11 January 2011

Ulang Tahun yang Hambar



Merayakan ulang tahun (birthday) rupanya masih tabu di kampung halaman saya, Lembata, NTT. Tak pernah ada kue ultah, lilin, potong kue, nyanyi selamat ulang tahun, panjang umurnya, atau happy birthday.

Saat berulang tahun belum lama ini, di pekan pertama Januari 2010, saya berada di kampung halaman. Berada di tengah-tengah keluarga dekat. Ayah, tiga adik perempuan, dan keluarga besar. Saya yakin mereka tahu persis hari lahir saya.

Diam-diam, saya menunggu sekadar ucapan selamat ulang tahun. Atau, barangkali ada acara khusus mengingat bertahun-tahun saya tak balik kampung. Ternyata, hehehe.... tak ada apa-apa. Semuanya berlalu begitu saja. Saya pun hanya ketawa-ketawa sendiri.

Rupanya, sampai hari ini belum ada “budaya” merayakan hari ulang tahun di Lembata, mungkin NTT umumnya. Orang suka bicara ngalor-ngidul, tapi sama sekali tidak memperhatikan ulang tahun. Dan memang harus diakui bahwa pesta ulang tahun di Indonesia sejatinya adalah tradisi orang Barat, khususnya penjajah Belanda.

Orang-orang kampung yang sederhana, hidup susah, pendidikan pas-pasan... mana pernah berpikir untuk merayakan ulang tahun? Alih-alih bikin pesta, sekadar makan sehari-hari saja susah minta ampun. Merayakan ulang tahun hanya akan memperberat beban hidup yang sudah sangat berat.

Selama dua minggu saya sengaja berpuasa internet. Sama sekali tidak membaca berita, blogging, cek email, dan sebagainya. Hidup di kampung tanpa internet ternyata sangat menyenangkan. Otak jernih, tak berpikir macam-macam.

Kembali ke Surabaya, saya mau tak mau harus berhadapan lagi dengan internet. Wow, ternyata begitu banyak orang yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya via Facebook. Sebagian besar justru teman-teman dunia maya yang belum pernah saya temui secara langsung di alam nyata.

No comments:

Post a Comment