25 February 2011

Rahasia Sehat Orang Hokkian



GERAK-GERIKNYA masih lincah. pendengarannya tajam. Memorinya pun sangat bagus. Hampir setiap hari Minggu siang, Bagio Gani (91 tahun) mengisi waktu luang dengan menikmati musik tradisional Tionghoa di kawasan Bunguran Surabaya. Kebetulan ada beberapa pemusik senior yang berlatih musik dan lagu-lagu klasik.

“Lagu-lagu dan musik di sini sudah sangat tua usianya. Jadi, sudah benar-benar klasik karena awet sepanjang zaman,” ujar Bagio Gani kepada saya, Minggu (20/2/2011). Bagio Gani seorang penikmat musik yang baik.

Meski kurang terampil memainkan musik tradisional asal negeri leluhurnya, Bagio dengan mudah merasakan kejanggalan manakala si pemain kurang pas memainkan nada-nada tertentu. Rajin mendengarkan musik berkualitas merupakan salah satu rahasia Bagio Gani yang tetap bugar di usia 91 tahun.

“Jangan sampai stres. Kamu orang boleh cari uang, sibuk kerja ke sana ke mari, tapi engkau jangan lupa menjaga engkau punya kesehatan. Kalian yang masih muda-muda mulai sekarang harus rajin olahraga,” begitu wejangan Yen Tjie Yao, nama Tionghoa ayah enam anak ini.

Kepada saya, Bagio Gani sempat menceritakan pengalaman merantau ke Surabaya pada 1938. Waktu itu penjajah Belanda masih bercokol di tanah air. Tiongkok sedang dilanda perang saudara antara kubu Guomindang dan Gongchandang. Kelaparan hebat, wabah penyakit, muncul di mana-mana.

Tjie Yao yang masih berusia 18 tahun nekat melarikan diri dari Fujian di Tiongkok Selatan dengan naik sebuah kapal. Sebagai orang yang kurang mampu, Tjie Yao tak membawa bekal yang cukup.

“Saya ini bondho nekat, bonek, karena ingin menghindar dari Guomindang (baca: Kuomintang). Guomindang sedang mencari pemuda-pemuda untuk dijadikan tentara di medan perang. Teman-teman di Tiongkok waktu itu takut setengah mati sama Guomindang,” kenangnya.

Menurut Tjie Yao, orang-orang muda yang ‘dibawa’ Guomindang biasanya tak akan pernah kembali ke rumahnya. Hilang tanpa bekas. Di mana makamnya, kapan meninggal, tak jelas. Karena itu, Tjie Yao lebih memilih nekat merantau ke Surabaya ketimbang dipaksa menjadi prajurit Guomindang. Pilihan merantau ke Indonesia, yang belum merdeka dan masih dalam suasana revolusi menjelang kemerdekaan, pun sebetulnya berisiko tinggi.

“Tapi saya memang sudah bulat tekad untuk mencari kehidupan di Hindia-Belanda. Lha, kalau saya ikut Guomindang, umur saya pasti tidak akan sampai 91 tahun seperti sekarang,” tukas pria yang murah senyum ini. (bersambung)




TIDUR DI ATAS GEROBAK

Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Bagio Gani yang baru datang dari Hokkian (Fujian), Tiongkok, tak tahu harus tinggal dan bekerja di mana. Dia mengaku tak punya kenalan atau kerabat yang lebih dulu merantau ke Surabaya.


“Tapi saya senang karena sudah terbebas dari Guomindang (baca: Kuomintang). Kalau saya sampai ikut Guomindang, ya, habis riwayat saya,” kenang Bagio Gani seraya tersenyum.

Karena itu, dia bertekad bekerja di bidang apa saja, termasuk jadi kuli kasar, untuk bisa menyambung hidup. Surabaya pada 1938, ketika Yen Tjie Yao (nama asli Bagio Gani) berusia 18 tahun, sudah dikenal sebagai kota yang cukup maju di Hindia Belanda bersama dengan Batavia (Jakarta) dan Semarang. Aktivitas perdagangan juga ada meskipun tidak sehebat sekarang.

Setelah mencari informasi ke mana-mana, Bagio Gani akhirnya diterima bekerja sebagai buruh kasar. Tukang pikul dan angkut barang-barang. Bagio mengaku senang meskipun harus bekerja mengandalkan otot-ototnya yang masih muda itu.

