20 January 2011

Jeane Mandagi - Anugerah School



Cukup lama menjadi pendidik di Jayapura, Papua, sejak beberapa tahun terakhir Jeane Andreta Mandagi dipercaya memimpin TK Anugerah School Sidoarjo. Panggilan hidupnya sebagai pendidik dan kecintaannya pada anak-anak membuat Jeane selalu terlihat ceriah di sekolah.

Oleh Lambertus Hurek
Dimuat RADAR SURABAYA edisi 15-16 Januari 2010

SEBELUM rezim Orde Baru berkuasa, Sidoarjo punya sebuah sekolah Tionghoa di kawasan Jalan Gajah Mada. Sekolah setingkat TK dan SD ini kemudian tutup dan nyaris tak berbekas hingga 30 tahun lebih. Kini, setelah reformasi, muncullah Anugerah School yang mengajarkan bahasa Mandarin, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia kepada para siswa sejak dini.

“Jadi, Anugerah School ini sekolah nasional. Bukan sekolah eksklusif untuk etnis tertentu. Hanya kami mengondisikan para siswa agar menguasai bahasa Inggris dan Mandarin, selain bahasa Indonesia,” ujar Jeane Mandagi.

Dirintis pada tahun ajaran 2006/2007, seperti sekolah-sekolah baru umumnya, Anugerah School awalnya adalah sebuah kelompok bermain alias play group. Jumlah siswa saat itu 86 anak. Rupanya, minat para orangtua di Sidoarjo untuk menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan berstandar internasional cukup tinggi. Maka, jumlah siswa Anugerah School pun berkembang jadi 160 orang.

“Trennya memang selalu naik setiap tahun. Dan sekarang total siswa kami sudah sekitar 350 orang. Siswa SD 150 orang dan siswanya taman kanak-kanak,” ujar ibu tiga anak ini seraya tersenyum.

Sebagai sekolah baru, yang didesain mengikuti standar pendidikan internasional (Barat), menurut Jeane Mandagi, para guru di Anugerah School dituntut untuk punya kemampuan di atas rata-rata. Mereka harus bisa menguasai bahasa Inggris dan bahasa Mandarin agar bisa mendampingi anak-anak didiknya.

“Kami juga punya native speaker dari Tiongkok. Tapi guru-guru lokal pun dituntut bisa berkomunikasi secara aktif dalam bahasa internasional,” kata Jeane Mandagi.

Bagi perempuan kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 25 Mei 1968, ini, bahasa Inggris dan bahasa Mandarin sudah menjadi bahasa internasional yang perlu dikuasai di era globalisasi sekarang. Karena itu, anak-anak Indonesia sejak dini harus dibiasakan untuk berkomunikasi dalam bahasa global tersebut. Jeane Mandagi bahkan menyekolahkan dua anaknya ke Xiamen, Provinsi Fujian, di Tiongkok Selatan.

“Jadi, saya bisa memperdalam bahasa Mandarin saya langsung sama anak-anak saya itu,” tukas guru yang suka bercanda ini.



Sebagai kepala sekolah, Jeane Andreta Mandagi selalu membiasakan anak-anak didiknya untuk praktik langsung di lapangan. Para murid juga dibiasakan untuk tidak malu bertanya dan menyatakan pendapat.

"SISTEM pendidikan ala Barat yang kami kembangkan memang agak berbeda dengan apa yang kita kenal di Indonesia selama ini," tutur Jeane Mandagi kepada saya. Setelah mendapat penjelasan dari guru, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok, kemudian dibawa ke lapangan.

Ketika belajar mengenai rumah, misalnya, sang guru akan membawa anak-anak didik ke Perumahan Citra Garden Sidoarjo untuk melihat langsung proses pembuatan rumah. Anak-anak kemudian diperlihatkan berbagai bagian rumah seperti pintu, jendela, lantai, kamar mandi, atap, tembok, dan sebagainya. Anak-anak juga bisa mewawancarai para tukang yang sedang bekerja.

Ketika menjelaskan tentang tanaman, sambung Jeane Mandagi, anak-anak pun harus diantar untuk melihat langsung tanaman-tanaman yang ada di sekitar sekolah. “Jadi, guru di Anugerah School tidak bisa hanya sekadar bercerita macam-macam kepada anak didik. Anak-anak didik sedapat mungkin dibawa ke alam,” kata ibu tiga anak ini seraya tersenyum.

Tak hanya relasi dengan alam, menurut Jeane Mandagi, pihaknya juga membiasakan sekitar 350 siswa TK dan SD Anugerah School untuk memiliki kepedulian terhadap sesama. Ketika terjadi bencana alam di berbagai daerah di tanah air seperti banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, kemudian letusan
Gunung Merapi di Jogjakarta dan Jawa Tengah, Jeane Mandagi bersama guru-guru yang lain segera membuka dompet bencana alam.

Anak-anak diajak untuk menyisihkan sebagian uang jajannya untuk disumbangkan kepada korban bencana alam. Siswa bebas memasukkan uang ke kotak amal. Hasilnya ternyata cukup menggembirakan. Nilai sumbangan anak-anak Anugerah School mencapai Rp 7.999.000.

Duit yang terkumpul tersebut kemudian disalurkan lewat Palang Merah Indonesia (PMI) Sidoarjo. Pihak sekolah mengundang pengurus PMI ke sekolah, kemudian digelar acara doa bersama di halaman sekolah. Sejumlah orangtua dan wali murid juga dilibatkan dalam even tersebut. Setelah itu, uang yang dihimpun para siswa diberikan kepada PMI dan disaksikan bersama oleh anak-anak didik.

“Jadi, mereka sejak kecil memang sudah kami biasakan untuk melakukan bakti sosial, peduli pada sesama,” tukas istri Rudi Supit, personel TNI Angkatan Darat ini.

Masih dalam rangka meningkatkan kepedulian kepada sesama, menjelang Natal lalu, anak-anak Anugerah School juga mengadakan bakti sosial ke Panti Asuhan Bhakti Luhur di kawasan Wisma Tropodo, Waru, Sidoarjo.

3 comments:

  1. sekolah 3 bahasa memang lagi ngetrend di mana2 sesuai dgn kebutuhan jaman. para orangtua juga lebih suka menyekolahkan anak2nya di sekolah yg dianggap unggulan.

    ReplyDelete
  2. ke depan anak2 kita akan lebih fasih bahasa inggris dan mandarin karena sejak dini sudah diajari bahasa asing dgn standar tinggi. salam pendidikan!

    ReplyDelete