16 February 2011

Cap Go Meh Pesta Lampion



Perayaan tahun baru Tionghoa (Sincia) berlangsung selama dua pekan. Pesta tahunan ini ditutup dengan upacara Cap Go Meh pada tanggal 15 bulan 1 Imlek.

Oleh Lambertus Hurek
Wartawan Radar Surabaya


SEBELUM Orde Baru berkuasa pada 1966, Cap Go Meh selalu dirayakan secara besar-besaran. Di berbagai kota yang punya komunitas Tionghoa diadakan pawai lampion dan pawai budaya Tionghoa. Masyarakat luas ikut bergembira menyaksikan pasar malam yang meriah itu.

“Orang-orang Tionghoa yang kaya biasanya nanggap wayang potehi, wayang kulit, hingga sandiwara keliling. Suasana hiburan benar-benar terasa pada saat Cap Go Meh,” ujar Markus AS, penulis buku Hari-Hari Raya Tionghoa.

Tempo doeloe, pergaulan di antara muda-mudi tak sebebas sekarang. Belum ada yang namanya pacaran atau jalan bersama di antara muda-mudi. Karena itu, Cap Go Meh juga dianggap sebagai momentum bagi muda-mudi untuk saling berkenalan satu sama lain.

Mereka ramai-ramai pergi ke kelenteng atau menyaksikan pasar malam Cap Go Meh sambil menjalin hubungan asmara. “Orang Tionghoa tempo dulu juga biasanya melakukan ciamsi, menanyakan peruntungannya selama 12 bulan di tahun yang baru,” tutur Markus.

Versi lain menyebutkan, Cap Go Meh sebagai pesta musim bunga untuk menghormati matahari yang muncul di musim dingin berkabut. Hari ke-15 di awal tahun itu biasa digelar atraksi hiburan seperti barongsai dan liang-liong secara meriah.

Biasanya, ada warga yang mengklaim melihat binatang pembawa rezeki yang disebut kilin. Kilin sendiri, menurut Tong Tjung An, pemerhati budaya Tionghoa, hanyalah binatang fiktif dalam kebudayaan Tionghoa seperti naga atau liong. Kehadiran si kilin ini pertanda ada rezeki dan hari-hari yang bagus.

“Sulit dibuktikan, tapi ada saja orang yang mengaku sudah melihat sosok kilin ini,” tukas Tjung An.

Menurut Tjung An, perayaan Sincia, Cap Go Meh, dan hari-hari raya Tionghoa yang lain tak bisa dipisahkan dari latar belakang Tiongkok kuno sebagai negara yang hidup dari pertanian. Karena itu, semua hari besar Tionghoa memang punya hubungan erat dengan tradisi para petani Tiongkok zaman dulu.

Setiap tahun, selama 14 hari, para petani Tiongkok ini punya tradisi untuk ‘cuti bersama’ sambil merayakan Sincia alias Xinnian. Hari pertama, hari kedua, hingga hari ke-14 selalu ada jadwal tetap bagi mereka untuk mengisi dua pekan pertama di tahun yang baru.




Di Tiongkok, Cap Go Meh lebih dikenal sebagai Hari Raya Lampion. Kalau di Indonesia, warga peranakan Tionghoa biasa menikmati lontong Cap Go Meh, masyarakat Zhongguo lebih suka menyantap onde-onde.


SYAHDAN, pada tahun 180 SM, masa Dinasti Han Barat, Kaisar Han Wendi naik takhta pada tanggal 15 bulan pertama Imlek. Untuk merayakan penobatannya, Kaisar Han Wendi memutuskan menjadikan tanggal 15 bulan pertama sebagai Hari Raya Lampion.

Kaisar Han Wendi mempunyai kebiasaan keluar istana untuk berjalan-jalan sambil merayakan festival itu bersama rakyat. Pada 104 SM, Festival Cap Go Meh secara resmi dicantumkan sebagai hari raya nasional. Keputusan itu membuat Hari Cap Go Meh menjadi benar-benar meriah. Setiap tempat umum dan setiap keluarga wajib memasang lampion berwarna-warni.

Dan di jalan-jalan utama dan pusat kebudayaan juga digelar pameran lampion besar-besaran secara meriah. Seluruh rakyat, baik tua maupun muda, pria maupun wanita semuanya mendatangi pameran lampion untuk menyaksikan lampion dan tarian lampion naga. Mereka juga bisa ikut permainan menebak teka-teki.

Menurut catatan sejarah, lampion paling spektakuler adalah Lampion Aoshandeng yang dibuat pada masa Dinasti Song abad ke-10. Aoshan adalah gunung tinggi di lautan yang dalam dongeng kuno diceritakan bahwa Gunung Aoshan terapung-apung mengikuti gelombang laut. Untuk membuat Gunung Aoshan dapat berdiri stabil, Kaisar Khayangan memerintahkan 15 ekor kura-kura untuk menyokongnya.

Dongeng itu menceritakan bahwa saat itu rakyat merancang lampion Aoshan secara besar-besaran dengan beberapa kura-kura berukuran besar menggendongnya. Di atas gunung itu dinyalakan ribuan lampion, dan di atas permukaan lampion-lampion itu dihiasi batu, pohon, patung, dan lukisan. Di atas gunung lampion itu, para pemusik memainkan musik, dan di depan gunung itu juga dibangun sebuah panggung untuk menggelar pertunjukan tari.

Lampion warna-warni yang dipasang pada Cap Go Meh kebanyakan dibuat dari kertas berwarna terang. Lampion bernama zoumadeng atau lampion kuda berlari adalah salah satu jenis lampion yang paling menarik. Konon lampion itu sudah bersejarah seribu tahun lamanya.

Makan onde-onde pada Hari Cap Go Meh juga merupakan salah satu kebiasaan lama. Kebiasaan makan onde-onde dimulai dari masa Dinasti Song (960-1279 Masehi). Onde-onde dibuat dengan tepung beras ketan dan selai buah. Warga Zhongguo di bagian utara menyebut onde-onde sebagai yuanxiao, sedangkan rakyat di bagian selatan menyebutnya tangyuan. Cara pembuatan onde-onde di utara juga lain dengan di selatan. (*)

No comments:

Post a Comment