23 January 2011

Tedja Suminar Pendekar Sketsa Jatim


Oleh Lambertus Hurek

Di usianya yang sudah 74 tahun, Tedja Suminar masih tetap produktif berkarya. Pelukis senior Surabaya ini bahkan sedang menggarap sketsa-sketsa tentang kehidupan para pekerja di sebuah perusahaan rokok terkenal di Surabaya. Hari-hari ayah dua anak dan kakek enam cucu ini disibukkan dengan melukis, melukis, dan melukis.

Di sela-sela kesibukannya membuat sketsa, Tedja Suminar menerima wartawan Radar Surabaya untuk wawancara khusus di studio sekaligus rumahnya di Jalan Dharmawangsa Surabaya, Sabtu (22/1/2010). Belasan karya terbarunya terlihat menemani seniman yang sejak dulu tidak suka dipublikasikan itu. Berikut petikan percakapan dengan Tedja Suminar:


Anda kelihatannya masih semangat dan produktif.

Ya, harus semangat dong! Orang hidup itu harus semangat, kerja keras, dan tidak boleh putus asa. Saya ini kemarin (21/1/2010) baru pulang dari wisata di kota budaya Thailand. Saya benar-benar terkesan dan kagum dengan kemajuan yang luar biasa di Thailand. Kita di Indonesia pun seharusnya bisa begitu kalau tidak ada korupsi dan orang-orang seperti ini.

(Tedja Suminar memperlihatkan koran berisi foto Gayus Tambunan, salah satu mafia pajak.)

Di Bangkok barangkali ada acara pameran lukisan atau kesenian?

Oh, tidak ada urusan dengan itu. Cuma wisata, jalan-jalan biasa saja. Saya ini sebetulnya lebih suka dianggap sebagai orang biasa seperti masyarakat masyarakat lain yang butuh rekreasi, wisata, jalan-jalan. Jangan sedikit-sedikit dikaitkan dengan kesenian atau pameran lukisan. Selama satu minggu di Thailand itu saya kagum sekali menyaksikan Grand Palace yang agung dan damai. Pagoda-pagoda di Bangkok juga bagus-bagus dan sudah berusia ratusan tahun. Semua keindahan itu cocok dengan prinsip saya, yakni ingin hidup di bumi seperti di dalam surga.

Lantas, bagaimana ceritanya Anda mengerjakan sketsa tentang kehidupan di Wismilak yang cukup banyak ini?


Saya memang menerima order atau pesanan dari pihak Wismilak untuk membuat sketsa-sketsa tentang kehidupan ribuan pekerja pabrik rokok serta suasana kehidupan di pabrik secara keseluruhan. Meskipun pesanan, tapi saya diberi kebebasan sepenuhnya untuk berkarya, membuat skesta sesuai dengan kebebasan yang ada dalam jiwa saya. Jadi, kekuatan garis yang menjadi ciri khas seorang Tedja tidak akan hilang.

Coba Anda perhatikan beberapa sketsa ini dan silakan dibanding dengan karya-karya saya sebelumnya. (Tedja Suminar menunjuk empat sketsa terbarunya. Dua di antaranya berjudul Ngelinting dan Ngelembur.) Saya mengerjakan ini dengan penghayatan yang mendalam.

Ada target kapan harus diselesaikan?


Tidak ada. Tapi saya harus disiplin, tetap bekerja, agar pesanan ini segera selesai. Saya juga berkomtimen agar karya-karya terbaru saya ini akan menjadi koleksi Wismilak yang langka dan berharga.

Di mana Anda membuat sketsa-sketsa itu?

Ya, langsung di lapangan. Jadi, saya harus datang ke pabrik, melihat langsung pekerjaan ribuan buruh yang ngelinting rokok, ngelembur, pekerja di gudang tembakau, dan sebagainya. Saya mencium langsung aroma tembakau serta berbagai kesibukan di dalam pabrik. Ini sangat perlu karena membuat sketsa itu, bagi saya, harus punya penghayatan yang mendalam. Harus benar-benar menjiwai. Kalau tidak datang ke pabrik, ya, saya nggak mungkin bisa membuat sketsa-sketsa seperti ini.

Dan, biasanya, saya mengerjakan sketsa itu pada jam-jam yang sama. Makanya, kalau sebuah sketsa belum selesai, besoknya saya harus datang ke lokasi pada jam yang sama juga. Kalau hujan, misalnya, ya saya datang lagi keesokan harinya. Kalau nggak begitu, suasana, komposisi, dan jiwanya menjadi hilang.

