22 February 2011

Melantjong Petjinan ke Markas Marga Liem



Selepas menikmati lontong cap go meh, sekitar 70 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia VI menuju ke markas Yayasan Lima Bakti di Jl Bunguran 31-33 Surabaya, Minggu (20/2/2011) siang. Para turis lokal ini menumpang enam bemo.

Rombongan diterima Liem Ouyen, tokoh masyarakat Tionghoa Surabaya, yang juga pengurus Yayasan Lima Bakti. Yayasan ini hanya menampung warga Tionghoa di Jawa Timur yang bermarga Liem alias Lin (dalam bahasa Mandarin).

Liem Ouyen dengan fasih menjelaskan sedikit latar belakang Lima Bakti. Menurut dia, perkumpulan ini didirikan pada tahun 1925 untuk menghimpun keturunan marga (she) Liem di Surabaya dan Jawa Timur umumnya.

“Visi dan misi kami semata-mata untuk kegiatan sosial. Saya tegaskan bahwa di sini semua anggota dilarang melakukan kegiatan politik praktis,” tegas Liem Ouyen.

Selama hampir 90 tahun, menurut Ouyen, Lima Bakti tak henti-hentinya melakukan bakti sosial untuk warga kurang mampu baik untuk masyarakat umum maupun di lingkungan marga Liem sendiri. Sebab, tidak semua warga Tionghoa, termasuk yang bermarga Liem, itu mampu secara ekonomi.

“Kita mendirikan rumah pendidikan, memberikan beasiswa, membantu korban bencana alam, hingga pengembangan seni budaya dan olahraga,” papar pengusaha yang bermarkas di Jl Kembang Jepun ini.

Liem Ouyen juga menceritakan sejarah nenek moyang atau leluhur marga Liem di Tiongkok yang bernama Pi-kan Kung. Keturunan Huangdi ke-46 ini lahir tahun 1160 sebelum Masehi. Karena berani menegur Raja Cou yang lalim dan gemar berfoya-foya, Pi-Kan Kung dibunuh pada 1123 SM. Akhirnya, istri Pi-kan yang hamil tiga bulan melarikan diri dan bersembunyi di hutan. Raja Chou kemudian dikalahkan oleh Kaisar Cou Wu Wang yang kemudian mendirikan Dinasti Chou.

Istri Pi-kan melahirkan seorang putra yang cerdas bernama Chuan. Karena lahir di hutan, Kaisar Cou menamakan anak ini Liem dengan nama kecil Cien. “Nah, Liem Cien inilah yang kemudian menjadi leluhur marga Liem yang tersebar di seluruh dunia,” ujar Ouyen.

Selepas mendengar uraian Liem Ouyen, peserta Melantjong Petjinan VI diajak melihat beberapa kegiatan para lansia di Lima Bakti. Ada kaligrafi Tionghoa alias shufa, musik tradisional Tionghoa, hingga catur gajah. Peserta sangat antusias menyaksikan praktik shufa klasik Tiongkok.

“Shufa ini memerlukan bakat dan keahlian tersendiri. Harus bisa tulisan yang kasar dan halus, paham syair-syair dan pepetah klasik Tiongkok. Saya sendiri pun tidak bisa membuat shufa seperti ini,” kata Liem Ouyen yang menjadi ‘pemandu wisata’ di Yayasan Lima Bakti.

Dari Lima Bakti, rombongan pelancong domestik ini mengakhiri petualangan dengan belajar bermain barongsai di Kelenteng Boen Bio, Jl Kapasan 131 Surabaya. “Rasanya capek juga, tapi kita jadi tahu beberapa tradisi Tionghoa di Surabaya,” kata Suparto Brata, sastrawan senior. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 22 Februari 2011

6 comments:

  1. sedikit bisa tahu sejarah Tionghoa di Surabaya.
    Thanks hurek!!!
    lalu foto2 lain saat jalan2 Jejak Pecinan dimana?
    (Yatim sbhakti)

    ReplyDelete
  2. jadi sedikit tahu sejarah Tionghoa Surabaya.
    Thanks Hurek!!
    lalu foto2 lainnya Jejak pecinan dmn?

    ReplyDelete
  3. marga Liem memang luar biasa. kayaknya marga terbesar n terkaya di indonesia. jadi ingat Liem Sioe Liong deh..

    ReplyDelete
  4. Mantab sekali berita acaranya mas hurek :D
    ayuk kapan melancong lagi :D

    ReplyDelete
  5. saya keluarga liem di bali ingin tanya susunan atau rangkaian sisilah marga liem dari permulaan sampai terakhir. kakek saya datang kebali kira2 th 1890 dari propinsi hok kian,kota chang cho,desa chang phu,daerah tenggara propinsi hok kian,ayah kakek saya bernama liem ping,dan kakek saya bernama liem hay sue,mohon di beri penjelasan terima kasih.homat saya Kusumantriliem@gmail.com

    ReplyDelete
  6. Mohon kontak wa atau bbm dari ketua perhimpunan marga Liem, nama Chinese saya adalah Liem Mey Hwa, ke pin bb saya: 579C64E3, terimakasih.

    ReplyDelete