25 January 2011

RIP Mama Mady, Ibunda Uskup Surabaya



Kwa Siok Nio (87 tahun) alias Ursula Madijanti, ibunda Uskup Surabaya Mgr Sutikno Wisaksono, tutup usia di RKZ Surabaya pada Selasa (18/10/2010) pukul 14.15. Sepanjang hidupnya, mendiang Mama Mady dikenal sederhana, tekun, dan sangat religius.

Setelah menikah dengan Oei Kok Tjia (sekarang almarhum), pegawai Penataran Angkatan Laut (PAL), pada 30 April 1950, Kwa Siok Nio tinggal bersama suaminya di Perak Timur 216 Surabaya. Dua tahun kemudian, tepatnya 27 Juni 1952, pasutri muda yang masih punya hubungan kekerabatan ini dikarunia anak pertama, Oei Lwan Nio.

Tak lama kemudian, 26 September 1953, lahir anak kedua yang diberi nama Oei Tik Hauw. Kelahiran anak laki-laki ini, sebagaimana keluarga Tionghoa umumnya, disambut sukacita pasutri Kok Tjia-Siok Nia. Sang papa yang pegawai negeri ini sengaja menamai anaknya Tik Hauw, artinya kebijaksanaan yang indah. Kelak, Tik Hauw tumbuh menjadi rohaniwan Katolik yang mumpuni hingga ditahbiskan sebagai uskup Surabaya oleh Julius Kardinal Darmaatmaja SJ di Lapangan Bumimoro, Surabaya, 29 Juni 2007.

Ketika Tik Hauw berusia dua tahun, Siok Nio dikarunia seorang putri lagi. Anak ketiga ini diberi nama Oei Swan Nio. Dokter Hartles kemudian menyarankan agar pasutri ini menghentikan punya momongan. Sang dokter khawatir pernikahan sedarah ini berpotensi melahirkan anak yang tidak normal. Saran dokter keluarga pun diikuti, sehingga Swan Nio menjadi anak bungsu.

Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Tik Hauw (kelak bernama Vincentius Sutikno Wisaksono) paling disayangi papa dan mamanya. Tik, tutur Siok Nio suatu ketika, sangat lucu, lincah, dan periang. Dia juga selalu lekat alias kinthil dengan mamanya. Porsi makan untuk Tik pun biasanya lebih banyak ketimbang dua saudarinya. Biasanya, Kwa Siok Nio membagi satu telur untuk ketiga anaknya. Nah, Tik selalu mendapat jatah separo, sedangkan Lwan Nio dan Swan Nio masing-masing kebagian jatah seperempatnya.

Meskipun mendapat porsi makan lebih banyak, ternyata kondisi fisik Tik lebih lemah dari kakak dan adiknya. Tik mudah sakit. Ini sangat merepotkan sang mama, Siok Nio, mengingat sang suami sering berdinas ke luar daerah, bahkan keluar negeri dalam waktu lama. Mama Mady, sapaan akrab Kwa Siok Nio di rumah, pernah pusing tujuh keliling gara-gara Tik Hauw punya luka (borok) yang tak sembuh-sembuh. Beberapa kali diobati, dibawa ke dokter, borok itu tetap saja membandel.

Tik Hauw kemudian dibawa ke rumah tetangga, Sutiksno, untuk diobati dengan obat luka spesial. Aha, beberapa hari kemudian borok itu akhirnya sembuh. Sutiksno dan istri, Suharni, kemudian ikut berperan penting dalam perjalanan rohani keluarga Oei Kok Tjia.

Ketika menikah di Surabaya, Siok Nio sebenarnya sudah ingin diberkati secara Katolik meskipun saat itu dia belum resmi menganut Katolik. Dia terkesan dengan dedikasi para misionaris, khususnya pastor-pastor Karmelit asal Belanda sewaktu tinggal di Lumajang. Dia juga terkesan dengan liturgi syahadu di gereja Katolik pada era 1960-an. Saat itu perayaan ekaristi atau misa memang dilakukan dalam bahasa Latin dengan lagu-lagu gregorian yang khas.

Namun, untuk dibaptis secara Katolik perlu proses yang agak lama. Siok Nio mulai rajin ke gereja meski harus duduk di bagian belakang. Waktu itu memang ada tradisi bahwa umat yang belum dipermandikan tidak boleh duduk di depan. Toh, Siok Nio senang melihat putranya, Tik Hauw, aktif menjadi misdinar atau putra altar di gereja.

“Padahal, saat itu Tik belum dibaptis,” kenang Siok Nio beberapa waktu silam.

Berkat ketekunan Kwa Siok Nio mengikuti pelajaran agama selama empat tahun, dan rajin misa di gereja, akhirnya pada 7 Mei 1966 seisi keluarga Oei Kok Tjia dibaptis di Gereja Santo Mikael, Tanjung Perak, Surabaya, oleh Romo A van Rijnsoever CM. Tik Hauw saat itu duduk di kelas enam sekolah dasar (SD).

