14 January 2011

Jalan di Lembata dan Silaturahmi Keluarga



Jalan raya yang dibiarkan rusak di Waipukang, Ile Ape. Tunggu bupati baru!

Bagi orang Lembata yang tinggal bertahun-tahun jauh di luar Lembata, seperti saya di Jawa Timur, kondisi jalan raya di kabupaten pemekaran Flores Timur ini sudah SANGAT BAIK. Sangat baik di sini kalau dibandingkan dengan pengalaman masa kecil saya dulu di kampung. Jalan aspal bisa dinikmati dari Lewoleba ke Bungamuda atau Mawa atau Atawatung.

Daerah Waimatan, Kelar, Ebak, hingga Tokojaeng pun bisa dilalui kendaraan roda empat. Praktis, semua desa di Ile Ape dan Ile Ape Timur bisa dijangkau dengan mudah oleh mobil. Daerah di belakang gunung, yang biasa disebut Lewohala, jalan-jalan mulus hingga Waipukang, tembus ke Lewoleba.

Kenikmatan macam ini tidak pernah dinikmati masyarakat sebelum 1990-an. Dulu, waktu kecil di Mawa, saya tidak pernah membayangkan di Atawatung, Waimatan, Ebak, Kelar, Lemau, hingga Tokojaeng bisa dibuat jaringan jalan buat kendaraan roda empat. Sebab, jalan-jalan di daerah itu berada di atas tebing terjal yang sangat sempit. Begitu banyak batu-batu berukuran raksasa di pinggir jalan.

Lantas, bagaimana mungkin kita bisa memecahkan batu itu, dengan risiko sangat tinggi, untuk memperlebar jalan raya?

Aha, ternyata apa yang dulu dianggap tidak mungkin, kini sudah mungkin. Seluruh desa di kecamatan Ile Ape [termasuk di dalamnya Ile Ape Timur] sudah terhubungkan. Untuk ukuran Lembata, kondisi jalan di Ile Ape sudah oke.

Waktu berada di kampung halaman akhir Desember 2010 dan awal Januari 2011, saya pun merasa bersyukur karena kondisi jalan raya dari Mawa hingga Lewoleba sudah lumayan baik. Tidak ada lagi istilah OTO TEBEMBA seperti yang sering saya lihat tempo doeloe. Jembatan-jembatan sudah ada. Maka, mobil [orang Lembata bilang OTO] tidak perlu masuk kali mati yang dalam di Waowala atau Riangbao [Desa Petuntawa] dengan kondisi yang mengerikan.

Karena infrastruktur jalan raya yang lumayan inilah, Ile Ape dan Lewoleba ibaratnya sudah menyatu. Nyaris tak ada jarak lagi. Apalagi, saat ini pusat pemerintahan Kabupaten Lembata berada di Lamahora, yang berbatasan dengan Kecamatan Ile Ape. Mungkin, suatu ketika, orang bekerja di Lewoleba, tapi bisa tinggal di Ile Ape. Cukup naik sepeda motor selama 20 atau 30 menit saja akan sampai!

Kondisi jalan raya Ile Ape-Lewoleba yang membaik ini, saya saksikan sendiri, menyebabkan perubahan luar biasa dalam perilaku dan mentalitas orang-orang di kampung saya, Ile Ape. Orang tidak perlu lagi belanja berlama-lama di Pasar Lewoleba yang ramai setiap hari Senin itu. Tidak perlu lagi jalan kaki pagi hari, belanja, kemudian sampai ke kampung pada malam hari.

Turun di Dermaga Lewoleba, misalnya dari Larantuka atau Kupang, orang Ile Ape sudah ditunggu begitu banyak tukang ojek. "Ile Ape! Ile Ape! Mau ke Bungamuda oke! Lewotolok oke! Atawatung oke!" teriak si tukang ojek dengan bahasa Indonesia logat Ile Ape yang khas.

