08 February 2011

Mayoritas - Minoritas - Ateis



Setiap hari di kota-kota besar macam Surabaya selalu ada banyak turis atau ekspatriat dari Amerika, Eropa, Asia, Australia, hingga wilayah kutub datang. Tidak semua turis itu punya agama. Apalagi, mereka yang memang berasal dari negara komunis atau bekas komunis.

Di negara-negara Barat yang sekuler, agama mutlak menjadi urusan privat. Anda sangat tidak sopan ketika menanyakan apa agama seorang Barat, berapa kali sehari dia berdoa, ke gereja atau tidak, salat atau tidak, puasa atau tidak... dan seterusnya.

Negara Indonesia ini lain. Rakyat diwajibkan punya agama. Dan tidak boleh sembarang agama: harus salah satu agama yang diakui oleh negara. Saat ini ada enam agama yang 'diakui': Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu.

Sebetulnya ada juga agama Taoisme yang dianut sebagian warga Tionghoa, tapi selama ini dianggap ‘satu paket’ dengan Buddha-Khonghucu-Taoisme, yang kemudian disebut SANJIAO alias Tridharma. Hampir semua kelenteng di Indonesia, kecuali Boen Bio yang murni Khonghucu, terkait erat dengan Taoisme.

Bagaimana kalau Anda tidak memilih salah satu dari enam agama ini? No problem! Tenang saja.

Orang Sumba, NTT, di pedalaman banyak yang beragama Merapu. Dan itu aman-aman saja meskipun sudah lama mereka ‘dipaksa’ jadi Nasrani baik oleh pemerintah maupun misionaris. Kalau mau jujur, Merapu yang hanya dianggap tradisi budaya itu sudah dianut orang Sumba jauh sebelum para misionaris Barat datang menyebarkan agama Kristen Protestan dan Katolik.

Di Pulau Lembata, NTT, generasi kakek-nenek saya masih banyak yang menganut ‘agama asli’, kepercayaan etnis Lamaholot. Lera Wulan Tana Ekan. Agama asli Lamaholot yang membuat nenek moyang orang Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Lembata, dan Kabupaten Alor [semuanya di NTT] hidup selaras dengan alam.

Agama Lamaholot -- sebut saja begitu mengingat agama asli di Flores Timur ini memang tidak punya nama -- pelan-pelan tergusur oleh agama Katolik.

Meski agama Katolik diperkenalkan di Kepulauan Solor oleh misionaris Dominikan asal Portugal sejak 1510 [tahun lalu ada peringatan besar-besaran 500 tahun kedatangan agama Katolik di tanah Lamaholot], sampai sekarang agama Lamaholot masih dianut oleh warga lansia. Dan, hebatnya, kakek-nenek penganut agama Lamaoholot, yang buta huruf itu, tidak pernah korupsi, tidak pernah mencuri, pantang berbohong.....

Berbeda dengan orang-orang modern di Indonesia yang punya agama, suka menyebut nama Tuhan, hafal kitab suci, tapi doyan korupsi. Ingat, di Indonesia ini korupsi paling subur justru di Kementerian Agama. Bahkan, kalau tidak salah ada menteri agama yang dipenjara karena korupsi alias mencuri uang rakyat.

Kembali ke agama resmi yang enam tadi.

Walaupun Anda sudah menganut salah satu agama, misalnya Kristen, harus dipastikan bahwa aliran yang Anda anut tidak bertentangan dengan aliran utama (mainstream). Maka, Gereja Saksi Yehuwa atau Gereja Scientology, misalnya, sulit hidup di Indonesia.

Saksi Yehuwa memang sudah dilegalisasi, tapi karena dianggap menyimpang, sesat, oleh Kristen mainstream, sehingga harus bergerilya di bawah tanah. Dan itu membawa komplikasi di masyarakat karena gereja-gereja bawah tanah ini doyan melakukan 'penginjilan' dari rumah ke rumah, membagi-bagi buku atau traktat, tidak sungkan-sungkan mengajak orang pindah gereja atau pindah agama.

Di Flores, gereja-gereja Kristen beraliran pentakosta dan karismatik, yang sangat kental nuansa USA-nya, sangat sulit berkembang, bahkan ditolak rame-rame oleh masyarakat. Mengapa? Karena rakyat Flores itu secara tradisional berafiliasi dengan Gereja Katolik. Katolik di Flores itu, istilah saya, Katolik Inkulturasi. Gereja Katolik yang sudah menyerap secara luas berbagai tradisi budaya lokal Flores.

Karena itu, saya sangat sulit membayangkan gereja-gereja Katolik di Pulau Flores mengadakan perayaan ekaristi (misa) dengan gaya gregorian murni atau Misale Romanum murni ala misa yang dipimpin Paus Benediktus XVI di Vatikan seperti yang sering disiarkan di stasiun televisi INDOSIAR. Atau, misa ala komunitas gregorian di Kota Surabaya. Atau, misa dengan iringan orkes simfoni plus paduan suara motet, klasik, barok, atau romantik ala Eropa.

Budaya Flores telah melebur ke dalam liturgi sehingga menjadikan tradisi liturgi di Flores cenderung berbeda dengan liturgi Katolik di Pulau Jawa atau Pulau Kalimantan, misalnya. Akan sangat sulit mengajak orang Flores di kampung-kampung ikut kebaktian dengan puji-pujian sambil meloncat-loncat, jingkrak-jingkrak, bertepuk tangan ekspresif, plus teriakan 'Haleluya! Haleluya!'.

