16 February 2011

Sioe Ming Guru Mandarin di Sidoarjo



Oleh Lambertus Hurek

Selama tiga dekade Chen Sioe Ming harus bergerilya untuk mengajar bahasa Mandarin dari rumah ke rumah di Surabaya dan Sidoarjo. Kini, guru senior ini gembira melihat bahasa Mandarin kembali dipelajari di sekolah-sekolah.

Begitu lulus dari sebuah Sekolah Guru Atas (SGA) Tionghoa di Surabaya, Chen Sioe Ming langsung diberi kesempatan untuk mengajar di sekolah dasar Tionghoa di kawasan Kranggan, Surabaya. Berbeda dengan kebanyakan warga Tionghoa yang membuka usaha dagang, Sioe Ming memanfaatkan ijazah SGA-nya untuk mengajar, mengajar, dan mengajar.

“Pokoknya, saya mulai mengajar di sekolah mulai tahun 1960. Dunia saya memang tidak bisa lepas dari sekolah,” cerita Chen Sioe Ming kepada saya di kediamannya, Jalan Raden Fatah Sidoarjo, Jawa Timur.

Seperti juga guru-guru lama yang digembleng di SGA atau SGB, Sioe Ming punya semacam panggilan jiwa sebagai pendidik. Menjadi guru adalah sebuah dedikasi, berbakti untuk mengajar dan mendidik anak-anak bangsa sebagai generasi yang berhasil dan maju di masa depan.

Sayang, kebahagiaan Sioe Ming sebagai guru (laoshi) bahasa Mandarin tidak bisa bertahan lama. Suasana politik di tanah air saat itu memang kurang kondusif, sarat konflik antara berbagai elemen bangsa. Dan meletuslah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Buntut peristiwa yang kemudian dikenal sebagai G30S itu, kehidupan warga Tionghoa di tanah air pun menjadi berubah drastis.

Sekolah-sekolah Tionghoa ditutup. Bahasa Tionghoa dilarang. Aksara Tionghoa pun tak boleh diperlihatkan di muka umum. Budaya dan tradisi Tionghoa diberangus secara sistematis. Sioe Ming sendiri, yang tidak paham seluk-beluk politik, terpaksa menerima kenyataan bahwa sekolah tempatnya mengajar pun dibredel oleh pengusaha.

“Sejak Gestapu itulah saya tidak bisa mengajar di sekolah lagi. Padahal, saya ini sudah kadung senang mendidik anak-anak di sekolah,” kata perempuan berusia 72 tahun ini.

Setelah turun Surat Perintah 11 Maret 1966, yang kemudian dikenal dengan Supersemar, dimulailah rezim Orde Baru yang dipimpin (pejabat) Presiden Soeharto. Alih-alih menghidupkan sekolah-sekolah Tionghoa, Presiden Soeharto justru mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang intinya melarang segala tradisi, budaya, dan bahasa Tionghoa di Indonesia.

Bahasa Tionghoa baik bahasa nasional Mandarin alias Putonghua maupun bahasa-bahasa dialek lokal, seperti Fujian atau Guangdong, diharamkan pemerintah. Chen Sioe Ming pun mengaku kelimpungan mengingat dia hanya punya kemampuan sebagai laoshi alias guru.

Merintis usaha dagang, bagi orang Tionghoa yang sejak awal memilih profesi sebagai pendidik, jelas bukan perkara mudah. “Wah, waktu itu saya khawatir sekali mengingat saya ini guru bahasa Tionghoa,” kenangnya.

No comments:

Post a Comment