Turun di Bandara Wunopito, Lewoleba, tepatnya di Lamahora, tukang ojek pun berjubel. Kendaraan roda dua dan roda empat sudah siap mengantar orang Ile Ape ke kampung halaman. Cukup 30-40 menit, atau 60 menit, sampailah kita di rumah masa kecil. Sebuah perubahan besar bagi saya yang mengalami era jalan kaki atau naik sepeda pancal di jalan berbatu sejauh hampir 30 kilometer pergi-pulang.

Kondisi ini, di pihak lain, membuat renggang hubungan persaudaraan antara orang Ile Ape from kampung [macam saya] dengan kerabat-kerabat kami [ina, ama, kaka, ari] orang Ile Ape yang tinggal di Lewoleba. Dulu, kami biasa mampir berlama-lama di rumah keluarga dekat, biasanya satu marga [suku], bahkan menginap barang satu dua malam di Lewoleba.

Mau ke Larantuka, Kupang, Jawa, atau Sulawesi... pasti bermalam dulu di Lewoleba, kemudian besoknya berangkat ke dermaga. Banyak orang yang numpang tidur ramai-ramai di rumah keluarga dekat di Lewoleba. Silaturahmi antara orang kampung, macam saya dan keluarga di Mawa atau Bungamuda, dengan orang Ile Ape di Lewoleba, yang sudah jadi "orang kota", terjalin dengan sangat baik. Rasa bersalah (guilty feeling) akan timbul jika kami yang dari Ile Ape tidak mampir ke rumah keluarga Ile Ape di Lewoleba.

Silaturahmi ini juga efektif untuk membuat keluarga-keluarga Ile Ape di Lewoleba selalu PETEN LEWO. Mau menyisihkan waktu untuk pulang kampung barang satu dua hari. Toh, jarak Ile Ape dan Lewoleba sangat dekat, berbatasan langsung. Ile Ape memang kecamatan minus, sulit air minum [air laut sih berlimpah ruah], tapi ada budaya, tradisi, dan kehangatan khas yang tak mungkin dijumpai di Lewoleba yang sudah multikultur.

Apa boleh buat. Apa yang saya alami di masa kecil itu sekarang perlahan-lahan mulai hilang. Sekarang ini sudah jarang ada orang Ile Ape yang bermalam, numpang tidur, di rumah kerabat dekat di Lewoleba kalau hendak berangkat ke Larantuka, Kupang, atau Jawa. Cukup tembak langsung dari kampung kira-kira satu dua jam sebelum jadwal kapal laut atau pesawat terbang. Tak ada lagi acara pamitan, kemudian dapat oleh-oleh dari keluarga-keluarga kami, orang Ile Ape, yang tinggal di Lewoleba.

Kondisi ini membuat kita, yang tinggal di rantau orang, akan sulit mengenal generasi-generasi muda asal Ile Ape yang lahir, tinggal, sekolah, kemudian bekerja di Lewoleba. Dan, sebaliknya, orang-orang keturunan Ile Ape di Lewoleba, yang lebih maju dan "lebih kota", kurang mengenal keluarga-keluarga mereka di kampung, Ile Ape. Warga keturunan Ile Ape yang lahir di Lewoleba lama-kelamaan tak punya lagi ikatan batin dengan keluarga-keluarga di Ile Ape.

TITE TOI WEKIKE HALA MURI.

"Saya bukan orang Ile Ape le! Saya orang Lewoleba le!" kata beberapa anak Lamahora, salah satu kampung di Lewoleba, yang orangtuanya jelas-jelas orang Ile Ape.

Saya merasa nelangsa, sangat sedih, ketika mendengar anak-anak Lamahora, yang orangtuanya asli Ile Ape dan masih kerabat dekat suku Hurek Making, setiap hari menertawakan logat anak-anak kampung Ile Ape ketika berbahasa Indonesia.

