16 February 2011

Aborsi versus Pro-Life



JAWARA ABORSI: Dokter Edward Armando ditangkap lagi pada 2 Februari 2010 karena mengaborsi 1.500 janin. Aparat Polres Sidoarjo menyita berbagai peralatan untuk mengugurkan kandungan pasien-pasiennya.

Kasus aborsi untuk kesekian kalinya terungkap di Surabaya dan Sidoarjo. Setiap hari puluhan janin yang dibunuh. Ada-ada saja alasan pembenarannya. Lagu lawas justifikasi ala para pelaku aborsi macam Dokter Edward Armando di Surabaya.

Dokter senior ini mengaku justru membantu 'pasien-pasien' yang minta jabang bayinya digugurkan. "Kok saya malah ditangkap? Diadili segala?" protes Edward, dokter paling top di Jawa Timur untuk urusan aborsi.

Kalangan aktivis Pro-Life, yang berbeda filsafat dan ideologi dengan Edward, tentu saja meradang. Posisi Pro-Life tetap keukeh: Aborsi merupakan tindakan yang sangat tidak menghargai kehidupan. Bagi Pro-Life, aborsi itu sama saja dengan pembunuhan janin alias jabang bayi. Dus, harus ditolak mati-matian.

“Kita sedih karena kasus aborsi ini muncul terus-menerus di Surabaya. Apalagi, pelakunya dokter yang sama, yang seharusnya berperan melindungi jabang bayi yang tidak berdosa itu,” kata Joice D. Indarto, aktivis Pro-Life, dalam sebuah diskusi dengan saya di Wisma Keuskupan Surabaya, pekan lalu.

Bagi Joice, apa pun alasan dan dalilnya, aborsi dalam bentuk apa pun tidak bisa dibenarkan. Hampir semua tokoh berbagai agama di Indonesia, kata dia, sejak dulu melarang keras tindakan aborsi. Penggugura kandungan hanya boleh dilakukan dokter dengan pertimbangan medis. Misalnya, karena jiwa si ibu terancam.

Bagaimana dengan dalih dr Edward Armando bahwa dia hanya mengaborsi janin berusia di bawah tiga bulan?

Joice Indarto geleng-geleng kepala. “Mau tiga bulan, dua bulan, atau satu bulan... tetap tidak bisa. Janin itu punya hak hidup yang harus dihormati,” tegasnya.

Joice yang juga staf Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya ini bisa ‘memahami’ kesulitan para wanita yang hamil di luar nikah. Juga ibu-ibu yang kehamilannya memang tidak dikehendaki. Tapi masih banyak jalan untuk menyelamatkan janin di dalam kandungan itu.

“Tidak bisa dengan jalan pintas seperti aborsi,” tegasnya.

Ketika menghadapi kehamilan yang tidak dikehendaki, ‘kecelakaan’, menurut Joice, si ibu hamil atau orangtuanya bisa berkonsultasi dengan rohaniwan, komisi keluarga, atau pihak-pihak lain yang terkait dengan Pro-Life. Cukup banyak lembaga di Surabaya yang bersedia menampung si ibu hamil hingga melahirkan. Setelah melahirkan, sang bayi bisa dititipkan dan diasuh di lembaga tersebut.

“Saya sendiri sudah sangat sering melayani kasus-kasus seperti ini. Intinya, jangan sampai nyawa si calon bayi di dalam rahim itu dikorbankan dengan cara aborsi,” tukas Joice.

Kasus kehamilan yang tak dikehendaki cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Karena itu, Joice mengimbau para orangtua untuk selalu mendampingi anaknya dan mencarikan jalan keluar yang positif. Bukan dengan memberi rujukan ke dukun aborsi atau dokter-dokter ‘spesialis’ aborsi.

“Banyak lho pasutri yang ingin mengadopsi anak di Surabaya. Kan lebih bagus bayi itu diserahkan kepada mereka untuk diasuh dan dibesarkan,” kata Joice. (*)

1 comment:

  1. Gimana hati nurani pak dokter yang satu ini ya?

    ReplyDelete