13 January 2011

Open House di Wawali Kupang





Ada satu kesempatan langka saat saya berada di Kupang, persis hari Natal, 25 Desember 2010. Yakni, mengikuti open house ke rumah pejabat teras di kota itu. Selepas magrib, kami meluncur ke rumah dinas wakil wali kota Kupang. Namanya DANIEL HUREK.

Banyak pejabat, pegawai negeri sipil (PNS), pengacara, pengusaha, hingga rakyat biasa datang bergantian untuk kasih ucapan selamat Natal. "Semoga damai Natal, kasih Kristus, memberikan kebahagiaan kepada kita semua! Khususnya rakyat Kota Kupang!" begitu kira-kira harapan doa warga yang datang berjabat tangan, termasuk saya.

Pak Daniel Hurek dan istri, Ibu Vita, bersama putrinya, Dita, berdiri di teras. Capek juga Pak Dan, yang juga keluarga dekat saya, melayani acara jabat tangan hampir sepanjang hari. Jabat tangan, cipika-cipiki, mendengar ucapan selamat Natal yang rata-rata mirip. Tapi, mau bilang apa, open house Natal macam ini memang sangat khas di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kalau di Jawa Timur, yang hampir semua rakyatnya Islam, open house dilakukan saat Idul Fitri. Pejabat-pejabat, anggota DPRD, kontraktor, kepala-kepala dinas, asisten ini-itu, PNS kelas menengah hingga tukang sapu menunda acara mudik. Harus datang ke pendapa kabupaten untuk open house.

Rupanya di NTT, provinsi asal saya, ini pendapa-pendapa kabupaten/kota tidak ada. Maka, open house Natal langsung dilakukan di rumah dinas alias rumah jabatan. Masyarakat bisa melihat dari dekat suasana rumah jabatan, aksesoris, furnitur, menu makanan, keluarga pejabat, hingga taman bunga.

"Bukan main rumah jabatan ini. Kalau melihat suasana seperti ini, ya, pantas saja kalau begitu banyak orang ingin menjadi pejabat di NTT," kata bapak saya yang disilakan duduk di ruang depan. Hehehe....

Saya tertawa geli mendengar komentar bapak saya, orang kampung di pelosok Pulau Lembata, yang memang asing dengan suasana rumah mewah khas pejabat di ibu kota Provinsi NTT. Rumah dinas bupati di Lembata, katanya, tidak sebagus di Kupang. Ada hiasan musik sasando, topi khas Timor, hingga anyaman daun lontar nan eksotik.

Sebagai PNS di pelosok terpencil, bapak saya juga pernah tinggal di rumah dinas di kampung selama puluhan tahun. Rumah dinas PNS kelas kampung di Lembata ini lebih pantas disebut GUBUK DERITA.

Rumah gedhek berlantai tanah, atapnya alang-alang. Jendelanya dari daun lontar. Lebih parah ketimbang gubuk-gubuk darurat penjaga tambak di pedalaman Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Tak usahlah diceritakan soal aksesoris di dalam rumah dinas bapak saya, selain foto hitam putih Pater Gabriel Goran SVD dan brosur doa Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Larantuka.

Dalam suasana open house yang ramai itu, tak banyak waktu untuk banyak bicara. Basa-basi sejenak, senyam-senyum, kemudian langsung ke aula di samping rumah dinas wawali. Makanan berlimpah di atas meja, tapi awas, banyak kolesterol dan lemak jahatnya. Selera makan, apalagi buat orang NTT yang doyan makan banyak, pun terbit. Orang yang sedang berdiet rendah lemak, rendah kalori, pun membatalkan dietnya.

Sambil makan, para hadirin -- ada yang diundang, tapi banyak juga yang datang sendiri karena kebiasaan -- dihibur organ tunggal. Siapa saja boleh sumbang suara. Dan di Kupang, saudara-saudara, tidak sulit mencari orang yang bisa menyanyi dengan bagus. Saya lihat, banyak pengunjung seakan berlomba pamer suara emas.

"Selamat Natal, Merry Christmas! Saya mau mempersembahkan sebuah lagu untuk kita semua," ujar seorang ibu berpenampilan anggun, busana motif tenun ikat. Suaranya mantap. Oh, ternyata Mama Vita, istri Wawali Kupang Daniel Hurek.

"Terima kasih Tuhan atas kasih setia-Mu
Yang Kauberikan dalam hidupku,
Terima kasih Yesus atas kemurahan-Mu
di dalam hidupku....."


Lagu rohani populer ini dibawakan oleh Mama Vita dengan asyik. Saya tak menyangka kalau Mrs Dan Hurek ternyata punya kemampuan olah vokal di atas rata-rata. Seandainya ada lomba menyanyi antarnyonya pejabat di NTT, Mama Vita akan dengan mudah menembus babak empat besar.

Mama Vita kemudian melanjutkan dengan lagu pop lawas milik Bob Tutupoly, SIMPHONY YANG INDAH. Di sini kemampuan olah vokal Sang Mama semakin terlihat jelas. Vibrasi, suara altonya, timing-nya pas. Belakangan, setelah cek sana-sini, tahulah saya bahwa Mama Vita ini tadinya memang anggota paduan suara yang terlatih di Kupang.

Pantas saja suara Mama Vita enak dinikmati. Dan beliau tampak enjoy ketika ada kesempatan bernyanyi di depan orang banyak.

Syair dan melodi
kau bagai arena penghapus pilu
Gelora di hati
bak mentari kau sejukkan hatiku
...............

1 comment:

  1. "Alun sebuah simponi, kata hati disadari ..."

    oleh anak2 kecil jamanku dulu suka diplesetkan jadi:

    "Alun-alun disaponi, nemu duit tak kantongi ..."

    ReplyDelete