12 January 2011

Gereja Stasi Mawa di Lembata





Orang Mawa di Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT, bisa punya gereja? Jangan mimpilah! Mustahil. Sampai kapan pun penduduk Mawa, Desa Napasabok, harus pergi ke Gereja Atawatung. Harus jalan kaki sekitar 1,5 kilometer pergi pulang.

Kebiasaan bergereja di Atawatung selama bertahun-tahun membuat orang Mawa masuk ke zona nyaman. Menikmati jalan kaki jarak jauh hanya untuk beribadah setiap minggu. Sejak agama Katolik dianut hampir semua orang Mawa, kampung halaman saya, orang merasa harus ke Atawatung.

Syukurlah, zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman ini sudah berhasil dibongkar. Belum lama ini, ketika liburan akhir tahun, saya sudah bisa menikmati perayaan ekaristi di Gereja Stasi Mawa. Misa yang dipimpin Romo Bernard ini sangat meriah. Gereja penuh. Umat dan paduan suara bernyanyi dengan penuh semangat.

Sebuah pemandangan yang tak pernah saya bayangkan ketika menghabiskan masa kecil di Mawa, desa di pinggir pantai utara Laut Flores. Dulu, ketika Mawa masih nunut Gereja Atawatung, orang Mawa rasanya tak punya kemampuan yang bagus di bidang liturgi. Jarang ada orang Mawa yang terpilih sebagai solis atau pemimpin kor.

Bahkan, saya hampir tak pernah melihat anak-anak Mawa jadi ajuda (di Jawa disebut misdinar) di Gereja Atawatung. “Sejak Mawa punya gereja sendiri, jadi stasi yang mandiri, pelan-pelan kita mulai meningkatkan kapasitas umat. Kita jangan sekadar bisa bikin gereja sendiri, tapi juga harus bisa menghidupi semua urusan kegerejaan,” kata Anton Hurek, ketua Stasi Mawa, kepada saya.

Anton Hurek saat itu didampingi teman SD saya, Lambertus Pitang Nimanuho, yang dipercaya sebagai bendahara Stasi Mawa. Para kader muda ini saya nilai sukses mengangkat Stasi Mawa sebagai salah satu stasi terkemuka di Paroki Tokojaeng. Stasi baru yang mendapat apresiasi positif dari Romo Blasius Keban, pastor paroki sekarang.

Wuih, saya ikut bangga mendengar cerita-cerita positif tentang jemaat Stasi Mawa yang terus berkembang. Mereka juga sering menang dalam lomba paduan suara antarstasi. Dan, yang paling saya sukai ini: umat Katolik di Mawa selalu on time kalau mengikuti perayaan ekaristi.

Misa jam enam pagi, ya, dimulai jam enam. Jam tujuh, ya, jam tujuh. Beda dengan stasi tetangga sebelahnya, stasinya bapak saya setelah pensiun, yang misanya selalu molor 40 menit, bahkan satu jam. Dua jempol untuk Stasi Mawa!

Kiprah Stasi Mawa ini, kalau dikilas balik, tidak diperoleh dengan mudah. Proses perintisan untuk memisahkan diri dari Stasi Atawatung boleh dikata berlangsung dengan penuh kendala. Pastor paroki saat itu, kalau tidak salah, Romo Dominikus Luro Kelen, tak berkenan. Baginya, seperti juga pikiran saya tempo dulu, Mawa harus tetap bergabung dengan Stasi Atawatung. Toh, orang Mawa selalu pergi ke Atawatung untuk mengambil air sumur.

Saking marahnya pihak hirarki, beberapa tokoh umat di Mawa diberi sanksi ekskomunikasi. Tak boleh terima komuni. Hukuman rohani yang bagi orang Flores merupakan sanksi sangat berat. Ada orang Mawa yang dipermalukan di depan ratusan umat ketika akan menerima komuni. Sang pastor tidak mau membagikan hostia kudus itu.

“Yah, itu semua merupakan bagian dari perjuangan kami untuk menjadi stasi yang mandiri. Kalau punya stasi sendiri kan umat bisa ikut misa di dalam kampung sendiri. Kenapa harus jauh-jauh ke desa lain hanya untuk misa?” kata Philipus Pedaman Hurek, mantan kepala desa Mawa, kepada saya.

Saat ini Ama Philipus, yang juga tukang terkemuka, dipercaya menjadi koordiantor perluasan Gereja Stasi Mawa. Ama Philipus sangat bersemangat ketika berbicara tentang masa-masa perjuangan menjadikan Mawa Napasabok sebagai stasi mandiri. Dia bersama Ama Anton Jago sampai harus menghadap langsung Uskup Larantuka Mgr Darius Nggawa SVD untuk menceritakan secara langsung rencana-rencana dan konsep orang Mawa sebagai persekutuan umat Allah yang bertekad menegakkan gereja Katolik di kampung.

