04 January 2011

Susi Air ke Lembata



Pesawat SUSI AIR saat mendarat di Bandara Wunopito, Lewoleba, Lembata.

Tadinya saya tidak bisa membayangkan ada pesawat kecil, baling-baling, yang begitu nyaman dan stabil. Tapi begitu menikmati penerbangan Susi Air pergi-pulang Kupang-Lembata, saya harus berterima kasih kepada manajemen dan pemilik maskapai baru ini.

Sungguh sebuah "revolusi" di jagat penerbangan kita! Pada 1980-an dan 1990-an, saya tidak pernah membayangkan hal ini. NTT yang merupakan provinsi kepulauan akhirnya punya jaringan penerbangan komuter (jarak dekat) dalam jumlah besar.

Ada 18 bandara kecil, kecuali Bandara Eltari di Kupang yang lumayan besar, yang tersebar di seluruh pelosok NTT. Di Jawa Timur saja hanya ada dua bandar udara, yakni Bandara Juanda dan Bandara Abdul Rachman Saleh (Malang). NTT punya 18 bandara, Bung, meskipun kecil-kecil. Panjang landasan rata-rata kurang dari satu kilometer.

Susi Air ini kapasitasnya hanya 12 penumpang. Dua awak kabin (pilot dan kopilot) sama-sama bule Eropa. Sopan, ramah, suka senyum, selalu melambaikan tangan untuk warga Lembata yang datang menjemput atau mengantar di Bandara Wunopito, Lewoleba.

"Selamat pagi, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Kita akan terbang selama kira-kira 40 menit ke Kupang. Selamat menikmati perjalanan Anda!" ujar sang kopilot, ramah.

Sikapnya si bule tampan ini malah lebih ramah ketimbang rata-rata pramugari maskapai penerbangan besar di tanah air. Kita dibuat betah berada di dalam pesawat mungil itu.

Dibandingkan pesawat-pesawat kecil, yang pernah saya tumpangi, Susi Air ini asyik banget. Tenang. Stabil. Tak ada gerakan turun-naik yang tajam yang membuat penumpang sport jantung. Tak ada permainan roller coaster. Naik Susi Air sama nyamannya dengan naik pesawat komersial besar buatan Boeing atawa Airbus.

Karena penumpang hanya 12 orang, proses check-in dan sebagainya pun serba sederhana. Semua penumpang seperti saling kenal. Dan, biasanya, orang Lembata itu sedikit banyak punya hubungan kekerabatan, kawin-mawin satu sama lain. Naik Susi Air ibarat perjalanan piknik satu atau dua keluarga.

"Kaka, mo di mai lewo? Leron pira rae lewo?" tanya saya ketika melihat penumpang di samping saya ternyata orang Atawatung yang sejak kecil tinggal di Lewoleba. ["Kak, Anda juga pulang kampung? Berapa lama berlibur di kampung halaman?"]

Selanjutnya, perjalanan pun diwarnai cerita-cerita ringan. Penumpang lain pun terlibat percakapan hangat.

Tiba di Bandara Lewoleba, yang bernama WUNOPITO, penumpang turun. Bagasi tidak banyak karena free hanya 10 kilogram. Ada yang dijemput keluarga dengan mobil. Ada yang memilih naik ojek, macam saya, karena sengaja tidak memberitahukan kedatangan ke kampung halaman.

Sekitar 30 menit kemudian, saya sudah berada di Bungamuda, sebuah desa kecil di pelosok Lembata, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan bunda, Maria Yuliana, yang sudah meninggal dunia pada 1998. Berkat Susi Air, perjalanan Kupang-Lembata yang dulu makan waktu 10-12 jam di laut, bahkan lebih, kini paling banter hanya perlu 50 menit.

INFORMASI SUSI AIR
Kupang 0811 211 9808
Rote 0812 3603 5669
Sabu 0813 3846 4678

Larantuka 0821 4512 3040
Lewoleba 0812 3602 5244

1 comment:

  1. kaka,,,saya juga rindu pulang kampung.. hehehe,, trima kasih atas sharingnya. Setidaknya saya berharap agar suatu saat bisa tengok kampung halaman di ujung barat pulau Flores, Congkasae. Saya mau pulang, tapi pinjam istilah sastrawan Indonesia angkatan '45 "kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan jarak antara langit dan bumi".

    ReplyDelete