27 January 2011

Kor Sederhana di Lembata



Kor OMK mengiringi Romo Bernardus Keban membagikan komuni di Gereja Stasi Lewotolok. Semua anggota kornya perempuan. Ama lake tega nai?



Saya harus mengacungkan dua jempol untuk para remaja di kampung halaman, Lewotanah, yang aktif di paduan suara gerejawi. Kor-kor di pelosok Lembata, NTT, sangat sederhana. Suara polos-polos, alami, nyaris tak ada polesan apa-apa.

Saya pastikan mereka tidak kenal teknik bell canto. Tidak latihan olah pernapasan diafragma. Tidak latihan vokalisasi. Tidak latihan naik turun interval nada. Tidak latihan resonansi. Tidak diajari teknik membuat suara kepala, khususnya sopran dan alto, dan suara perut, khususnya untuk alto dan bas.

Singkatnya, ilmu-ilmu dasar paduan suara yang dibahas panjang lebar oleh Romo Karl Edmund Prier SJ, bos Pusat Musik Liturgi [PML] di Jogjakarta, yang juga rujukan para aktivis paduan suara Gereja Katolik di Indonesia, tidak sampai di pelosok Lembata. Sistem latihan ala Paul Widyawan, juga pentolan PML, juga tidak dikenal.

Mereka punya dedikasi tinggi, aktif berlatih, setelah sibuk kerja di kebun atau budidaya rumput laut. Tanpa bimbingan guru vokal, apalagi pelatih kor kawakan macam di Jawa, para OMK (orang muda Katolik) itu setiap minggu mewarnai misa atau ibadat sabda tanpa imam di gereja.

Sejak dulu laki-laki Lamaholot -- yang meliputi Kabupaten Flores Timur, Lembata, Alor -- senang merantau ke Malaysia Timur. Sabah dan Serawak sudah seperti 'kampung kedua' orang Lamaholot. Merantau puluhan tahun, kumpulkan ringgit, pulang sejenak di kampung... kemudian balik lagi ke Malaysia. Biasanya, RIP-nya juga di negeri orang: Negara Bagian Sabah, Malaysia.

Urusan TKI legal atau ilegal, pendatang haram atau pendatang halal, itu nomor 17 bagi kami, etnis Lamaholot. Bukankah tauke-tauke di Malaysia Timur, yang doyan makan babi itu, senang dengan orang-orang kampung di Flores yang memang tidak jijik merawat babi-babi gemuk, mendaras getah, mengolah kebun sawit, atau menebang pohon?

Karena itu, paduan suara di kampung-kampung di Lembata umumnya kekurangan laki-laki. Bahkan, yang saya lihat di Gereja Stasi Lewotolok, Kecamatan Ile Ape, penyanyi laki-lakinya tidak ada. Kor hanya punya sopran dan alto minus tenor dan bas. Kor sejenis putri, female choir, memang lazim dalam jagat paduan suara.

Sayang, seperti yang saya lihat, aransemen kor yang dipakai di kampung adalah kor campuran, mixed choir. Kor SATB. Maka, kor-kor yang ada pun tidak bisa dibilang kor beneran. Sudah untung OMK-OMK itu mau menyisihkan waktu untuk datang berlatih dan melayani nyanyian di gereja. Tidak adil kalau kita menuntut terlalu banyak pada mereka.

Meski sederhana, kor-kor di kampung ini sangat berkesan bagi warga Lamaholot macam saya. Mereka lebih banyak membawakan lagu-lagu liturgi bernuansa Lamaholot yang khas. Misalnya, INA MARIA [Bunda Maria] beberapa versi yang syairnya sangat menyentuh. Kita bisa menitikkan air mata begitu mendengar nyanyian yang diciptakan Ama Thomas Kwae Laga dari Adonara Timur ini.

Saya bilang kepada orang-orang di kampung:

"Denga kantar INA MARIA heloka denga ata diken tani ata maten!"

[Mendengar lagu INA MARIA ini ibarat mendengar orang-orang kampung menangis, meratapi kepergian orang yang meninggal dunia.]

Sungguh pedih dan menyanyat hati. Kor-kor sederhana, nyanyian pendek dengan melodi dan harmoni yang juga tidak ruwet.. ternyata membekas luar biasa di dalam hati.

Ketika menyaksikan Yulius Kristanto, dirigen dan pelatih paduan suara terkenal di Surabaya, memimpin paduan suara di Gereja Katedral Surabaya, dengan komposisi-komposisi klasik yang hebat, batin saya pun tergetar. Indah bak suara malaikat.

Toh, tetap saja beda rasa dengan kor-kor OMK di pelosok Lembata yang membunyikan nada-nada Lamaholot dari kesederhanaannya.



No comments:

Post a Comment