Setelah dibaptis, kelima jemaat baru ini mendapat tambahan nama santo/santa di depan nama Tionghoa. Nama-nama mereka menjadi Stefanus Oei Kok Tjia, Ursula Kwa Siok Nio, Maria Regina Oei Lwan Nio, Vincentius Oei Tik Hauw, dan Vincentia Oei Swan Nio.

Perkembangan politik dan keamanan pascaperistiwa G30S/PKI membuat warga keturunan Tionghoa di tanah air harus tiarap. Muncul aturan agar warga Tionghoa mengganti namanya dengan nama-nama Indonesia. maka, atas masukan Sutiksno, tetangga depan rumah di Perak Barat 221, nama-nama mereka pun diganti lagi.

Stefanus Oei Kok Tjia ‘disesuaikan’ menjadi Stefanus Widiatmo Wisaksono. Ursula Kwa Siok Nio menjadi Ursula Madijanti. Ini karena sejak kecil Siok Nio memang punya nama kecil Mady. Maria Regina Oei Lwan Nio menjadi Maria Regina Reniwati Wisaksono. Vincentius Oei Tik Hauw menjadi Vincentius Sutikno Wisaksono. Vincentia Oei Swan Nio menjadi Vincentia Mia Swandajani Wisaksono.

Sebagai pegawai negeri dengan penghasilan pas-pasan, Kwa Siok Nio yang kini bernama Ursula Madijanti merasakan betul beratnya beban hidup. Semua anggota keluarga harus kerja keras agar bisa bertahan hidup sebulan. “Sebab, belum tanggal 10 gajian sudah tipis,” kenang Ursula Madijanti.

Karena itu, dia pernah meminta Tik Hauw alias Sutikno Wisaksono agar tidak menjadi pegawai negeri. “Anakku ojo sampek dadi pegawai negeri. Iso kere!” katanya. Namun, Ursula dan suami pun tak pernah membayangkan anak laki-laki satu-satunya itu memilih menjadi pastor dengan masuk seminari. Ini berarti Sutikno tak akan berkeluarga, punya istri dan anak.

Namun, Pak Wisaksono dan istri akhirnya dengan bijak menerima kenyataan ini. Mereka merelakan Sutikno menempuh pendidikan di Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo di Garum, Blitar. “Sudahlah, ini sudah jalan Tuhan. Tuhan sudah atur. Kita harus percaya kalau ini jalan yang terbaik,” kata Wisaksono yang meninggal dunia akibat komplikasi diabetes pada 12 November 1996.

Berkat dukungan orangtua, perjalanan imamat Sutikno berjalan mulus. Pada 21 Januari 1982, frater muda asal Tanjung Perak ini ditahbiskan sebagai imam (pastor) di Gereja Katedral Surabaya. Sang mama yang berurai air mata ketika melepas anaknya ke seminari beberapa tahun silam, kini juga tak kuasa menahan linangan air mata. Mama Mady bahagia karena cita-cita Sutikno akhirnya terwujud.

Ketika Romo Sutikno ditunjuk Paus Benediktus XVI menjadi uskup Surabaya menggantikan Mgr Johanes Hadiwikarta, yang meninggal dunia, mata Mama Mady untuk kesekian kalinya berkaca-kaca. Dan kalimat yang pernah dilontarkan Stefanus Wisaksono, almarhum suaminya, pun diucapkannya dengan yakin. “Njootje (sapaan akrab Sutikno), jalan Tuhan adalah yang terbaik!”

Bagi Mgr Sutikno, kenangan yang paling berkesan dari sang mama adalah kesederhanaan, kejujuran, dan ketetekunan berdoa. Doa sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Ursula Madijanti. Bahkan, setelah jadi uskup pun, Mgr Sutikno masih juga diingatkan agar tidak lupa berdoa.

“Njootje, kamu jangan lupa berdoa ya! Jangan lupa berdoa!” pesan Ursula. Mgr Sutikno sendiri tersenyum simpul mendengar imbauan mamanya.

“Saya ini sudah uskup, tapi selalu disuruh berdoa oleh ibu saya,” cerita monsinyur di sejumlah acara. Hehehe.... Umat pun tertawa-tawa mendengar cerita ini. (*)

CATATAN:

Bahan-bahan utama dikutip dari buku MAESTRO DARI PERAK, biografi Mgr Sutikno karya Kanisius Karyadi. Bekas ketua PMKRI Surabaya yang mulai merintis karier sebagai penulis buku, petani, dan pengelola koperasi kredit. Matur nuwun Cak Karyadi lan Ning Sisilia.

1 comment:

  1. Salam hormat Bung Hurek...

    Ha...ha...ha...bisa saja sobit satu ini. Atas peran serta sampeyan, beberapa kali profil saya dimuat koran, terutama di koran Radar Surabaya.
    yang sampeyan kelola. Matur suwun Cak Hurek. Merdeka!!!

    Kanisius Karyadi
    Alamat KTP : Candi Lontar Kulon 6/19 Surabaya
    Alamat tinggal : Perum Candramas AD 20 Sedati Sidoarjo.
    (031) 71628697, 081395609718

    ReplyDelete