Sejak kecil anak-anak "kota" ini tanpa sadar sudah dibiasakan untuk menertawakan, menghina [bahasa Jawanya: NGENYEK] bahasa Ile Ape, yang nota bene salah satu ragam bahasa Lamaholot yang paling sederhana di Pulau Lembata.

Yah, penghargaan terhadap bahasa, bahasa apa pun, sejak dulu memang kurang ditanamkan di kalangan anak-anak di Lewoleba, Larantuka, atau Kupang. Sebagai pencinta bahasa, penggemar bahasa-bahasa di dunia [Melayu, Indonesia, Inggris, Belanda, Tionghoa, Jerman, Lamaholot, Kedang, Jawa, Madura, Osing...], kuping saya memang langsung panas bila mendengar ungkapan, meski diucapkan dalam konteks guyon atau bercanda, yang merendahkan martabat sebuah bahasa tertentu.

Ingat, bahasa Lamaholot adalah bahasa kebudayaan Lamaholot yang tersebar di tiga kabupaten, yakni Flores Timur, Lembata, dan Alor. Adat dan tradisi Lamaholot yang khas tidak mungkin diungkapkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Melayu. Karena itu, memelihara dan menghormati bahasa Lamaholot -- meminjam istilah orang Jawa -- sama dengan NGURI-URI BUDAYA. Merawat kebudayaan nenek moyang!



Jalan raya yang sudah beraspal di Waimatan, tetangganya Atawatung, Ile Ape Timur. Dulu jalan raya macam ini dianggap mustahil dibikin.

Kembali ke jalan raya di Lembata. Bagi masyarakat Lembata, yang tinggal dan bekerja di Lembata, perubahan besar jalan raya Trans Lembata, khususnya Ile Ape-Lewoleba, ini rupanya kurang dirasakan. Masyarakat Ile Ape di kampung-kampung rupanya sudah lupa dengan masa lalu yang pahit sebelum 1990-an.

Orang-orang kampung, seperti yang saya tangkap dari obrolan-obrolan ringan, sudah lupa dengan long march, jalan kaki dari Atawatung/Mawa/Bungamuda ke Lewoleba pergi-pulang selama berjam-jam hingga malam menjelang. Orang lupa bahwa dulu yang namanya jalan beraspal itu hanya bisa dilihat di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Orang-orang lupa bahwa dulu di musim hujan selalu ada yang namanya OTO TEBEMBA.

Oto tebemba adalah istilah khas untuk menyebut truk, yang dimodifikasi sebagai kendaraan pengangkut manusia, terjebak di jalan raya berlumpur. Kalau sudah tebemba, para penumpang pun turun dan ramai-ramai jalan kaki. Bagi orang Ile Ape, dulu, jalan kaki 10 km, 15 km, bahkan 30 km adalah soal kecil. Jalan kaki sambil bicara ngalor-ngidul, tertawa, atau bersenandung. Tak ada komplain!

"Itu kan zaman dulu. Sekarang Ile Ape sudah lain, sudah maju," kata seorang remaja di Bungamuda.

ABG Ile Ape ini tak mau jalan kaki dari Bungamuda ke Mawa atau Atawatung. Dia tak pernah membayangkan orang Ile Ape berjalan kaki pergi-pulang dari Mawa ke Lewoleba dan sebaliknya. Yah, zamannya memang sudah jauh berbeda!

Sikap manja, bahkan malas, sudah terlihat di mana-mana di Lembata. Ketika sudah jadi kabupaten sendiri, punya bupati bernama ANDREAS DULI MANUK atau Pak Ande Manuk, masyarakat berharap terlalu banyak pada Pak Bupati.

Jalan rusak, bupati disalahkan. Aspal bolong-bolong, Pak Bupati dimaki-maki. Di internet, Kawan, begitu banyak tulisan yang mengecam Bupati Ande Manuk karena dianggap kurang memperhatikan kualitas jalan raya.

