04 January 2011

Aku Pulang Kampung



NAMANG atau tempat main anak-anak di Mawa, Ile Ape, Lembata, NTT. Sederhana, tapi bikin kangen. Namang juga menjadi tempat permainan OHA dan HAMANG, semacam tarian massal khas suku Lamaholot.


Bagi kawan-kawan yang tinggal di Jawa, apalagi satu provinsi, mudik atau pulang kampung bukan perkara sulit. Tiap minggu, bahkan tiap hari, bisa mudik. Banyak kawan asal Malang yang tetap tinggal di Malang, tapi kerja di Surabaya. Sudah pasti, pada saat Lebaran orang-orang Jawa mudik ramai-ramai. Mudik massal. Kembali ke kampung halaman masing-masing.

Orang Flores atau Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak bisa begitu. Saat Natal dan Tahun Baru kemarin, ketika saya mendapat kesempatan mudik di NTT, tepatnya di Ileape, Lembata, saya sama sekali tidak berjumpa orang-orang kami di Kupang yang berlibur ke kampung untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Padahal, acara akhir tahun di kampung selalu berkesan dan menyenangkan. Makanan berlimpah.

Kendala utama adalah transportasi. NTT itu provinsi kepulauan. Perlu 8-9 jam perjalanan laut dari Kupang ke Lembata di pelosok Flores Timur. Celakanya, tahun ini semua kapal penumpang antarpulau dilarang beroperasi karena ombak ganas. Maka, di NTT nyaris tak pernah ada istilah "mudik Natal" seperti mudik Lebaran di Jawa. Orang Flores, Lembata, Sumba, Alor... ya hanya bisa bernatalan ria di Kupang.

Puji Tuhan, kali ini saya diberi kesempatan untuk mudik di Lembata setelah bertahun-tahun tak kembali ke kampung halaman. Perjalana mudik yang asyik, menyenangkan, meski berbiaya sangat mahal. Tak ada feri, mau tak mau, harus naik pesawat mungil, SUSI AIR. Ongkosnya lebih mahal ketimbang Surabaya-Kupang atau Surabaya-Jakarta. Padahal, lama penerbangan hanya 40 menit.

Mau bilang apa lagi?

High cost travel memang sudah menjadi "takdir" yang harus diterima orang NTT di perantauan. Jauh lebih murah, juga lebih keren, terbang dengan AirAsia ke Kuala Lumpur atau Singapura daripada terbang dengan Susi Air, pesawat kecil berpenumpang maksimal 12 orang dari Bandara Kupang ke Bandara Lewoleba di Pulau Lembata.

Syukurlah, biaya mudik nan mahal ini impas dengan kehangatan dan keramahan orang-orang kampung. Begitu banyak orang menyapa, memeluk, menyalami, mengobrol... dengan saya. Mereka seakan berlomba mengundang saya untuk mampir, ngopi, makan, di rumah.

Sebuah kehangatan yang tak mungkin aku alami jika memilih berlibur di kota-kota supermodern macam Singapura, Kuala Lumpur, atau Hongkong, misalnya. Jangankan saya yang orang biasa, pejabat-pejabat tinggi selevel bupati, ketua parlemen, bahkan menteri pun tak akan direken ketika berada di Singapura atau Malaysia. Di kota-kota internasional, kita hanyalah riak-riak kecil di tengah lautan manusia di plaza, mal, restoran.

Di pelosok Lembata, kampung halaman saya, yang baru 10 tahun lebih menikmati layanan listrik PLN 24 jam, itu pun sering padam, saya merasa tersanjung. Merasa diperhitungkan. Diterima, diajak bicara dua kepala desa sekaligus, Pak Anus Gawi (Kepala Desa Bungamuda) dan Pak Kristo (Kepala Desa Mawa), di Kecamatan Ileape. Sebuah pengalaman yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Terlalu lama di tanah Jawa, dan nyaris tak pernah pulang ke kampung, selain hanya berlibur sebentar di Kupang, ibukota NTT, membuat saya sempat kehilangan orientasi. Begitu banyak yang berubah di Lewotanah, kampung halaman. Saya seperti menjadi orang asing di tanah kelahiran sendiri.