Apakah sketsa-sketsa itu akan dipamerkan?

Mudah-mudahan demikian. Tapi ini juga kembali ke pihak Wismilak sendiri. Saya dengar karya-karya terbaru saya ini akan dipamerkan di Grha Wismilak pada Hari Ulang Tahun Kota Surabaya, bulan Mei 2011. Saya sendiri sejak dulu tidak suka yang namanya pameran bersama. Kalau pemeran seni rupa, ya, harus pameran tunggal agar karya-karya seni itu bisa dipertanggungjawabkan secara jelas. Masyarakat juga bisa mengapresiasi karya-karya itu dengan baik.

Anda tergolong pelukis yang sukses. Punya studio yang bagus di Bali dan Surabaya, bisa jalan-jalan ke banyak negara, kemudian keliling Indonesia. Apa rahasianya?

Sejak dulu saya memang punya prinsip: “Ingin hidup di bumi seperti di dalam surga!” Karena itu, saya harus bekerja keras, membuat karya-karya seni rupa dengan penghayatan yang mendalam. Karya-karya seni itulah yang kemudian diapresiasi dan membuat saya bisa membeli tanah di Ubud (Bali) dan kemudian membangun sebuah studio seni rupa. Dan itu semua juga tidak lepas dari dukungan istri saya (Anastasia Moentiana). (*)






Nama : Tedja Suminar
Lahir : Ngawi, 1936
Istri : Anastasia Moentiana (alm)
Anak : Swandayani dan Natalini Widihiasi
Alamat : Jalan Dharmawangsa Surabaya
Pekerjaan : Pelukis, pembuat relief
Studio : Ubud, Bali
Pendidikan : Akademi Kesenian Surakarta




Kenangan Manis di Ubud

KARYA-KARYA Tedja Suminar sejak dulu menjadi buruan para kolektor di tanah air. Ini membuat ayah dua anak punya modal yang cukup untuk membangun studio seni rupa nan eksotik di kawasan Ubud, Bali. Bersama istrinya, Anastasia Moentiana (almarhumah), yang juga pelukis, Tedja Suminar menikmati suasana alam pedesaan Ubud selama hampir 30 tahun.


Tedja membeli sebidang tanah sawah seluas 200 meter persegi di Ubud pada 1980-an. Waktu itu belum ada jaringan listrik, telepon, dan fasilitas modern di kawasan favorit seniman itu. “Penerangannya, ya, pakai lampu minyak atau petromaks. Benar-benar suasana pedesaan yang sederhana,” kenang Tedja Suminar.

Studio sekaligus rumah itu kemudian diisi Tedja Suminar dengan berbagai aksesoris dan furnitur antik. Di antaranya, kursi besi peninggalan Portugis, porselin dari Tiongkok, seperangkat furnitur kayu jati asal Madura, hingga aneka kerajinan dari Suku Asmat di Papua. Kebetulan pada 1980-an dan 1990-an, pelukis senior ini suka bertualang ke berbagai daerah di Indonesia.

“Empat kursi Portugis itu saya peroleh dari Pulau Banda. Berat bukan main karena terbuat dari besi zaman dulu. Ada ukiran-ukiran khas seperti lambang negara Portugis yang ada salibnya,” ujar Tedja seraya memperlihatkan foto-foto aksesoris koleksinya di Ubud itu.

Mengetahui Tedja Suminar punya studio istimewa di kawasan Ubud, para seniman asal Jawa Timur sering mampir sekaligus mencari inspirasi di situ ketika berkunjung ke Pulau Dewata. Turis-turis Barat pun kerap datang bertamu. Selain itu, Tedja dan istri beberapa kali menggelar even kesenian yang dihadiri para seniman dan budayawan di Bali.

Peristiwa besar dalam hidup Tedja Suminar terjadi pada 30 Oktober 2009. Sang istri tercinta, Anastasia Moentiana, meninggal dunia dalam usia 69 tahun. Tedja yang dikenal sebagai family man pun merasa terguncang. Dia ibaratnya kehilangan separo jiwa yang selama bertahun-tahun mendampingi dirinya dalam perjalanan hidup ini. Sejak itulah, Tedja lebih banyak menghabiskan waktu di Surabaya untuk menemani enam cucunya sambil terus berkarya.

“Saya sepertu tidak tahan tinggal di Ubud. Bayangkan, saya dan istri membangun studio itu dari tanah kosong. Mulai pasang fondasi sampai jadi kami selalu bersama-sama,” ujarnya perlahan. (rek)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu, 23 Januari 2010

No comments:

Post a Comment