21 January 2011

Gereja Lewotolok dan Jam Karet



Sebelum dipecah menjadi dua kecamatan dan dua paroki, 15 desa di Kecamatan Ile Ape bergabung dalam satu paroki. Paroki Ile Ape. Ada juga yang bilang Paroki Gunung Api. Di hampir semua desa, kecuali Desa Napasabok (Mawa), terdapat gereja-gereja stasi. Stasi-stasi itulah yang membentuk paroki.

Maka, pastor paroki dan pastor pembantu harus turne dari kampung ke kampung keliling gunung. Kemudian rapat dekenat di Lewoleba, dipanggil ke Keuskupan Larantuka, atau melakukan reksa pastoral lainnya. Berat nian tugas para pastor di pedalaman Flores Timur, khususnya sebelum tahun 2000.

Konsep paroki berikut stasi macam ini sangat berbeda dengan di Jawa, yang umat Katoliknya hanya segelintir. Umat Katolik di kota-kota di Jawa Timur, misalnya, rata-rata kurang dari 1 persen. Maka, gereja-gereja paroki di Jawa Timur umumnya lebih kecil ukurannya daripada gereja-gereja stasi di Lembata atau Flores pada umumnya.

Di Ile Ape, Kabupaten Lembata, ini sejak dulu ada dua stasi yang menonjol, yakni Waipukang dan Stasi Lewotolok. Pastor Petrus Maria Geurtz SVD dan Pastor Willem van der Leur SVD, keduanya sudah almarhum, biasanya suka menginap di dua stasi ini. Kondisi Gereja Lewotolok dan Waipukang pun lebih bagus ketimbang gereja-gereja lain.

Sekali lagi, itu dulu... 20-an tahun lalu. Sekarang Gereja Stasi Atawatung di Desa Lamagute jauh lebih cantik luar dalam ketimbang gereja-gereja lain di Ile Ape, bahkan seluruh Lembata. Gereja Stasi Ebak, yang dulu mungil dan bundar, sekarang pun terlihat megah meskipun belum diplester.

Kalau ada perayaan Natal dan Paskah, ribuan umat dari 15 desa berkumpul di suatu tempat. Pekan Suci, bagi saya sebagai bocah SD, sangat menyenangkan. Kita bisa ikut ritual tahunan yang benar-benar meriah meskipun penuh kesederhaan ala jemaat pedesaan.

Gereja Lewotolok saat ini menjadi tempat ibadah untuk umat Katolik dari tiga desa. Yakni, Desa Lewotolok sendiri, kemudian Desa Lamawara dan Desa Bungamuda alias Nobolekan. Zaman saya kecil dulu Lamawara dan Nobolekan ini sama-sama satu desa: Desa Bungamuda.

Beberapa bulan lalu, begitu kata orang-orang kampung, Gereja Lewotolok jadi tuan rumah tahbisan dua pastor baru. Pejabat-pejabat penting NTT, Flores Timur, dan Lembata ikut hadir. Ramai sekali. Orang-orang kampung senang sekali dengan kemeriahan ini.

Saat berlibur di kampung, belum lama ini, saya berkesempatan ikut misa di Gereja Lewotolok. Gereja di dekat pantai dan dekat lapangan bola ini terlihat megah dan lapang. Paroki Ile Ape sudah terpecah dua, sehingga Lewotolok ikut Paroki Tokojaeng, bukan lagi Waipukang. Pastor parokinya Romo Blasius Keban. Romo asal Solor ini lancar sekali berbahasa Lamaholot versi Ile Ape, sehingga khotbahnya pun diselingi bahasa daerah.

Sayang, ketika saya ikut misa itu, gairah umat mengikuti perayaan ekaristi tidak sehebat zaman saya kecil dulu. Disiplin waktu benar-benar hampa. Bayangkan, misa yang seharusnya dimulai pukul 07.00 molor hingga 07.40. Telat hampir satu jam. Di gereja-gereja di Jawa Timur, umat tak pernah kenal yang namanya jam karet. Misa selalu on time. Setengah jam sebelum misa dimulai, gereja-gereja sudah hampir terisi semua.

Romo Blasius pun terpaksa mengalah, mengikuti kemalasan umat Katolik di Lewotolok yang sangat sulit diajak untuk disiplin.

Menurut cerita beberapa umat, Romo Blasius sering ngambek, bahkan patah arang melihat sikap umatnya yang loyo dan aras-arasan. Dia pernah memaksakan diri untuk memulai misa sesuai dengan jadwal meskipun umat yang hadir baru beberapa gelintir orang. Asumsinya, ini jadi semacam terapi kejut bagi umat. Ke depan, diharapkan umat Stasi Lewotolok bisa lebih tertib dan disiplin.

Rupanya, shock therapy ala Romo Blasius ini tidak mempan. Umat Stasi Lewotolok malah tenang-tenang saja. Menganggap terapi kejut ini sebagai lelucon biasa. “Namanya romo, ya, harus sabar. Umat itu kan punya banyak kesibukan di rumah,” kata seorang umat, 30-an tahun, asal Lewotolok.

Wah, wah, wah....

No comments:

Post a Comment