17 January 2011

Djaja Laksana - The Joy of Giving



Selama ini DJAJA LAKSANA (58 tahun) lebih dikenal masyarakat Surabaya dan sekitarnya sebagai insinyur lulusan ITS Surabaya yang getol ‘mempromosikan’ Bendungan Bernoulli temuannya. Rekayasa bendungan dengan prinsip mekanika fluida ini dia yakini bakal mampu menutup semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, yang sudah berlangsung selama empat tahun.

Oleh LAMBERTUS HUREK
Dimuat Radar Surabaya edisi 26 Desember 2010

DJAJA Laksana tak hanya omong doang. Bersama Tim ITS, Djaja berhasil menutup semburan-semburan kecil di kawasan bencana lumpur Lapindo. Namun, di kalangan tetangga dan masyarakat di kawasan Pucang, Surabaya, ayah dua anak ini lebih dikenal sebagai seorang filantropis. Seorang pengusaha yang mau berbagi dengan sesama.

Dan, Djaja Laksana, tak hanya berbagai secara sporadis, sekali-sekali, tapi konsisten, dengan skala yang terus meluas. Djaja Laksana menikmati apa yang disebut dengan The Joy of Giving. Kegembiraan, kebahagiaan, karena selalu memberi dan memberi.

Nah, menjelang Natal 2010 lalu, saya menemui Djaja Laksana untuk berbagi cerita tentang makna Natal, kepedulian terhadap sesama, hingga laku filantropisnya selama ini. Berikut petikannya:

Sebagai umat Katolik dan pengusaha sukses, bagaimana Anda menghayati makna Natal?

Sederhana saja. Natal itu berarti kita harus lebih peduli pada sesama. Membagikan kasih Tuhan kepada orang lain, khususnya orang-orang di sekitar kita. Tentu saja, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dan berbagai kasih kepada sesama itu, ya, kita tidak boleh melihat agama, suku, ras, asal-usul seseorang. Sebab, kasih itu memang universal.

Sejak kapan Anda menggelar pembagian sembako untuk warga kurang mampu di sekitar rumah Anda?

Kira-kira sejak tahun 1983. Waktu itu saya merasa bahwa usaha saya mulai maju, berkembang. Saya pun tergerak untuk membagian sebagian rezeki untuk sesama. Sebab, saya tahu banyak warga kita yang belum beruntung. Mau cari makan saja susah setengah mati. Mau makan hari ini pun belum tentu ada makanan di rumah.

Berapa orang yang mula-mula Anda bantu?

Saya mulai berbagi dengan 10 orang saja. Usaha saya kan masih kecil waktu itu. Kemudian tambah jadi 15 orang, 20 orang... tambah, tambah terus. Dari tahun ke tahun selalu ada peningkatan.

Jadi, dengan berbagi justru usaha Anda makin maju?

Betul. Dari tahun ke tahun, sejak 1983 itu, saya terus menyisihkan dana untuk dibagikan kepada warga kurang mampu. Yah, sampai sekarang. Menjelang Natal, saya juga bikin bakti sosial kecil-kecilan di depan rumah ini.

Sejak dulu Anda memberikan jatah bulanan untuk warga kurang mampu?

Kalau yang bulanan baru sekitar lima tahun lalu. Setelah berjalan selama 10 tahun lebih, saya berpikir, orang-orang ini kan harus makan setiap hari. Sementara kita tahu kalau sebagian saudara-saudari kita tidak punya kemampuan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari yang paling dasar sekalipun. Lha, kalau bantuan diberikan cuma setahun sekali atau setahun tiga kali, wah.. jauh sekali. Mereka kan perlu makan tiap hari untuk hidup.

Berapa orang yang Anda berikan jatah bulanan?

Sekitar 140 orang. Saya saring betul, cek langsung ke lapangan, agar bantuan ini benar-benar tepat sasaran. Kenapa? Karena waktu pembagian sembako menjelang Lebaran lalu itu, sekitar 1.250 orang, datang juga orang yang gak karu-karuan. Nah, yang 140 orang ini saya kasih jatah hidup setiap bulan berupa beras 10 kilogram dan uang Rp 50.000. Yah, lumayanlah untuk makan sehari-hari daripada perut mereka kosong terus.

Warga dari kawasan mana saja yang Anda santuni setiap bulan?

Dari dekat-dekat sini saja. Pucang, Manyar Sambongan, Menur, Pumpungan, hingga Pandegiling. Kita cek betul dan para penerima itu masing-masing dikasih kartu. Tiap bulan mereka datang ke sini untuk mengambil jatahnya dengan menunjukkan kartu itu.

Ini pertanyaan klasik. Mengapa Anda tidak menyalurkan bantuan itu melalui lembaga-lembaga atau yayasan sosial, tapi langsung ke tangan penerima?

Begini. Dengan memberi langsung itu kebahagiaan batin lebih terasa. Lebih nikmat. Dibandingkan dengan menyalurkan lewat yayasan, wah, rasanya beda sekali. Dengan memberi langsung, silaturahminya lebih mengena. Saya jadi kenal bapak-bapak, ibu-ibu, bisa berbicara langsung dengan mereka. Saya juga bisa silaturahmi setiap saat ke tempat tinggal mereka. Saya jadi tahu kondisi keluarga dan kehidupan mereka sesungguhnya.

Menjelang Lebaran lalu, Anda membagikan paket sembako kepada sekitar 1.250 orang. Tidak khawatir warga berdesak-desakkan dan terjadi ekses buruk?

No problem. Saya sudah melakukan selama bertahun-tahun dan ternyata tidak ada masalah. Saya punya pengalaman sehingga tahu betul kiat-kiatnya. Prinsipnya, pria, wanita, anak-anak harus dipisah. Orang tua dengan yang masih muda juga jangan dicampur. Ibu-ibu yang membawa anak juga harus mendapat perhatian khusus.

Dan jangan terpaku pada jam. Biarpun jadwal pembagian jam 13.00, ketika warga sudah berjubel sejak jam 10.00, ya, harus cepat-cepat dibagi. Saya sudah melakukan ini selama 25 tahun, dan ternyata tidak ada masalah. Kita juga perlu koordinasi dengan kepolisian. (*)



Tentang DJAJA LAKSANA

Nama : Ir Djaja Laksana
Lahir: Singaraja, Bali, 15 Juli 1952
Istri: Maya
Anak: Renny Djaja Putri dan Rendra Djaja Putra

Hobi: Tenis, golf, fitness
Pekerjaan: Kontraktor, desainer mesin
Alamat: Pucang Jajar Tengah 55 Surabaya
E-mail: djajalaksana@yahoo.com

Pendidikan:
-SMAN Singaraja
-Fakultas Teknik Mesin ITS Surabaya

Temuan: Bendungan Bernoulli Setempat untuk Stop Semburan Lumpur (nomor paten P.00200700135)

1 comment:

  1. Dari perbuatan-perbuatan Bapak DJAJA LAKSANA kita bisa melihat imannya.

    ReplyDelete