08 January 2011

Lonceng Angelus di Lembata




Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan,
Bahwa ia mengandung dari Roh Kudus
Salam Maria.....


Di pinggir jalan di Desa Lamawara, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, ada lonceng tua. Bentuknya sudah tidak karuan, saking tuanya. Ada retak di sana-sini. Itulah lonceng angelus. Lonceng untuk memberikan tanda kepada masyarakat, yang hampir semuanya beragama Katolik, untuk rame-rame melantunkan doa angelus alias doa malaikat Tuhan.

Saat pulang kampung ke Lembata beberapa hari lalu, setelah bertahun-tahun berada di Jawa Timur, saya terkenang masa kecil di pelosok Flores Timur itu. Ketika masih sekolah dasar, saya menjadi salah satu bocah yang bertugas memukul lonceng angelus itu. Ada pola irama tiga ketukan yang khas. Namanya juga anak-anak kampung, terkadang lonceng itu dipukul dengan sedikit variasi yang agak melanggar pakem.

Dalam sehari lonceng itu dipukul tiga kali. Yakni, pukul 06.00, pukul 12.00, dan pukul 18.00. Orang Katolik, menurut para misionaris SVD asal Belanda di Flores, sangat dianjurkan untuk melantunkan doa angelus tiga kali sehari. Akan lebih baik jika doa angelus ini digabung dengan doa pagi dan doa petang, kata Pastor Geurtz SVD yang sudah almarhum.

Pada 1980-an, juga di awal 1990-an, lonceng angelus itu terasa sangat efektif di pedalaman Flores. Tak lama setelah mendengar bunyi lonceng, orang rame-rame menghentikan pekerjaannya, menundukkan kepala, dan mulai berdoa. Anak-anak sekolah spontan berdiri, pelajaran dihentikan, dan doa dimulai:

Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan....
Aku ini hamba Tuhan....
Sabda sudah menjadi daging....
Doakanlah kami ya Santa Bunda Allah....


Kini, di awal tahun 2011, lonceng angelus warisan misionaris Belanda itu masih ada di kampung. Posisinya pun masih sama: di pinggir jalan raya, di tengah-tengah kampung. Tapi, sayang, ketika berada di kampung, saya sudah tak mendengar lonceng itu dipukul, kemudian umat Katolik rame-rame mendaraskan Malaikat Tuhan dan Salam Maria.

Ke mana doa angelus di pelosok Flores? Apakah umat, khususnya generasi baru, sudah lupa doa angelus karena sibuk bermain ponsel dengan bermacam fitur canggihnya? “Sekarang ini lain dengan dulu. Orang berdoa masing-masing di rumah,” kata seorang warga setempat kepada saya.

Wow, kampung yang sangat pelosok itu kini sudah berubah. Mirip masyarakat kota yang terlalu sibuk bekerja, sehingga tak bisa dimobilisasi untuk doa bersama ala orang-orang desa tempo doeloe. Jangan-jangan orang modern tak merasa perlu mendaraskan doa-doa harian seperti yang diajarkan para misionaris Barat ketika memperkenalkan iman Katolik di Indonesia!

Di Surabaya, lonceng angelus yang sederhana macam di Flores rupanya tidak ada. Tapi cobalah pasang telinga lebar-lebar: tiga kali sehari lonceng gereja, misalnya di Gereja HKY Surabaya, dibunyikan dengan keras. Pukul 06.00, 12.00, 18.00. Yah, itulah panggilan bagi umat Katolik untuk berdoa malaikat Tuhan, angelus!

Pertanyaannya, berapa orang di Surabaya yang mau mengambil sikap untuk berdoa angelus? Masih perlukah doa angelus?

No comments:

Post a Comment