30 January 2011

Damianus Wera Promotor Tinju



Selama bertahun-tahun masyarakat Surabaya dan sekitarnya lebih mengenal Damianus Wera (51) sebagai tabib pengobatan alternatif. Namun, beberapa tahun belakangan ini Om Dami, sapaan akrab pria kelahiran Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), ini aktif mempromotori pertandingan tinju profesional. Pemilik Sasana Rokatenda Sidoarjo ini pun diganjar penghargaan dari World Boxing Organization (WBO).



Berikut petikan percakapan Radar Surabaya dengan Damianus Wera di sela-sela acara timbang badan menjelang pertarungan petinju Tommy Seran (Rokatenda, Indonesia) melawan Mating Kilakil (Filipina), Jumat (28/1/2011) siang. Damianus Wera didampingi perwakilan WBO, Antonio M. Comia.

Sejak kapan Anda tahu kalau akan mendapat penghargaan dari WBO?

Waduh, kalau soal itu saya malah tidak banyak tahu. Bahkan, saya tidak pernah berpikir bakal dikasih penghargaan oleh WBO mengingat saya masih tergolong promotor baru. Tapi beberapa waktu lalu saya memang mendengar ‘bocoran’ bakal ada penghargaan itu.

Apa pertimbangan WBO memberi penghargaan kepada Anda?

Wah, itu tentu yang tahu pihak WBO sendiri. Tapi mungkin saja karena saya sudah bisa menggelar enam pertandingan tinju internasional dalam satu tahun. Padahal, situasi pertinjuan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kurang kondusif. Pertimbangan lain mungkin terkait dengan perhatian saya terhadap dunia pendidikan, khususnya anak-anak dari keluarga tidak mampu.

Penghargaan WBO itu dalam bentuk apa?

Uang sebesar USD 3.500 (sekitar Rp 35 juta). Tapi uang itu tidak masuk ke kantong saya, melainkan harus dibagikan kepada anak-anak yang kurang mampu di bidang pendidikan. Pembagiannya tidak dalam bentuk tunai, tapi berupa peralatan sekolah. Saya langsung menyalurkan bantuan tersebut kepada 25 anak sekolah dari Surabaya dan sekitarnya di GOR Hayam Wuruk, Kodam V/Brawijaya, di sela-sela pertarungan tinju antara Tommy Seran melawan Mating dari Filipina.

Damianus Wera memang sudah lama getol melakukan bakti sosial di bidang pendidikan dan pengobatan massal. Meski putus sekolah sejak kelas satu SD, sehingga Damianus ini buta huruf, perhatiannya di bidang pendidikan, khususnya di Pulau Palue, NTT, kampung halamannya, sangat besar. Pada November 2002, misalnya, dia membagikan belasan ribu buku paket kepada sekolah-sekolah di Palue. Om Dami juga memberikan bantuan berupa satu unit genset (PLTD) berkekuatan 10 KW untuk Desa Uwa di Palue.

“Saya ingin ke depan ada putra-putri Bumi Rokatenda (sebutan Pulau Palue yang punya Gunung Rokatenda, Red) yang punya kualitas dan bisa memajukan kampung halamannya,” kata Damianus. Menurut ayah dua anak ini, angka putus sekolah atau drop out di Palue sangat besar karena keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan. Jarak rumah dengan sekolah yang serba darurat itu pun sangat jauh.


Rupanya, pertandingan tinju Tommy Seran melawan Mating Kilakil hampir bersamaan dengan ulang tahun Anda?

Hehehe... Jadwalnya memang sengaja disesuaikan dengan berbagai pertimbangan, khususnya dari pihak WBO. Sebagai orang kampung, kami tidak punya kebiasaan merayakan ulang tahun. Tapi persis pada usia saya yang ke-51 ini tidak ada salahnya kalau ‘dirayakan’ dengan menggelar pertandingan tinju. Sebab, tinju memang olahraga yang paling saya gemari sejak masih muda. Tinju itu saya punya hobi. Ada sembilan partai yang dipertandingkan, dan partai utamanya Tommy Seran vs Mating Kilakil. Saya juga menyertakan ekshibisi untuk petinju perempuan biar lebih menghibur para pecinta olahraga tinju di Jawa Timur.

