11 February 2011

Gua Maria di Bungamuda



Ada yang mengejutkan saya ketika pulang kampung belum lama ini. Di Bungamuda, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, saat ini punya Gua Maria. Lokasinya di dekat perbatasan dengan Desa Napasabok, tempat ‘angker’ yang dulu disebut Tobi Kemin. Dalam bahasa setempat, Tobi Kemin berarti pohon asam yang manis.

Pohon asam di pinggir jalan raya itu sudah berusia puluhan tahun. Ia selalu menghasilkan buah berasa manis. Jauh lebih manis ketimbang asam-asam jawa baik di Pulau Jawa sendiri maupun di Lembata sendiri. Sayang, tempo doeloe, sebelum tahun 2000-an daerah itu dikenal orang kampung sebagai tempat angker. Tak ada penduduk yang berani tinggal di situ.

Selain itu, jarak Tobi Kemin dengan sumur di Lamawara memang jauh, sekitar 1,5 kilometer. Harus jalan kaki cukup lama agar bisa membawa seember air (setengah) tawar di jalanan yang menanjak. Maka, selama berpuluh tahun muncul mitos-mitos yang bikin bulu kuduk anak kampung di Ile Ape merinding. Belum lagi tak ada listrik sehingga jalanan itu gelap gulita pada malam hari.

Perubahan yang menggembirakan di Bungamuda adalah kehadiran Gua Maria. Tempat orang-orang kampung, yang hampir semuanya Katolik, berdoa rosario, novena, berdevosi pada ibunda Yesus Kristus. Setiap bulan Mei dan Oktober dikenal sebagai bulan Maria. Momentum untuk memperbanyak devosi kepada Ina Maria, Ina Senaren. Bunda Maria Bunda yang Baik.

Tiba di mulut Gua Maria Bungamuda, saya seorang diri. Nuansa seram, cerita-cerita menakutkan di masa kecil... sudah tak ada lagi. Saya justru kagum dengan keindahan gua yang tampak sangat alami. Para tukang tak perlu capek-capek membuat gua artifisial karena tebing yang ada memang sudah pas. Tinggal dikasih tempat untuk meletakkan patung Bunda Maria.

Pohon jambu mente dan tanaman-tanaman hias tumbuh subur di kompleks Gua Maria itu. Lokasi yang bagus untuk meditasi dan berdoa baik secara pribadi maupun berjemaat. Hebat juga ide orang kampung di pelosok Lembata mengubah aroma mistis Tobi Kemin menjadi tempat ziarah Katolik. Sederhana, tapi asri dan nyaman.

Sayang, Gua Maria Bungamuda ini kurang menarik pengunjung. Orang-orang kampung, sesama orang Ile Ape, orang-orang Lewoleba dan kecamatan lain rupanya belum tahu ada Gua Maria di Bungamuda. Kalaupun tahu pun, saya rasa, tak daya tarik khusus bagi mereka untuk ramai-ramai berziarah ke Bungamuda. Mengapa?

Sebagai perbandingan, umat Katolik di Jawa, khususnya di kota-kota besar, sangat antusias mengadakan ziarah ke Gua Maria. Tiap malam Jumat Legi, misalnya, Gua Maria di Puhsarang, Kediri, Jawa Timur, didatangi ribuan umat Katolik dari berbagai kota. Ada misa bersama dalam nuansa Jawa. Tirakatan. Jalan salib. Suasananya memang luar biasa meriah, tapi khidmat.

Ini bisa terjadi karena Puhsarang punya sejarah kuat dalam penyebaran agama Katolik di Jawa Timur. Di sini ada gereja tua model candi ala Majapahit yang sangat indah. Jadi cagar budaya Kediri. Ada komunitas kecil jemaat Katolik yang hidup di antara mayoritas masyarakat beragama Islam. Ditambah bangunan Gua Maria dan kompleks perziarahan, wah, lengkap sudah daya tarik Gua Maria Lourdes di Puhsarang.

Umat Katolik di Jawa Timur juga sangat antusias diajak ziarah ke Gua Maria Lourdes di Sendangsono, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, DI Jogjakarta. Patung Maria dan keindahan gua sih sama saja dengan yang di pelosok Lembata sana. Bahkan, patung Bunda Maria di Puhsarang jauh lebih besar dan bagus.

Tapi mengapa Gua Maria Sendangsono paling ramai di Pulau Jawa?

Jawabnya: Sendangsono punya sejarah penting dalam perjalanan Gereja Katolik di Jawa. Di bawah pohon sono yang ada sendangnya itu [sendang = sumber air], Pastor Van Lith SJ mempermandikan 171 orang Jawa asal Kalibawang sebagai jemaat Katolik pribumi pertama di tanah Jawa. Peristiwa itu berlangsung pada 14 Desember 1904.

Maka, ketika orang Katolik di Jawa mengadakan ziarah ke Sendangsono, mereka ibaratnya melakukan napak tilas perjalanan iman. Menimba sumber air rohani, berdoa, refleksi di depan Gua Maria yang sudah berusia 100 tahun lebih itu. Saya sendiri pun sudah berkali-kali berziarah ke Gua Maria Sendangsono baik bersama rombongan maupun seorang diri.

Gua Maria di luar negeri biasanya dibangun setelah ada peristiwa penampakan Bunda Maria. Ini terjadi di Lourdes (Prancis) atau Fatima (Portugal). Nah, Gua Maria di Bungamuda, Lembata, ini memang tidak punya dimensi sejarah atau kisah penampakan. Ia hanya tempat khusus di pelosok kampung yang sengaja dibuat untuk devosi kepada Bunda Maria.

Dus, grotto itu tidak bisa menjadi aset pariwisata yang luar biasa seperti di Puhsarang atau Sendangsono.

No comments:

Post a Comment