Saya kira, kasus Sekte Ahmadiyah di Indonesia menjadi masalah karena dia tumbuh di masyarakat Indonesia dengan latar belakang yang sama-sama kita tahulah. Indonesia tidak mengenal konsep hak asasi manusia (HAM) seperti di Barat. Tidak ada "kebebasan beragama", dalam arti bebas memilih agama apa saja sesuai selera atau keinginan. Juga tidak ada kebebasan untuk tidak beragama.

Orang HARUS beragama, paling tidak tercatat di kolom KTP, meskipun Anda tidak pernah mengikuti ritual atau syariat agamamu yang di KTP itu. Kalau Anda ngotot menyatakan tidak beragama, apalagi ateis, maka KTP, kartu keluarga, SIM, paspor, dan surat-surat lain tidak akan bisa dibuat. Anda pun tidak akan bisa bekerja sebagai PNS atau Polri atau TNI.

Akan lebih aman jika Anda pura-pura beragama meskipun hanya sekadar formalitas saja.

Opsi itu hanya enam, dan sebaiknya memilih agama mainstream yang dianut mayoritas. Sekte Ahmadiyah akhir-akhir ini dipersoalkan warga karena itu tadi: menyempal dari dogmatika mainstream.

Lantas, apa penyelesaikan kasus Ahmadiyah ini?

Di media massa sejak dulu muncul solusi khas Indonesia: BUBAR, kemudian TAUBAT NASUHA, kemudian back to mainstream. Ojo neko-neko! Ojo macem-macem! Ojo golek perkoro!

Tapi bagaimana kalau jemaat Ahmadiyah tetap bertahan?

Apakah surat keputusan bersama (SKB) bisa menjadi solusi?

Apakah pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah cukup untuk menuntaskan kasus ini?

Silakan direnungkan!

Saya langsung teringat kata-kata seorang teman, yang pernah tinggal selama belasan tahun di Australia dan Eropa. Di Indonesia, kata teman ini, jauh lebih aman orang-orang yang tidak beragama baik itu agnostik maupun ateis ketimbang penganut agama minoritas, apalagi sekte 'sempalan' macam Ahmadiyah atau Saksi Yehuwa.

Mengapa? Orang-orang yang tidak beragama [ateis, agnostik] ini tidak akan mengalami ancaman kekerasan. Tidak perlu capek-capek mengurus izin mendirikan rumah ibadah. Tidak perlu takut acara kebaktiannya dibubarkan massa karena ateis memang tidak butuh kebaktian. Tidak perlu cari tanda tangan sekian ratus orang setempat agar bisa dapat izin mendirikan tempat ibadah atau sekadar gedung serbaguna.

“Kok bisa begitu?” tanya saya.

“Hehehe.... Orang Kristen HKBP diserang, tidak boleh kebaktian hari Minggu. Ngurus izin gereja sulit. Orang yang sedang kebaktian bisa diusir paksa oleh massa, sementara polisi diam saja, bahkan ikut merestui aksi massa. Gereja-gereja dirusak dan dibakar di berbagai tempat."

Terus?

"Lha, kalau mereka yang ateis dan agnostik kan nggak perlu tempat ibadah, nggak perlu misa, nggak perlu kebaktian, nggak perlu ngurus izin mendirikan tempat ibadah....,” kata sang teman dengan logat Jawa Timur yang khas.

"Tapi di Flores gereja-gereja kan aman. Anda bisa kebaktian berjam-jam sampai semaput. Hehehe," saya menukas dengan logat Flores Timur yang khas juga.

"Iya, karena mayoritas Nasrani!"

Ah, mayoritas-minoritas lagi!

6 comments:

  1. Flores kok dilawan??? ahhahha, bukan bangga kaka, tapi menjadi refleksi buat saya dan mungkin buat umat beragama di Indonesia. Sebaiknya masyarakat agama di Indonesia berkaca pada umat beragama di Flores.

    ReplyDelete
  2. ini artikel refleksi buat kita semua.

    ReplyDelete
  3. terlalu banyak agama memang jadi masalah hehehe... n pemerintah hrs bisa menjadi pelindung semua warga negara, jangan malah ikut ngompori...

    ReplyDelete
  4. yg penting ingat bhinneka tunggal ika... sama 2 saling menghargai.

    ReplyDelete
  5. Sebenarnya bukan mayoritas minoritas. Masalahnya, ada banyak orang Muslim yang belum mengalami pencerahan dalam pemahaman agamanya, dan karena itu dengan mudah menyalahkan dan menggunakan kekerasan terhadap penganut agama lain.

    Di negara-negara mayoritas Kristen (misalnya di USA, yang dijuluki Setan Besar oleh banyak orang Islam), ternyata agama Islam tumbuh tanpa halangan, bahkan yang paling cepat di antara agama-agama lain.

    Golongan kecil yang belum mengalami pencerahan ini, mau memaksakan kehendaknya dengan cara-cara kekerasan dan di luar hukum. Kalau sekedar teriak-teriak sih nggak apa, tapi kalau bawa pentung, memukuli orang, membunuh dengan keji, seharusnya negara Republik Indonesia yang berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, melindungi yang diserang. Tapi rupanya pemerintahan SBY lebih pengecut dan jahanam daripada Suharto.

    Yang memrihatinkan, umat Islam yang mayoritas cinta damai, tidak ada satu orang pun yang berani mengatakan apa-apa, hanya diam saja ketika yang radikal itu bakar-bakar, penthung sana sini, gantung sana-sini. Astaghfirullah...

    ReplyDelete
  6. yg penting. kita semua harus menyebarkan damai n cinta. apa pun agamanya... mayoritas dan minoritas itu bukan masalah...

    ReplyDelete