24 February 2011

Leo Suryadinata Peneliti Tionghoa





Tidak banyak intelektual di Indonesia yang fokus meneliti masalah Tionghoa di Indonesia. Apalagi di masa Orde Baru, 1966-1998. Prof Dr Leo Suryadinata merupakan salah satu dari yang sedikit itu. Selain Pak Leo, saya mencatat Dr Onghokham dan Dr Ignatius Wibowo SJ. Baik Pak ong dan Romo Wibowo sudah meninggal dunia.

Pak Leo ini orang Tionghoa yang memilih mendalami berbagai aspek Tionghoa sejak tahun 1960-an. “Sampai sekarang pun saya masih aktif mengkaji masalah-masalah Tionghoa di Indonesia,” ujar Leo Suryadinata di kampus Universitas Kristen Petra Surabaya pekan lalu (18/2/2011).

Leo menjadi pembicara utama dalam seminar peresmian Center for Chinese Indonesia Studies (CCIS), lembaga kajian Tionghoa milik UK Petra. Meski tinggal bertahun-tahun di Singapura, sampai sekarang, logat bicara Pak Leo persis Tionghoa jadul alias lao ren di kawasan pecinan Surabaya atau Jakarta.

Bahasa Indonesianya ‘bersih’ dari intevensi bahasa Inggris. Di depan peserta seminar, Pak Leo bahkan bilang lebih suka kalau nama CCIS diindonesikan saja menjadi Pusat Studi Indonesia-Tionghoa. “Tapi tidak apa-apa. Sekarang memang zaman globalisasi, jadi pakai bahasa Inggris,” katanya lantas tertawa kecil.

Masalah Tionghoa di Indonesia, menurut Pak Leo, sangat menarik untuk dibahas dan diteliti. Begitu banyak aspek yang bisa dikupas. Sumbangan orang Tionghoa hampir meliputi semua bidang kehidupan di tanah air. Mulai dari ekonomi, bahasa, sastra, kuliner, media massa, teknologi, perfileman. Sayang sekali, tidak banyak peneliti di Indonesia yang mau menggalinya.

Yang rajin meneliti justru ahli-ahli dari luar. Di Cornell University, USA, misalnya, ada konferensi internasional selama tiga hari mengenai peranan masyarakat Tionghoa dalam perubahan kehidupan di Indonesia. Tema ini sangat menarik.

“Cuma saya lihat di Indonesia sendiri kurang diperhatikan orang,” kata dosen di beberapa universitas terkemuka di Singapura itu.

Begitu banyak buku, artikel, dan riset tentang Tionghoa dilakukan Pak Leo. Semuanya punya perspektif sejarah yang sangat mendalam. Pak Leo berhasil mendapat banyak dokumen penting yang sebetulnya sulit diakses pada masa Orde Baru.

Ini bisa kita baca dalam buku karangannya berjudul Dilema Minoritas Tionghoa. Kita, bangsa Indonesia, tak hanya orang Tionghoa, layak berterima kasih atas petualangan intelektual seorang Leo Suryadinata sejak 1960-an sampai sekarang.

Saya sendiri sangat gembira bisa pertama kali mendengar uraian Pak Leo tentang Tionghoa dalam seminar di UK Petra itu. Ini pengalaman pertama saya melihat langsung wajah Pak Leo, logat bicara, hingga bahasa tubuhnya.

Seperti juga Bung Karno, Pak Leo menekankan pentingnya masyarakat Tionghoa [juga suku-suku lain] belajar dari perjalanan sejarahnya. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarahnya. Kalau mau menjadi suku yang besar, suku Tionghoa harus mau menghargai sejarahnya pula.

6 comments:

  1. salam sejahtera,

    saya bersyukur bisa menemukan artikel ini
    saya adalah seorang mahasiswa s3 manajemen di universitas Brawijaya malang, saat ini saya sedang menyelesaikan penelitian saya mengenai manajemen orang tionghoa di indonesia, kiranya ada contact atau alamat mail dari Prof suryadinata bisa di share ke kami, sehingga kami bisa kontak langsung untuk minta masukkan dari beliau, atas kerjasama yang sangat baik kami ucapkan banyak terima kasih, mail kami didisundiman@yahoo.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisakah saya meminta alamat email Prof Suryadinata. Saya ingin menanyakan seputar pembelajaran bahasa inggris pada etnis tionghoa di Indonesia. Bs kirimkan k email saya 09.053srwh@gmail.com? Terima kasih sebelumnya...

      Delete
  2. bisakah membagikan alamat email prof. suryadinata ke saya?. saya ingin meneliti tentang pandangan pembelajaran bahasa Inggris pada etnis tionghoa di Indonesia dan ingin mendiskusikannya ke prof. suryadinata. sya sangat mengharapkan balasannya. bisakah kirimkan ke email saya 09.053srwh@gmail.com.

    terima kasih sebelumnya..

    ReplyDelete
  3. Saya seorang dokter ahli administrasi RS,sejak pensiun tahun 2008 mulai melakukan penelitian sejarah leluhur etnis Tionghoa berdasarkan koleksi keramik,dokumen dll yan sudah dikumpulkan sejak beumur 10 tahun tahun 1955, sebagian hasil peneltian saya sudah upload didua web blog saya Driwancybermmuseum, dan agustus 2014 bekerjasama dengan cicit kapitqan tionghoa TanjungBalai Asahan Sumatera Utara sekitar tahun 1910 membangun sebuah museum di Penang dengan nama Zheng He(Cheng Ho) Museum, dan sedang berkomunikasi dengan Museum peranakan Tionghoa dan museum Hakka Taman Mini untuk membantu mendirikan museum leluhur Tionghoa,saya sangat gembira membaca artikel ini,dan bila Prof Leo Suryadinata berkenan mungkin dapat bekerjasama dalam penelitian keramik tiongkok dinasti Tang,Song,Yuan monggol,Ming dan Qing yan saya temukan di Sumatra,Jawa,Kalimantan dan sulawesi selatan,
    Dr Iwan ASuwandy,MHA
    email saya
    iwansuwandy@gmail.com

    ReplyDelete
  4. Admin Yth, saya Rudi Mahasiswa S2 di IPB Bogor. Saat ini sdg menyelesaikan tugas akhir saya ttg peneliti ttg Indonesia atau Indonesianis. Bisakah sy mendapatkan email dari Prof. Leo Suryadinata. mohon kirim ke email saya di kukuh_rudianto@yahoo.com, terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bapak Leo Suryadinata

      12 Nanyang Drive, Singapore 637721
      Tel: +65 6790 6176
      Fax: +65 6792 0017
      Email:chcleos@ntu.edu.sg

      Delete