20 January 2011

Perlu Mengingat Nomor Telepon



Berapa banyak nomor telepon, entah telepon rumah, kantor, atau ponsel (HP) yang Anda ingat? Lima, tujuh, 10... atau mungkin hanya dua? Hehehe....

Sejak ada teknologi seluler, HP, terus terang saja, saya tidak banyak mengingat nomor-nomor telepon. Bahkan, nomor HP adik saya di kampung, yang sangat sering berkomunikasi dengan saya, tak saya ingat. Cukup membuka daftar nomor telepon, phone book, selesai.

Tak perlu lagi mengingat nomor-nomor telepon yang biasanya 10 digit lebih itu. Memori di kepala kita rupanya tak lagi dipakai untuk menyimpan nomor-nomor telepon, termasuk nomor-nomor telepon orang yang sangat dekat dengan kita.

Mengapa saya tiba-tiba membahas nomor telepon?

Aha, tadi pagi, saya kebetulan mendampingi Ibu Yati, usianya mendekati 80 tahun, untuk mengurus surat-surat tanah di kantor Pemkot Surabaya. Bu Yati, sebagai wong lawas, tidak pernah kenal HP. Gagap teknologi lah. Beliau hanya punya telepon rumah, yang dikenalnya sejak era kolonial Belanda.

Karena tak pernah punya HP, meskipun uangnya banyak, rumahnya di kawasan elite Surabaya, Bu Yati terbiasa menyimpan nomor-nomor telepon penting di kepalanya. Telepon-telepon teman dekat, keluarga, keponakan, dokter, relasi... Termasuk nomor HP saya yang 11 digit itu. Bu Yati juga punya buku catatan nomor-nomor telepon penting yang ditulis secara manual.

Tiba di pemkot, Taman Surya, Bu Yati meminta saya menghubungi lima orang yang terkait dengan urusan tanah via HP-ku. “Nomor teleponnya berapa, Bu?” tanya saya.

Lalu, beliau dengan fasih menyebut 10 sampai 12 digit nomor HP. Dan ternyata semuanya benar. Luar biasa orang tua ini! Saya sendiri bahkan tidak hafal nomor HP saya yang baru, XL, karena angkanya ada 12. Kalau nomor lama, Simpati, sih ingat karena usianya sudah 12 tahun lebih. Wah, ternyata Bu Yati ingat nomor HP alternatif saya yang XL, yang jarang dipakai, itu.

Di sepanjang jalan, saya terkagum-kagum dengan memori orang-orang lama macam Bu Yati ini. Almarhum Gus Dur kabarnya hafal 500-an nomor telepon teman-teman dan keluarga dekatnya. Di Palestina, seperti yang saya baca di internet, mampu menghafal 80 ribu nomor telepon.

Saya hanya menghafal kurang dari 10 nomor telepon! Bahkan, nomor telepon rumah Bu Yati pun tidak saya hafal. Cukup melihat di phone book HP saja. Hehehe.... Ada penyiar radio terkenal di Surabaya yang tidak hafal nomor telepon kantor studionya sendiri. Setiap kali siaran, si cewek itu selalu bertanya kepada penyiar rekannya, “Nomor telepon kita berapa ya?”

Bagaimana kalau HP yang menyimpan ratusan, bahkan ribuan, nomor telepon itu hilang? HP dicuri orang? HP rusak?

Kalau Anda punya anak, pembantu rumah tangga, mulai sekarang biasakan untuk menghafal nomor telepon rumah, nomor HP ayah, ibu, kakak, adik, dan orang-orang terdekat. Siapa tahu suatu ketika dia tersesat di sebuah tempat yang jauh, sementara HP-nya hilang atau dicolong orang.

4 comments:

  1. Ok, diupayakan.... mudah-mudahan besok-besok bisa berguna, seperti kisah ini.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Romo Patris, sudah mampir baca dan mengomentari blog saya. Salam untuk para romo dan suster yang bertugas di Kupang dan sekitarnya. Semoga tetap semangat dan selamat menikmati se'i... hehehe...

    ReplyDelete
  3. Wow, masih ingat se'i ya? Ha ha ...Mana ulasannya ttg wisata kuliner itu? Oh, makasih untuk tanggapannya. Salam balik dari sodara-sodari di Kota Kupang dan sekitarnya...

    ReplyDelete
  4. Hehehe... Beta su pasti ingat se'i lah. Kalau ke Kupang beta selalu tinggal di Sikumana, hanya 200-an meter dari Biara Benediktin. Se' memang makanan favorit, selain jagung titi dan sayur merungge (kelor). God bless you, Father Patris!

    ReplyDelete