17 February 2011

Batavia Madrigal Singers di Surabaya



Sebagai ensembel vokal terkemuka, Batavia Madrigal Singers (BMS) sering berkeliling dunia dalam 10 tahun terakhir. Paduan suara pimpinan Avip Priatna ini pun bolak-balik menggondol penghargaan bergengsi tingkat internasional.

Sebut saja penghargaan bergengsi di Prancis (2001), Taiwan (2004), Jepang (2006), Spanyol (2006), Jepang (2007), Slovenia (2007), Austria dan hungaria (2009). Tahun lalu, 2010, BMS beroleh penghargaan bergengsi di Arezzo, Italia. BMS dan Avip Priatna pun kemudian dikenal sebagai ‘macan paduan suara’ Indonesia.

Anehnya, kor yang bermarkas di Jakarta ini hampir tak pernah melakukan tur di kota-kota besar di tanah air. Karena itu, jangan heran, BMS jauh lebih terkenal di negara lain ketimbang di negara sendiri. Syukurlah, Ahad (13/2/2011) petang, BMS bersama Avip Priatna ‘berkenan’ menemui para penggemar musik klasik, khususnya paduan suara, di Kota Surabaya.

Meski tak sampai penuh sesak, layaknya konser musik pop, para penikmat paduan suara tak beranjak dari Auditorium Universitas Kristen Petra di Jalan Siwalankerto Surabaya. Aplaus berkepanjangan terdengar bahkan hingga konser bertajuk All Things & Beautiful ini kelar.

“BMS ini ciamik soro (sangat bagus). Kita beruntung bisa melihat langsung konser BMS yang memang sudah berstandar internasional,” ujar seorang mahasiswi UK Petra, yang juga aktivis paduan suara di kampusnya.

Diiringi Chorda Sonum, string ensemble asal Surabaya, konser BMS dibagi dalam dua sesi. Bagian pertama menampilkan komposisi rohani karya empat komposer terkemuka, yakni Komm Suesser Tod (Knut Nystedt), Alleluia (Ralph Manuel), Mass for Mixed Choir, Piano, and String Orchestra (Steve Dobrogosz).

Bagian kedua menghadirkan komposisi karya John Rutter, salah satu legenda paduan suara, antara lain bertajuk Wings of The Morning, I Will Sing with The Spirit, dan Look at The World.

BMS tak lupa menghadirkan tiga solis andalannya, yakni Fitri Muliati, Indah Pristanti, dan Rainier Revireino. Nomor penutup yang sangat familier, When The Saints Go Marching In, menutup pergelaran di saat gerimis menimpa Kota Surabaya itu. Aplaus panjang bergema. Penonton puas, begitu pula Avip bersama anak buahnya.

Berbeda dengan konser-konser biasa, Avip Priatna, sang pendiri sekaligus dirigen BMS, menyediakan waktu khusus untuk dialog interaktif. Semua penonton bebas bertanya apa saja seputar musik, khususnya paduan suara. Insinyur lulusan Universitas Parahyangan Bandung, yang ‘nyempal’ mendalami musik klasik ke Wina, Austria, ini memberi motivasi kepada para mahasiswa UK Petra agar tidak setengah-setengah mendalami paduan suara.

Avip Priatna juga menceritakan sistem rekrutmen anggota BMS. Begitu banyak anak muda di Jakarta dan sekitarnya yang tertarik ikut BMS. Namun, Avip memberlakukan sistem seleksi yang sangat ketat dan berlapis. Mereka juga harus berlatih dengan disiplin yang tinggi. Itulah yang antara lain membuat BMS sebagai salah satu paduan suara Indonesia yang layak dibanggakan.

“Saya senang bisa menghadirkan BMS di Surabaya. Bagus banget penampilan mereka. Muda-mudahan ke depan kita bisa menampilkan paduan suara lain yang tak kalah bobotnya,” kata Patrisna Widuri, pianis sekaligus pimpinan Amadeus Enterprise Surabaya.

No comments:

Post a Comment