12 January 2011

Gila Gelar di NTT



Hampir setiap hari saya membaca paling sedikit lima surat kabar terbitan Surabaya dan Jakarta. Kadang-kadang juga membaca koran berbahasa Inggris lewat internet. Jadi, boleh dikata, sebagai orang media, saya cukup tahu gaya penulisan masing-masing koran.

Jawa Pos kayak apa. Radar Surabaya macam apa. Kompas yang memelihara standar jurnalisme. Indopos yang mirip Jawa Pos. Surya. Memorandum. Surabaya Post. Kontan. Koran Tempo. The Jakarta Post. Saya juga berlanggan majalah mingguan TEMPO meskipun mahal.

Ketika berada di Nusa Tenggara Timur (NTT), saya mencoba memelototi beberapa surat kabar lokal. Wuih, wartawan-wartawan di NTT rupanya senang sekali menulis nama sumber lengkap dengan macam-macam gelarnya. Praktik yang sebetulnya tidak lazim dalam standar jurnalisme internasional.

Di Surabaya atau Jakarta, kita bebas menulis WALI KOTA SURABAYA TRI RISMAHARINI atau WAKIL WALI KOTA SURABAYA BAMBANG DH. Di bumi NTT yang selalu krisis pangan itu cara penulisan macam ini dianggap salah. Yang benar, menurut wartawan di NTT, harus IR. TRI RISMAHARINI, MSc. Atau, Drs. Bambang DH, MPd.

Kami di Jawa biasa menulis mantan ketua MPR Amien Rais. Di NTT, koran-koran menulis PROF. DR. H.M. AMIEN RAIS, MSi. Panjang banget. Gelar HAJI rupanya sangat penting ditulis meskipun masyarakat NTT mayoritas beragama Kristen (Katolik, Protestan, Pentakosta). Lupa menulis gelar HAJI bisa berbahaya di NTT.

“Mulai sekarang kalian tidak boleh memanggil nama saya seperti dulu. Saya sudah naik haji di Makkah. Makanya, mulai sekarang saya harus dipanggil PAK HAJI,” ujar Pak Haji di Ile Ape yang kebetulan masih kerabat dengan kami.

Saya ketawa-ketawa ketika mendengar cerita tentang Pak Haji marah-marah di kampung. Gilar gelar!!!!

Wartawan di Lembata pun sama saja. Meski sebagian besar dari mereka sudah pernah studi banding di Jawa, ikut sekolah demokrasi, punya jaringan dengan media utama di Jawa, paradigma “gila gelar” tak juga hilang. Bupati Andreas Manuk ditulis lengkap dengan gelarnya. Bukti bahwa Pak Bupati itu lulusan universitas, orang hebat.

Nama-nama anggota dewan ditulis lengkap dengan gelar akademiknya. Bahkan, nama terdakwa, tersangka, hingga pemborong pun ditulis gelar di depan dan belakang namanya. Padahal, sumber itu tidak sedang membahas masalah ilmiah yang menjadi otoritasnya.

Orang Jawa bilang NGGILANI. Karena nggilani itu pula, semangat saya membaca koran-koran di NTT jadi hilang. Orang-orang media yang seharusnya bisa menjadi agen perubahan malah ikut larut dalam kultur feodalisme ala NTT.

Bahkan, mantan-mantan wartawan yang kebetulan terpilih menjadi anggota dewan atau wakil bupati di Flores Timur ikut menikmati kultur feodalisme yang tidak sehat ini. Bangga bukan main dengan pajangan gelar akademik, haji, atau bangsawan (lokal) di depan namanya.

Apakah gelar itu berbanding lurus dengan kinerja pejabat-pejabat NTT? Hehehe... Nanti dulu.

Sampai sekarang NTT belum juga beranjak sebagai provinsi termiskin di Indonesia. Lembata dinilai sebagai kabupaten pemekaran yang gagal. Jalan raya di Lembata tergolong paling buruk di Indonesia. Protes rencana tambang mineral berlangsung berbulan-bulan. Skandal pembunuhan berencana yang melibatkan keluarga pejabat menjadi buah bibir sehari-hari di Lembata.

Felix Fernandez, bekas bupati di Larantuka, pun konyol. Dia harus berhadapan dengan aparat hukum karena korupsi. Budaya KKN justru makin disuburkan oleh pejabat-pejabat NTT yang menikmati kultur feodalisme yang gila-gilaan itu.

2 comments:

  1. seneng banget mas bisa baca artikelnya
    keinget waktu kecil di ileape(waowala)...
    thanks banget mas.......

    ReplyDelete
  2. LOL....ngakak banget ane, di NTT mah gitu. karna e karena Pekerjaan yang mnajnjikan menurut mereka itu PNS No.1.
    Mau kualiah dimana aja, di Universitas terbuka/ di Universitas lokal..yg penting titelnya bro..mau IP nya 1,5 / 2 g sampek. yng pentiing ada embel2nya..bangganya mintak ampun.jadi PNS/Karyawan BUMD yg dengan cara KELU "keluarga" "bahasa Bajawa Flores " yang pnting kerja... Pokoknya capek bro, ngomongin Flores NTT..dan di flores ini tempatnya/lumbungnya para KORUPTOR.

    ReplyDelete