21 February 2011

Pater Stanislaw Pikor SVD



Di usianya yang sudah terbilang senja, 75 tahun, Pastor Stanislaw Pikor SVD masih terlihat dinamis dan aktif melayani umat. Padahal, pastor asal Polandia ini sudah lama memasuki masa pensiun. Begitu cintanya dia dengan Indonesia, khususnya Surabaya, Pater Pikor -- sapaan akrabnya Stanislaw Pikor -- enggan pulang kampung untuk menikmati masa tuanya di Polandia.

Oleh LAMBERTUS HUREK


Saat saya temui di ruang kerjanya di Biara Soverdi, Jalan Polisi Istimewa Surabaya, pekan lalu, Pater Pikor sedang sibuk bekerja layaknya seorang tukang berpengalaman. Romo senior yang ramah dan murah senyum ini memang senang mencari kesibukan meskipun banyak teman dan relasinya meminta dia agar lebih banyak istirahat. Berikut petikan percakapan saya dengan Pater Pikor SVD:

Sudah berapa lama Pater bertugas di Surabaya?

Yah, sejak tahun 1978 saya diutus ke sini. Saya juga heran kok ternyata sudah 23 tahun lamanya saya tinggal dan bekerja di sini. Rasanya seperti belum lama.

Banyak pastor yang sering dimutasi ke berbagai tempat, sementara Pater bertahun-tahun ditugaskan di Surabaya. Apa tidak bosan atau jenuh?

Bosan? Jenuh? Saya tidak pernah mengalami yang namanya bosan atau jenuh. Sebab, saya hanya melaksanakan tugas perutusan untuk melayani umat dan masyarakat umum. Jadi, saya justru merasa senang dan bahagia berada di Surabaya.

Sudah banyak pastor misionaris yang kembali ke negara asalnya setelah pensiun untuk menjalani hari tua mereka. Mengapa Pater Pikor memilih menjalani masa pensiun di Kota Surabaya?

Hehehe. Saya tahu maksud pertanyaan Anda. Orang bisa meninggal di mana saja. Bisa meninggal di Polandia, di Indonesia, Belanda, Amerika Serikat... Memang ada saja keluarga atau kerabat (di Polandia) yang minta supaya saya pulang kampung. Tapi saya merasa punya jauh lebih banyak kenalan dan sahabat di Indonesia daripada di Polandia.

Jangan-jangan Pater sudah lupa dengan Polandia?

Oh, tidak! Saya ini sekali Polandia tetap Polandia! Tapi saya sudah mencintai Indonesia, sudah tinggal di Indonesia sejak tahun 1965, sehingga saya betah berada di sini. Yang penting, saya berusaha agar tetap menjadi orang yang berguna bagi masyarakat di sini.

Artinya, Pater ingin menyatakan tidak ingin pensiun meskipun sudah memasuki usia pensiun?

Dalam hidup ini, saya tidak kenal kata ‘pensiun’. Di SVD (Societas Verbi Divini, kongregasi atau ordo tempat Pater Pikor bernaung, Red) memang ada masa pensiunnya. Tapi saya sendiri merasa tidak pernah pensiun. Sebab, setiap hari saya masih aktif bekerja di bengkel. Dan itu tidak ada hari liburnya.

Bengkel apa itu?

Bengkel rohani. Hehehe.... Di bengkel rohani ini saya harus melayani orang-orang sakit baik yang membutuhkan perawatan rohani maupun jasmani. Saya juga membantu mengurus obat-obatan, mencarikan dokter, hingga memberikan Sakramen Minyak Suci. (Sakramen atau ritual khusus dari seorang pastor kepada umat Katolik yang sedang menderita penyakit gawat atau menjelang sakratul maut.)

Nah, di Kota Surabaya ini ada begitu banyak orang yang perlu dilayani di bengkel rohani. Ada banyak orang NTT seperti Anda, orang Jawa, Kalimantan, Sumatera... dari mana saja yang membutuhkan pendampingan. Karena itu, saya banyak berada di rumah sakit baik diminta maupun tidak. Pekerjaan seperti ini tidak mengenal kata pensiun.

Soal lain. Bagaimana Pater melihat kasus korupsi yang makin banyak terjadi di Indonesia?

Korupsi dan penyalahgunaan wewenang itu ada di mana-mana. Dan korupsi itu sudah ada sejak dulu. Jangan dikira di Eropa tidak ada korupsi. Tapi cara korupsinya mungkin lebih halus. Di China yang hukumannya sangat berat pun korupsi jalan terus sampai sekarang. Jadi, yang namanya korupsi itu bukan hanya monopoli orang Indonesia.

Lantas, apa usulan Anda untuk mengurangi korupsi?