Lantas, kapan Anda mengorbitkan petinju-petinju kita ke jenjang internasional yang lebih bergengsi seperti kejuaraan dunia IBF, WBA, atau WBC?


Sasaran utamanya tentu saja ke sana. Tapi ini semua harus dilakukan dengan persiapan yang matang, tahap demi tahap. Jangan terlalu buru-buru diorbitkan, sementara si petinjunya sendiri belum siap. Saya juga tidak mau petinju-petinju kita hanya melawan petinju-petinju ayam sayur. Makanya, saya memilih petinju-petinju Filipina yang memang sangat keras dan bagus.

Apa motivasi Anda terjun ke dunia tinju profesional?

Saya hanya ingin membawa petinju-petinju kita berprestasi di ajang internasional. Bisa mengharumkan nama Indonesia. Saya tidak kejar uang, cari nama, popularitas, atau tujuan politik. Buat apa? Kalau mau kejar uang, jangan kejar di tinju. Hehehe.... (*)

BIODATA SINGKAT

Nama : Damianus Wera Vincentius
Lahir : Palue, Sikka, NTT, 27 Januari 1960
Ayah : Ware Ratu
Ibu : Maria Lanu
Istri : Selvia
Anak : Daniel Don Bosco Ware dan Veronika Lanu
Profesi : Tabib pengobatan alternatif, pemilik Sasana Rokatenda, dan promotor tinju
Alamat Praktik : Pondok Candra, Jalan Rambutan D 215 Sidoarjo
Pendidikan : Sekolah Dasar (SD) kelas 1.


Bikin Sasana karena Hobi

DILAHIRKAN di Gunung Rokatenda, Pulau Palue, NTT, yang gersang dan keras, Damianus Wera sejak dulu sangat menyukai tinju, olahraga keras. Ketika merantau ke Pontianak, Kalimatan Barat, pada 1980-an, Damianus pun berlatih di sebuah sasana setempat.

“Salah satu partai yang selalu saya kenang ketika tampil dalam partai tambahan perebutan juara dunia IBF Ellyas Pical. Saya kemudian menjadi akrab dengan Ellyas Pical,” kenang Damianus Wera.

Damianus kemudian menjadi salah satu petinju sparing partner sang juara dunia asal Saparua, Maluku,pada era 1980-an. Ternyata, pengalaman menekuni olahraga tinju meski tak punya prestasi fenomenal, terus membekas dalam hidup suami Selvia ini. Ketika modalnya sudah lumayan cukup dari hasil pengobatan alternatif, Damianus pun akhirnya membuka sebuah Sasana Rokatenda pada 2005.

Namanya Rokatenda diambil dari nama Gunung Rokatenda di kampung halaman Damianus. “Saya buka sasana ini karena hobi saja. Waktu itu belum terpikir bakal menghasilkan petinju-petinju level nasional, apalagi jadi promotor tinju segala,” ujarnya.

Salah satu tokoh tinju yang menjadi inspirasinya tak lain mendiang Hery Aseng Sugiarto. Sebelum meninggal dunia, promotor tinju terkenal memang memintanya mendirikan sebuah sasana tinju. Perlahan tapi pasti, Sasana Rokatenda yang bermarkas di Pondok Candra Sidoarjo ini kian melejit di kancah tinju nasional. Gun Tinular, Julio Basis, dan Tommy Seran kini menjadi juara nasional dna internasional.

“Saya bahagia ketika melihat petinju-petinju saya bisa naik ring, apalagi kalau menang. Itu kepuasaan yang luar biasa. Saya tidak pernah berpikir Sasana Rokatenda sebagai ajang bisnis. Faktanya saya justru nombok terus,” pungkasnya.

No comments:

Post a Comment