08 January 2011

Natal di Taiwan




ROMO Yohanes Murjiyono CM, pastor asal Jogjakarta, kaget setengah mati ketika pertama kali ditugaskan di Gereja St John Gabriel Perboyre. Sekitar 45 menit sebelum misa Natal dimulai, dia melihat gereja kosong. Hanya ada satu orang tua yang ada di dalam gereja.

“Ini pertama kali buat saya merasakan perayaan Natal yang sepi,” tutur Romo Murjiyono yang ditahbiskan di Gereja Katedral Surabaya itu.

Setelah menunggu beberapa saat, satu per satu umat mulai berdatangan. Itu pun hampir semuanya orang tua-tua, para pensiunan. Maklum, Natal bukanlah hari libur nasional seperti di Indonesia. Sehingga, orang-orang yang datang ke gereja untuk kebaktian atau misa hanyalah orang-orang yang tidak bekerja.

Ketika misa hampir dimulai, menurut Romo Murjiyono, tidak ada orang yang memimpin lagu, memainkan organ, atau menjadi misdinar (putra altar). Akhirnya, ada satu orang yang bersedia menjadi misdinar, yaitu koster sekaligus tukang kebun gereja. Ketua dewan paroki maju dan memimpin lagu.

Misa Natal pun dimulai, sementara jemaat yang hadir tetap tidak banyak. Lagu-lagu rohani pun hanya setengah suara karena yang menyanyi adalah para lansia.

“Tapi saya terharu karena mereka dengan setia menekuni imannya. Suasana seperti misa hari biasa. Inilah suasana Natal pagi di sebuah paroki di Taiwan di mana saya melayani,” ujar pastor muda yang aktif menulis pengalamannya selama bertugas di Taiwan itu.

Akhirnya, Romo Murjiyono pun sadar bahwa dulu, ketika Yesus Kristus lahir, pasti bukan hari libur nasional bagi masyarakat Bethlehem. Yesus lahir dalam kesunyian. Tak ada orang yang tahu kecuali para gembala yang menerima kabar dari malaikat. “Saya meneguhkan hati bahwa suasana Natal pertama masih jauh lebih sepi daripada perayaan Natal yang saya rasakan di Taiwan.”

Suasana Natal memang terlihat di tempat-tempat umum di Taiwan. Bahkan, jauh-jauh hari sebelum 25 Desember, orang Taiwan yang bukan Kristen pun sudah memasang ornamen-ornamen Natal di pusat perbelanjaan, hotel, restoran. Namun, mereka tidak merayakan kelahiran Yesus.

Sebagian besar malah menganggap Natal hanyalah perayaan untuk Sinterklas yang membagi-bagikan hadiah. Maka, hiasan yang dipasang pun gambar-gambar Sinterklas, pohon terang, dan kaos kaki besar di mana Sinterklas akan memasukkan hadiah di dalamnya.

Bahkan, ketika ada pentas Natal sebuah Taman Kanak-Kanak (TK), kata Romo Murjiyono, sang uru bertanya kepada murid-muridnya. Natal itu perayaan apa? Anak-anak menjawab, Natal adalah perayaan ulang tahun Sinterklas. Inilah dunia modern di Taiwan memahami Natal, yang sering tidak sejalan dengan arti sebenarnya.




SEPANJANG masa Adven, sejak awal Desember lalu, Romo Yohanes Murjiyono CM sibuk memandu rekoleksi untuk umat Katolik. Bersama kaum muda Maria Vinsentian, pastor asal Jogjakarta ini mengadakan rekoleksi yang diikuti 18 peserta.

Rekoleksi diadakan di sebuah gereja milik Ordo CDD di Bukit Ya Ming San. “Kami berangkat dari Gereja Shi Lin jam 09.30 dengan tiga mobil,” cerita Romo Murjiyono.

Sesi pertama dibawakan oleh Suster Li PK. Biarawati itu mengajak peserta untuk keluar menuju kebun. Di tengah udara yang sangat dingin, sekitar 10 derajat Celsius, peserta disuruh tidur telentang beralaskan plastik mantel. Melihat langit dan segala sesuatu yang ada di situ, pohon-pohon, burung-burung yang melintas di angkasa, meninkmati dinginnya udara Bukit Ya Ming San.

Sambil tidur telentang, peserta mendoakan Mazmur tentang pujian alam. “Terpujilah Tuhan yang menciptakan burung-burung di udara. Terpujilah Tuhan yang menciptakan jagat raya dan seisinya. Kami melihat dan menyaksikan keagungan Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu.”

Setelah itu, peserta masuk ke gereja untuk melanjutkan sesi pertama. Suster Li memberikan penjelasan mengenai misa dan makna dari setiap bagiannya. “Sesi pertama diakhiri pukul 12.00, lalu kami makan siang bersama dan istirahat sebentar,” katanya.

Romo Yohanes Murjiyono CM asal Indonesia kebagian tugas mengisi sesi kedua. Tentu saja, dalam bahasa Mandarin yang sulit itu. “Dengan bahasa Mandarin yang terbatas, saya nekat saja untuk ngomong. Syukurlah, saya sudah mempersiapkan bahan-bahan yang saya tuangkan dalan power point,” katanya.

Romo Murjiyono mengajak umat Katolik di Taiwan untuk menyiapkan diri menyambut kedatangan Yesus Kristus. Natal harus dipersiapkan. Tanpa persiapan, Natal pun pasti akan datang, namun artinya akan berbeda apabila kita mempersiapkannya dengan baik.

Dia memberi contoh seorang pelari 100 meter. Atlet ini mempersiapkan perlombaan yang hanya berlangsung beberapa detik itu selama bertahun-tahun dengan sekuat tenaga. Ini agar waktu yang hanya beberapa detik itu sungguh mempunyai makna bagi dirinya.

Sadar kalau dirinya sedang bertugas di negara orang, dengan tradisi dan budaya yang berbeda, Romo Murjiyono berusaha berbicara sehalus mungkin, gaya Jogjakarta. Ini agar tidak menyinggung perasaan umat Katolik di Taiwan yang rata-rata tidak akrab dengan rekoleksi, retret, pendalaman Alkitab, dan sebagainya. (*)

No comments:

Post a Comment