Tegakkan hukum. Dan itu tugas pemerintah beserta aparat-aparatnya. Sebagai rohaniwan, saya hanya bisa mengimbau agar kita lebih takut akan Tuhan. Moralitas harus diperbaiki. (rek)



BIODATA SINGKAT

Nama : Stanislaw Pikor SVD
Lahir : Lwow, Polandia, 29 September 1935
Pendidikan : Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (Seminari Tinggi) di Polandia
Profesi : Pastor
Spesialisasi : Pastoral Orang Sakit
Tahbisan Imamat : Polandia, 30 Januari 1961
Ke Indonesia : 28 Agustus 1965
Tugas di Surabaya : 1978 di Biara Soverdi
Moto : If you have nothing to do, please don’t do it here.


Tiba Menjelang G30S

Di usia 30 tahun, Romo Stanislaw Pikor SVD harus meninggalkan Polandia, tanah airnya, menuju Indonesia. Peristiwa itu terjadi pada 28 Agustus 1965. Situasi politik di tanah air saat itu tidak menentu.

Sebulan kemudian, terjadi peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965. Romo Pikor bersama belasan pastor Polandia yang lain, termasuk Romo Josef Glinka SVD, pun harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sama sekali baru.

Romo Pikor langsung ditugaskan di Flores, Nusa Tenggara Timur. “Saya jadi dosen teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Ledalero,” cerita Romo Pikor seraya tersenyum.

Seperti para misionaris asal Polandia umumnya, Romo Pikor punya bakat bahasa yang besar. Dia dengan mudah mempelajari bahasa-bahasa baru. Karena itu, dalam waktu singkat, dia sudah mampu berbahasa Indonesia dengan baik. Dan dia dengan fasih menjelaskan berbagai konsep-konsep filsafat dan teologi di depan para mahasiswa STFT Ledalero yang dipersiapkan menjadi pastor.

Meski tergolong poliglot, menguasai sedikitnya tujuh bahasa di dunia, Romo Pikor selalu merendah. “Ah, saya ini tidak ada apa-apanya. Yang punya kemampuan bahasa hebat itu Pater Josef Pienazek. Umurnya kira-kira 84 tahun.
Dia tidak hanya bisa, tapi benar-benar lancar berbahasa Indonesia, Polandia, Jerman, Inggris, Prancis, Portugal, Swedia, Latin, Yunani, Ibrani, dan beberapa lagi,” tukasnya.

Kemampuan berbahasa para pastor senior ini tidak lepas dari sistem dalam pendidikan seminari tempo dulu. Kuliah filsafat dan teologi ditempuh tiga tahun, sementara bahasa Latin berlangsung selama empat tahun. Para calon pastor ini juga mempelajari bahasa Yunani dan Ibrani.

“Bahasa Latin itu bahasa mati. Artinya sudah tetap, tidak bisa berubah-ubah. Dan bahasa Latin ini menjadi dasar dari bahasa-bahasa modern di Eropa,” tegasnya.

Karena itulah, orang yang sudah menguasai bahasa Latin, dia akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa Eropa yang lain. (rek)



Dimuat di RADAR SURABAYA edisi 20 Februari 2011.
COPYRIGHT © 2011 CATATAN HUREK

5 comments:

  1. Cathy Davis - Winnipeg, Manitoba CANADA6:17 AM, March 24, 2011

    Terima kasih untuk menulis seperti artikel menarik tentang paman saya. Saya berbagi dengan ibu saya, yang sangat bangga dengan kakaknya! Maafkan kesalahan dalam tulisan saya, saya menggunakan penerjemah komputer :)

    ReplyDelete
  2. Senang saya membaca tulisan Lambert tentang Pater Pikor SVD. Saya ingat di tahun 1965, sekelompok pastor muda dari Polandia datang ke Flores dan mereka tinggal di Seminari Mataloko (Seminari St. Yohanes Berchmans, Todabelu). Sebagai siswa seminari kelas 1 yang baru masuk, kami anak-anak suka bercakap-cakap dengan para pastor Polandia ini, karena mereka sedang belajar bahasa Indonesia. Pater Pikor kemudian ditugaskan sebagai dosen di Seminari Tinggi Ledalero, sedangkan Pater Koslowsky dan Pater Ociesky mengajar di Mataloko; Pater Glinka ke Surabaya. Lain-lainnya saya lupa, tetapi mereka ada 8 orang pastor muda. Salam buat Romo Pikor dan terima kasih untuk Lambert atas tulisan ini.
    Ans Gregory da Iry - Bogor

    ReplyDelete
  3. rm pikor ini baik n ramah. salam damai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah saya bisa minta email atau no tlp romo pikor? Tolong. Saha sangat memerlukan beliau

      Delete
  4. Kabarnya beliau sekarang opname di RKZ perlu sumbangan darah A negatif.

    ReplyDelete