27 January 2011

Uskup Surabaya Pimpin Pemakaman Ibunda



Sekitar 800 jemaat melepas jenazah mendiang Ursula Madijanti Wisaksono (87) ke Makam Kristen Kembang Kuning, Surabaya, Kamis (20/1/2011). Uskup Surabaya Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, anak kedua Ursula, memimpin misa requiem di Gereja Katedral Surabaya dan dilanjutkan dengan upacara pemakaman di Kembang Kuning Surabaya.

Didampingi Romo Damar Cahyadi dan Romo Harjanto Prajitno, perayaan ekaristi ini berlangsung sekitar satu jam. Tak hanya umat awam, misa pelepasan ibunda Mgr Sutikno yang meninggal di RKZ Surabaya pada 17 Januari lalu itu dihadiri puluhan pastor dan suster yang berkarya di Keuskupan Surabaya.

Umat secara bergantian memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Ursula yang disemayamkan di dalam Gereja Katedral sejak Senin malam itu.

Berbeda dengan misa penutupan peti jenazah sehari sebelumnya, Mgr Sutikno tak kuasa menahan kesedihan akibat ditinggal ibunda yang sangat dikasihinya. Uskup kelahiran Surabaya, 26 September 1953, itu bahkan nyaris kesulitan menyelesaikan khotbahnya.

“Ibu adalah teladan hidup bagi kami. Ibu sejak dulu akrab dengan penderitaan, akrab dengan kesederhanaan,” kata Mgr Sutikno.

Sebagai ibu rumah tangga biasa, menurut uskup, Ursula setiap hari melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin di rumah seperti memasak, mencuci pakaian, menyeterika, atau mencuci piring. Saat itu belum ada kompor listrik atau kompor gas, sehingga semuanya harus dikerjakan secara manual dengan peralatan yang sangat sederhana.

Mgr Sutikno punya pengalaman paling berkesan dengan mendiang mamanya. Yakni, sang mama tak pernah absen mengantarkannya saat pulang ke tempat belajarnya di seminari. “Bayangkan, sampai saya sudah tingkat tujuh pun Ibu masih mengantar hingga stasiun kereta api atau terminal bus,” tutur pria bernama asli Oei Tik Hauw ini dengan suara tercekat.

Nah, setiap kali mengantar putra kedua dari tiga bersaudara ini kembali ke seminari, Ursula Madijanti selalu berurai air mata. Air mata yang melambangkan kasih sayang dan pengobanan yang besar dari seorang ibu kepada putra tunggalnya itu. Air mata itu pun kembali terurai ketika Sutikno ditahbiskan sebagai pastor pada 23 September 1981 dan uskup Surabaya pada 29 Juni 2007.

Meski kehilangan ibunda tercinta, Mgr Sutikno menegaskan bahwa kematian, seperti juga kehidupan, tidak akan sia-sia jika kita percaya pada Tuhan. Ursula Madijanto telah akrab dengan perjuangan selama 87 hidupnya di dunia ini. Dan selama itu pula almarhumah telah menunjukkan iman dan cintanya kepada Tuhan.

Setelah upacara selama 30 menit, para pelayat secara bergantian memberikan ucapan belasungkawa dan berjabat tangan dengan Mgr Sutikno serta kedua saudarinya, Reniwati dan Mia Swandajani. (lambertus hurek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 21 Januari 2011

No comments:

Post a Comment