06 February 2011

Menonton Ki Anom Suroto



Asyik juga menonton wayang kulit di pendapa Kabupaten Sidoarjo, Jumat malam. Penonton membeludak, duduk lesehan beralas sandal atau plastik. Saya pun membeli sehelai plastik seharga Rp 1.000. Lesehan, beli kopi hitam Rp 2.000...

Baru kali ini, dalam 10 tahun belakangan, saya merasakan betapa masyarakat Sidoarjo sangat antusias dengan wayang kulit. Pergelaran wayang sih sering, tapi respons warga biasa-biasa saja. Tapi tidak pada acara puncak HUT Ke-152 Kabupaten Sidoarjo ini.

Mengapa rakyat begitu senang datang ke pendapa, duduk lesehan sesak-sesakkan?

Jawabnya ini: Ki Anom Suroto. Dalang asal Solo, kelahiran 1948, ini memang punya pesona luar biasa. Salah satu dalang kondang, bisa juga disebut terkondang, di Indonesia saat ini. Kharismatik!

Gaya bicara Ki Anom tidak berlebihan. Tak ada banyolan-banyolan ngeres macam beberapa dalam muda yang ingin jadi kondang. Iringan musik, sound system, grup lawak, sinden... serbakelas satu. Tampak sekali kalau Ki Anom Suroto benar-benar menjaga kualitas. Dan, dengan begitu, tarifnya pun naik dari tahun ke tahun.

Ki Anom Suroto tidak sendirian. Selepas dagelan, Ki Anom menepi. Giliran Ki Bayu Aji Pamungkas, putra Ki Anom Suroto, yang dikasih kesempatan tampil. Bayu Aji kebagian adegan perang yang dahsyat antara pasukan Pendawa dan Kurawa. Cerita klasik ini dilah Ki Bayu dengan sabetan yang prima. Musik menggelar kian mendukung suasana perang.

Hebat benar Ki Anom Suroto! Sang dalang senior ini berhasil mengkader anaknya sendiri, Bayu Aji, sebagai penerus kekondangannya. Namun, bagaimanapun juga Bayu Aji belum bisa lepas dari bayang-bayamg ayahnya.

Coba Ki Bayu Aju disuruh mendalang sendiri tanpa ditemani Ki Anom Suroto! Apakah penonton berduyun-duyun datang seperti di Sidoarjo? Waktu pulalah yang akan menjawab.

Meski dialog-dialog dalam bahasa Jawa kelas tinggi kurang saya pahami, malam itu saya merasa terhibur bisa berada di antara ribuan orang penggemar wayang kulit. Termasuk Bupati Saiful Ilah dan Wakil Bupati Hadi Sucipto.

Mudah-mudahan kesenian rakyat macam wayang kulit ini tetap lestari dan hidup di Kabupaten Sidoarjo. Matur nuwun Pak Bupati yang sudah bersedia nanggap wayang kulit ke pendapa.

No comments:

Post a Comment