"Jalan raya di Lembata itu sudah rusak berat. Tidak usah jauh-jauh ke Ile Ape atau Hadakewa, di sekitar Pelabuhan Lewoleba saja kondisi jalan sudah tidak karuan. Tapi Bapak Bupati di Lewoleba tenang-tenang saja. Sudah menjabat 10 tahun, tapi hal-hal seperti ini kurang diperhatikan," kecam seorang aktivis yang sering bikin demonstrasi di Lewoleba.

Berapa banyak sih uang APBD Lembata untuk meng-cover perbaikan jalan raya?

Pendapatan yang masuk ke kas Pemkab Lembata berapa?

Benarkah Pak Bupati tidak tahu kondisi jalan-jalan raya di wilayahnya?

Saya kira, komunikasi antara pemkab, DPRD, LSM, gereja, dan masyarakat masih menjadi masalah besar di Kabupaten Lembata. Kecurigaan terhadap Pak Bupati dan pejabat-pejabat di Lembata terlalu besar.

Budaya lisan Lamaholot, yang suka bergunjing di sana-sini, menyebabkan distorsi informasi sangat menonjol di Lembata. Dapat informasi sepotong-potong, dikembangkan, dibumbui di sana-sini, kemudian disebarkan ke mana-mana. Dialog, konfirmasi, verifikasi... jarang dilakukan orang-orang Lembata, termasuk yang sudah tergolong pintar-pintar itu.

Setelah jadi kabupaten, rakyat Lembata mulai dihinggapi BUDAYA MALAS. Padahal, dulu, sekali lagi dengan referensi 1980-an, masyarakat bisa dengan mudah kerja bakti, gotong-royong, GEMOHING... bikin balai desa, perbaiki jalan raya, sekolah, kapela, atau rumah-rumah penduduk. Ramai-ramai mengadakan listrik desa meski dayanya terbatas.

Orang-orang dengan ikhlas kerja bakti, kerja sosial, tanpa mengharap imbalan apa pun. Semuanya demi gelekat Lewotanah! Demi kemajuan kampung halaman tercinta.

Begitu melihat jalan rusak, berlubang, masyarakat secara spontan mengambil pasir, kerikil, tanah... untuk menutup. Warga yang tinggal di depan jalan raya itu punya semacam "kewajiban moral" untuk menutup beberapa meter jalan raya yang rusak. Tapi, sayang sekali, ini semua cerita masa lalu. Nostalgia masa kecil saya di Ile Ape yang sederhana, terbelakang, tapi sangat guyub dan rukun.

Kini, zaman yang makin maju, modern, juga dinikmati masyarakat Ile Ape. Dan modernitas selalu diartikan dengan UANG, UANG, dan UANG. Kalau tidak dikasih uang, siapa yang mau membetulkan jalan-jalan rusak itu? Doi take ka, kame kerejan hala!

"Itu kan urusan pemkab, bupati. Kita orang kan sudah bayar pajak, mencoblos dia saat pilkada," kata orang kampung.

Hare gini kerja gak dibayar??? Mimpi kali!!!

4 comments:

  1. menarik banget catatan ini. di mana2 memang terjadi perubahan budaya dan tren, dimana generasi muda dan lama selalu ada kesenjangan...

    ReplyDelete
  2. tata, ijin re-post di facebook. biar tite ake salahkan pemerentah bain..hehehe..tulisan tata kita senang,,hama helon baca surat dari kampung

    sosinus- samarinda

    ReplyDelete
  3. Silakan Ama Sosinus...

    Saya kebetulan suka jalan kaki pagi hari di Surabaya dan senang menikmati nostalgia masa lalu di kampung. Saya melihat kemajuan yang luar biasa. Cuma memang harapan dan tuntutan rakyat Lembata, juga Adonara, terus meningkat dan meningkat. Orang inginnya standar kota-kota besar yang PAD-nya memang tinggi.

    ReplyDelete
  4. Bikin buku saja...utk dokumentasi perkembangan infrastruktur di daerah.

    ReplyDelete