08 January 2011

Bak Air Hujan di Ile Ape



Ada yang berubah di Ile Ape, khususnya Desa Napasabok (Mawa), Bungamuda, Tokojaeng, Lamawara, atau Aulesa. Ini daerah pelosok di Pulau Lembata, NTT.

Dulu, tiap hari orang ramai-ramai jalan kaki untuk menimba air di sumur, yang letaknya sangat jauh dari rumah. Naik turun bukit sampai 10 kali sehari hanya untuk mendapatkan air yang tak seberapa banyak.

Kualitas air di Ile Ape pun, kita tahu, sejak dulu tak layak minum. Rasanya asin, kadar belerang tinggi. Korosif. Tak heran, orang-orang Ile Ape yang tinggal lama di tanah rantau biasanya kesulitan mengonsumsi air sumur khas Ile Ape.

Bidan Yuli, bidan senior, yang asli Mawa, pun ke mana-mana membawa bekal air minum dari Lewoleba setiap kali pulang kampung. “Wai titen pero-pero. Go suka hala,” kata bidan yang sekarang sakit keras di Lewoleba itu. [Air kita terlalu asin. Saya tidak suka.]

Ketika saya pulang kampung akhir Desember 2010, saya tak lagi melihat warga Mawa jalan kaki ke Atawatung. Sunyi senyap. Hanya saya sendiri yang jalan kaki untuk bernostalgia. Mengenang masa lalu saat jalan kaki di masa kecil. Perubahan di kampung memang luar biasa alias signifikan.

Mengapa sudah tak ada lagi orang yang berjalan jauh untuk menimba air sumur? Padahal, air ledeng alias PDAM belum sampai di Ile Ape. Jawabnya jelas: BAK. Di Napasabok, misalnya, semua rumah punya bak penampung air hujan. Pak Kristo, kepala desa, mewajibkan rakyat Mawa untuk bikin bak penampung air hujan. Bak harus jadi prioritas.

Warga yang dianggap kurang mampu diberi semacam subsidi untuk membuat bak penampung air hujan. Air hujan itulah yang dipakai untuk konsumsi baik minum, mandi, cuci pakaian. Bak-bak yang mulai mewabah sejak 10 tahun terakhir terbukti efektif untuk mengatasi krisis air yang sangat kronis di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, NTT.

“Keluarga kami sudah bertahun-tahun tidak pergi ke Atawatung untuk ambil air sumur. Sebab, bak di rumah saya sudah cukup untuk menyediakan air bagi keluarga kami,” kata Pak Philipus Hurek kepada saya.

Pak Philipus adalah mantan kepala desa Mawa yang juga tukang terkenal di kampung. Pada 1980-an, saat menjabat kepala desa, Pak Philipus bersama Kakek Bulet (almarhum) menjadi pelopor pembuat bak air hujan di Mawa. Bak yang dibuat Pak Philipus berukuran 6 x 3 x 3 meter.

Sayang, waktu itu, ketika saya masih tinggal di Mawa, belum banyak warga yang mengikuti teladan dua tokoh masyarakat ini. Orang masih menikmati acara jalan kaki ke Atawatung, sekitar 1,5 kilometer, untuk mengambil air di sumur Atawatung. Orang pun kurang yakin dengan kualitas air hujan untuk konsumsi.

Hari berganti, bulan berlalu. Perlahan-lahan terjadi semacam “revolusi kebudayaan” di Ile Ape, khususnya Desa Napasabok, yang memang sejak zaman baheula tidak punya air sumur layak minum. Perlahan-lahan orang bikin bak. Bak, bak, bak, bak.....

Lama-kelamaan di seluruh desa ada bak khusus untuk menampung air hujan. Dan, ketika saya mudik ke kampung, mata saya terbelalak menyaksikan perubahan drastis itu. Orang tak perlu jauh-jauh pergi mengambil air di Atawatung. Air hujan sudah disediakan oleh alam. Gratis!

Di musim hujan macam ini, tentu saja air melimpah ruah. Maka, banyak keluarga yang menambah bak penampung air. Eureka!!! Krisis air turun-temurun, dari generasi ke generasi itu, akhirnya teratasi.

Mungkin, yang perlu diperhatikan adalah menjaga kebersihan bak. Air hujan pertama tentu membawa banyak debu yang tidak sehat. Rumah-rumah di kampung pun hampir semuanya dari seng. Karatnya banyak. Atap alang-alang pun membawa banyak kotoran ke bak itu.

Karena itu, masyarakat perlu menyaring betul air hujan sebelum masuk ke dalam bak. Bak harus dibersihkan secara berkala. Tidak dibiarkan begitu saja hingga berbulan-bulan karena mikroorganisme akan berkembang biak dengan subur.

Berkat bak hujan, saya lihat sudah mulai banyak rumah yang didirikan di bukit-bukit yang terpencil dari perkampungan utama. Lokasinya sangat jauh dari Atawatung, misalnya di Eler dan Tobipuken.

2 comments: