri bersama sekecamatan, maka panitianya adalah seluruh warga masyarakat. Kepala desa menjadi koordinator untuk menyukseskan hajatan besar itu. Dan umat Islam dari berbagai kampung yang jauh itu menginap di rumah-rumah penduduk Mawa yang sebagian besar Katolik itu.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

Pantai Hadakewa yang Eksotik





Mobilitas warga di Pulau Lembata, NTT, sejak dulu tergolong rendah. Sangat jarang ada orang bepergian ke kecamatan-kecamatan lain. Termasuk kecamatan yang berbatasan. Orang baru jalan-jalan kalau ada keperluan yang sangat penting, misalnya belanja di Lewoleba. Atau, ada acara adat di luar kecamatan.

Karena itu, saya gembira sekali akhirnya bisa menginjakkan kaki di Hadakewa. Nama yang sangat terkenal di Lembata setelah Lewoleba yang sekarang jadi ibukota Kabupaten Lembata. Hadakewa juga punya reputasi bagus, menurut saya, karena masyarakatnya rata-rata punya kemampuan berbahasa Indonesia (gaya Lewoleba) dengan lebih baik daripada masyarakat di kampung saya, Ile Ape.

Jalan raya ke Hadakewa cukup lebar dan beraspal. Tapi, sayang, terlalu banyak lubang. Pemerintah Kabupaten Lembata rupanya belum punya anggaran untuk memperbaiki jalan-jalan raya utama. Pemkab kayaknya lebih sibuk bikin berbagai infrastruktur baru macam kantor-kantor pemkab dan dinas di Lamahora. Bahkan, jalan raya di Lewoleba pun tak mencerminkan sebuah ibukota kabupaten.

Saya menghentikan sepeda motor, kemudian memotret Gereja Hadakewa. Sebuah gereja Katolik yang terkenal. Rupanya, bangunan ini baru direnovasi sehingga terlihat kinclong. Suasana sepi-sepi saja. Tak ada petugas atau aktivitas jemaat karena memang bukan hari Minggu.

Saya kemudian meneruskan perjalanan menuju pantai wisata, tempat favorit piknik orang-orang Hadakewa dan sekitarnya. Lautnya tenang. Pasir membentang luas. Beda dengan pantai di Ile Ape yang air lautnya ganas. Di pantai itu kita bisa melihat Gunung Api (Ile Ape) yang murung.

COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK