14 February 2011

Christine GM ITC Surabaya



Latar belakang pendidikannya di bidang teknik. Namun, Christine Natasha Tanjungan meraih sukses ketika dipercaya menjadi general manager ITC Mega Grosir Surabaya. Berikut petikan wawancara Radar Surabaya dengan Christine ketika meninjau Festival Imlek 2010 di ITC Surabaya.

Apa latar belakang ITC Surabaya mengadakan Festival Imlek selama sebulan penuh setiap tahun?

Begini. ITC Mega Grosir ini kan kebetulan berlokasi di kawasan pecinan, Surabaya Utara. Tidak jauh dari sini ada Kembang Jepun, Kapasan, Bibis, Karet, Cokelat, dan kampung-kampung Tionghoa. Tentu saja, banyak warga keturunan Tionghoa Surabaya yang tinggal di sekitar ITC Mega Grosir.

Maka, sejak tahun 2008, kami memutuskan untuk menggelar Festival Imlek setiap tahun selama sebulan penuh untuk menyambut tahun baru Imlek. Festival ini juga sebagai ajang untuk memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas.

Kita juga punya pertimbangan bahwa masyarakat tentu membutuhkan berbagai kebutuhan untuk tahun baru Imlek. Mulai dari penganan atau kue-kue khas Imlek, tekstil dan produk tekstil, dekorasi. Semuanya kita sediakan di ITC. Dan sekarang ini mereka yang belanja barang-barang kebutuhan Imlek itu tidak hanya orang Tionghoa. Yang bukan Tionghoa pun membeli baju-baju untuk anaknya atau busana untuk dipakai mengikuti acara-acara yang terkait dengan tahun baru Tionghoa.

Anda ingin menjadikan ITC sebagai ikon budaya Tionghoa di Surabaya?

Bisa jadi begitu. Sebab, tahun 2011 ini Festival Imlek sudah digelar selama empat kali berturut-turut. Dan, syukurlah, masyarakat sangat antusias menyaksikan dan datang berbelanja berbagai kebutuhan Imlek maupun barang-barang lain yang tidak ada kaitan dengan Imlek. Ini juga sebuah hiburan gratis kepada masyarakat. Mereka bisa menikmati berbagai aksesoris Imlek, busana Tionghoa, hingga atraksi barongsai dan liang-liong secara cuma-cuma.

Salah satu acara yang paling banyak menyedot penonton adalah kejuaraan barongsai. Bagaimana ceritanya Anda menggelar even yang melibatkan puluhan grup barongsai di Jawa Timur ini?

Kita bekerja sama Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS) dan Perhimpunan Barongsai Indonesia (Persobarin). Kebetulan kedua organisasi itu sangat concern dalam pengembangan barongsai, liang-liong, serta seni budaya Tionghoa umumnya. Nah, dengan Persobarin, kita sepakat menggelar kejuaraan barongsai dan liang-liong setiap tahun.

Kejuaraan ini sudah tentu membuat sasana-sasana di seluruh Jawa Timur berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas penampilannya. Dan ini bagus untuk mencetak pemain-pemain barongsai yang siap diterjunkan di kejuaraan nasonal maupun internasional. Mereka tentunya akan membawa nama Indonesia di kejuaraan internasional. ITC Surabaya menyediakan wadah untuk pengembangan barongsai dan liang-liong itu.

Selain barongsai, apa agenda Festival Imlek yang lain?

Cukup banyak. Ada lomba pidato, bercerita, dan membaca puisi dalam bahasa Mandarin. Lomba line dance bernuansa oriental. Lomba menyanyi lagu-lagu Mandarin dan beberapa lagi. Saya senang karena peserta lomba-lomba ini tak hanya orang Tionghoa, tapi juga melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Pemain-pemain barongsai, misalnya, boleh dikatakan sebagian besar justru bukan orang Tionghoa.

Kabarnya, ada pedagang Tiongkok yang sengaja datang ke sini untuk membuka konter di Festival Imlek?

Betul. Rupanya, even kami sudah diketahui secara luas hingga ke Tiongkok. Makanya, setiap menjelang Imlek ada saja pedagang dari Tiongkok yang memesan konter khusus. Mereka menjual aneka kebutuhan Imlek langsung dari negaranya. Sebab, Surabaya dan Jawa Timur umumnya dianggap punya potensi pasar yang baik. Selama dua bulan mereka menginap di Surabaya. Ini juga sebuah kerja sama bisnis yang bisa menguntungkan kedua belah pihak.

Di luar Imlek, apa program lain yang Anda lakukan?

Kita juga membuka kursus bahasa Mandarin setiap Sabtu dan Minggu. Kita menggandeng yayasan-yayasan dan sekolah-sekolah yang punya program Mandarin. Ada lagi komunitas Surabaya Singing Club yang biasa tampil di sini membawakan lagu-lagu pop baik Mandarin maupun Barat. Komunitas ini punya penggemar yang cukup banyak dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Terakhir, apa kiat Anda dalam mengelola ITC?

Begini. Dalam mengelola sebuah mal itu, kita harus selalu menampilkan sesuatu yang baru. Harus ada perubahan suasana. Harus ada yang beda. Karena itu, saya selalu mencari informasi dari berbagai sumber, termasuk internet. Juga ada tim khusus yang mencari informasi langsung ke Tiongkok. Masukan dari para tenan pun selalu saya perhatikan. (*)

BIODATA SINGKAT

Nama : Christine Natasha Tanjungan
Lahir : Manado, 14 Desember 1970
Pendidikan : Magister (S-2) Teknik Universitas Kristen Petra
Hobi : Traveling
Pekerjaan: General Manager PT Duta Pertiwi

Riwayat pekerjaan
1995 - 1999 : Chief Engineer PT Hantawi Inti Makmur
1999 - 2004 : Project Manager PT Tata Mulia Nusantara Indah
2004 - sekarang : General Manager PT Duta Pertiwi

No comments:

Post a Comment