Dia berpikir, seandainya tidak nekat merantau ke Surabaya pun kehidupannya di Fujian, Tiongkok Selatan, tidak lebih baik. Bahkan, mungkin hanya tinggal nama setelah dipaksa ikut pasukan Guomindang yang sedang terlibat konflik hebat dengan Gongchandang (baca: Kungchantang) alias Partai Komunis Tiongkok.

“Saya syukuri saja nasib ini,” tutur pria berusia 91 tahun ini. Malam hari, Bagio bersama beberapa temannya tidur di dalam gerobak yang biasa dipakai untuk mengangkut barang-barang di siang hari. Dari hari ke hari, dia menjalani hidup yang sangat berat seperti ini.

Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, suasana perekonomian di Hindia Belanda pun berubah. Sebagaimana para perantau Hokkian lainnya, Bagio mulai merintis usaha pracangan kecil-kecilan. Jaringan pertemanan dan relasinya yang kian luas, khususnya di antara para huaqiao alias perantau Tiongkok, membuat usahanya berkembang.

“Saya tidak sampai jadi kaya, tapi cukuplah untuk hidup bersama istri dan anak-anak,” kata ayah enam anak ini seraya tersenyum.

Menurut dia, perjalanan hidup para huaqiao yang merintis usaha di Indonesia memang sangat berat dan pahit. Jarang ada perantau Tionghoa yang kaya. Semua benar-benar memulai usaha dari bawah. “Kalau diingat kembali cerita masa lalu, wah, kayaknya generasi muda sekarang sangat sulit membayangkannya,” tandas Bagio.



NASI MERAH DAN JAGUNG

Pekerjaan yang fisik ketika masih muda ternyata ibarat olahraga bagi Bagio Gani. Ini membuatnya tetap segar-bugar di usianya yang kini mencapai 91 tahun.


Di Kota Surabaya tempo doeloe, khususnya pada tahun 1950-an hingga 1960-an, banyak terdapat perkumpulan-perkumpulan olahraga dan gimnastik baik milik Tionghoa maupun peninggalan kolonial Belanda. Meski peralatannya tidak secanggih sekarang, pemuda-pemuda Tionghoa biasanya rajin berlatih di tempat-tempat kebugaran seperti itu.

Selain untuk olahraga, menurut Bagio Gani, perkumpulan-perkumpulan itu menjadi ajang sosialisasi. Menjalin hubungan di antara para perantau asal Tiongkok alias huaqiao. Apalagi, waktu itu orang-orang Totok seperti Bagio ini tidak bisa berbahasa Jawa atau Indonesia.

“Kami hanya bicara bahasa Tionghoa dialek Hokkian. Saya susah sekali bicara dalam bahasa Melayu,” cerita Bagio Gani.

Nah, di pusat kebugaran, semacam fitness center, itulah Bagio mengaku rajin berlatih angkat besi, angkat berat, dan membentuk otot-otot tubuhnya. Latihan dilakukan secara teratur meski tak ada target untuk ikut sebuah kejuaran resmi.

Bagio juga punya kebiasaan berolahraga lari dan jalan sehat selepas bangun pagi. Kebiasaan yang masih dirawatnya sampai sekarang.

“Pokoknya, tiap jam empat pagi saya mesti jalan kaki di dekat rumah saya. Jalan pagi-pagi itu bagus karena oksigennya masih bersih,” papar Bagio tentang resep umur panjang dan fisiknya yang bugar di usia kepala sembilan.

Bagi juga selalu menganjurkan anak-anak muda untuk memperhatikan asupan makanan. Usahakan mengonsumsi NASI MERAH dan JAGUNG. Jangan makan nasi putih melulu.

“Beras putih itu vitaminnya sudah hilang sewaktu diselep. Rasanya memang enak, tapi gak ada vitamin. Jagung bagus, beras merah bagus,” tegasnya.

Konsumsi buah-buahan dan sayur-mayur jangan dilupakan.

Banyak minum air putih.

Istirahat yang cukup. Pola atau irama hidup diusahakan teratur.

“Tidur lebih cepat supaya bangun paginya lebih awal. Setelah itu jalan kaki di sekitar rumah,” kata Bagio.

Suwun, Cak Bagio!
Kamsia!
Xiexie nin!


COPYRIGHT © 2011 LAMBERTUS HUREK

1 comment:

  1. Kampung halaman om di mana ya? karena saya juga sedang mencari silsilah nenek moyang saya. saya bermarga Yen

    ReplyDelete