Mgr Darius Nggawa (sekarang almarhum) tentu saja tak bisa meluluskan begitu saja keinginan orang Mawa. Beliau harus mendengar dulu laporan Romo Dominkus Luro, Pastor Paroki Ile Ape. Kuncinya ya di pastor paroki. Sementara sang pastor paroki, kita tahu, sejak awal tidak ingin ada stasi baru di Mawa.

Puji Tuhan, berkat kegigihan dan kerja keras warga desa, pemerintah desa, guru-guru SD yang sejak dulu menjadi ujung tombak pewartaan sabda Tuhan... akhirnya Stasi Mawa pun berdiri. Romo Paskalis Hurek, pastor asli Mawa, kalau pulang kampung berkenan memimpin perayaan ekaristi di Mawa.

Oh, ternyata misa di Gereja Mawa pun boleh! Oh, ternyata misa kudus itu tidak harus dilakukan di Gereja Atawatung! Oh, ternyata Tuhan Allah juga ada di Mawa dan berkenan menerima doa-doa dari penduduk Mawa yang sederhana. Jadi, Tuhan dengan kuasa roh kudus-Nya tidak hanya menerima doa-doa orang Atawatung, Ebak, Lewotolok, Ohe, Waipukang, Riangbao, Baopukang, Tokojaeng, Kimakamak, Tagawiti, Lamahora, Lewoleba, Hadakewa, atau Larantuka.

Tempo dulu, ketika saya masih SD di Mawa, ada semacam guyonan bahwa berkat dan kasih Tuhan tidak sampai ke Mawa. Buktinya, orang Mawa tidak pernah mendapat air sumur yang layak konsumsi. Sumur yang dianggap baik, ya, di Atawatung. Maka, kalau mau bikin misa atau ibadat sabda tanpa imam, ya, harus jalan kaki pergi-pulang ke Atawatung. Hehehe....

Minggu pagi, 2 Januari 2010. Setelah misa kudus yang meriah, Anton Hurek, ketua stasi yang juga kepala sebuah SMP swasta di Lewotolok, mengumumkan rencana perluasan gereja stasi. Sederhana saja, tidak muluk-muluk. Masing-masing keluarga diminta menyumbang uang Rp 50.000. juga menyumbangkan pasir dan batu kali.

“Satu umat cukup mengumpulkan 10 batu,” kata Anton Hurek yang saya lihat sangat berwibawa. Ratusan umat pun menyimak pengumuman ini dengan antusias.

Kepala Desa Mawa, Ama Kristo Kerua, mendukung sepenuhnya rencana pembangunan Gereja Stasi Mawa yang memang belum selesai itu. Saya merasa tersanjung ketika Ama Kristo, bapak kepala desa Mawa, memeluk saya erat-erat di halaman gereja. Tak terasa air mata saya menetes melihat orang-orang Mawa yang sangat saya kenal yang tak pernah saya jumpai selama bertahun-tahun.

Sebuah keakraban, persahabatan, kekeluargaan... yang sangat sulit kita jumpai di negeri orang! Salam dan doa saya untuk ina, ama, kaka, ari, binek, opulake, ana opo... dan semua penduduk Mawa!

Semoga perjuangan kalian mendapat berkat dari Tuhan!

2 comments:

  1. Di Jkt beredar permintaan sumbangan utk pembangunan gereja Sta Maria perantara stasi atawung,Kec Ile Ape-kab lembata-NTT, apakah gereja ini sama dengan gereja Stasi Mawa ? thanks Pak Lambertus, salam,

    ReplyDelete
  2. Beda. Gereja Atawatung dekat dengan Gereja Stasi Mawa, hanya selisih sekitar 1,5 kilometer saja. Kondisi Gereja Maria Perantara Atawatung waktu saya pulang Desember 2010 sudah bagus banget untuk ukuran Lembata atau Flores.

    Gereja Mawa yang masih belum bagus. Begitu juga gereja-gereja lain di Lembata umumnya masih jelek. Biasanya, perantau2 di Jawa suka minta sumbangan untuk gerejanya masing-masing, gak peduli gereja di kampung lain lebih buruk kondisinya.

    Gereja Atawatung bisa dilihat di blog saya ini:

    http://hurek.blogspot.com/2011/03/atawatung-kampung-eksotik.html

    ReplyDelete