Pohon ketapang di depan rumah sudah tak ada. Rumah Mator, teman saya, sudah ambruk. Jalan yang dulu berdebu, sederhana, sudah beraspal. Mama-mama yang jalan kaki sambil TUE LELU (memintal kapas dengan alat tradisional yang sangat sederhana) tidak ada lagi. Muda-mudi yang dulu kumus-kumus, ndeso, sekarang gaul abissss.... Petentang-petenteng bawa HP ke mana-mana.

Telepon seluler (HP) sudah lama menjadi "mainan" orang-orang kampung. Kita tak perlu lagi jalan kaki atau naik sepeda ontel sejauh 25 kilometer untuk menonton pertandingan sepak bola timnas Indonesia. Sebab, televisi sudah ada di rumah-rumah meski harus dibantu antena parabola.

Sayang, saya hanya bisa bertemu muka dengan tiga sahabat semasa SD dari total 18 murid di SDK Yonas Mawa. Mereka adalah Lambert Pitang Nimanuho, Rosa Kerua, dan Bernadete Hurek. Tiga teman SD sudah meninggal dunia: Ben Nimanuho, Laurens Tura, dan Theresia Nasa. Di mana 12 sahabat lama semasa SD yang lain? Saya pun kurang jelas.

Esi, sapaan Theresia Nasa, tempo dulu tergolong murid paling cantik di kampung saya. Ah, sahabat, mengapa engkau mati muda, di usia 20-an tahun?

"Esi meninggal di Manggarai secara tidak wajar," kata Deram, salah satu keluarganya. Saya hanya bisa tertunduk, diam, dan berdoa dalam hari.

Yah, begitu banyak perubahan yang terjadi di Lembata.

Dulu, saya tak pernah membayangkan ada pesawat komersial yang beroperasi setiap hari. Kini, Susi Air punya jadwal tetap dua kali sehari, kecuali Minggu. Ada juga pesawat kecil milik Merpati Nusantara Airlines. Sebelumnya, TransNusa berjasa besar membuka isolasi di pelosok NTT.

Tapi bagaimanapun juga kemajuan selalu membawa sisi gelap. Kalau dulu setiap hari kita mendengar lonceng angelus berbunyi tiga kali sehari, kemudian orang kampung ramai-ramai berdoa Maria Diberi Kabar oleh Malaikat Tuhan, sekarang tidak ada lagi. Lonceng masih ada, kusam, tua, tapi orang tak lagi berdoa angelus secara bersama-sama macam dulu.

"Kita berdoa masing-masing saja. Orang kan punya kesadaran dan iman masing-masing. Kenapa harus dipaksa?" kata Mona, perempuan 30-an tahun yang sebetulnya ikut menikmati masa-masa "keudikan" kampung.

Tradisi doa bersama di dalam rumah tangga pun saya rasakan tidak sekuat dulu. Bahkan, sekarang ini saya lihat begitu banyak orang di kampung yang tidak merasa perlu ikut perayaan ekaristi setiap hari Minggu. Acara "jalan kaki" ke gereja rame-rame tiap Minggu mulai luntur.

Kalau dulu Pastor Geurtz SVD dan Pater Willem van der Leur SVD begitu dihormati, doa-doanya dianggap paling mustajab, sekarang romo-romo projo yang bertugas malah sering dirasani. Respek terhadap rohaniwan turun drastis.

"Romo itu enak, tidak punya anak. Kita kan tidak bisa dipaksa ke gereja karena harus urus anak, cari makan, kerja di kebun. Memangnya romo yang kasih kita orang makan?" gerutu seorang ayah dua anak dengan ketus.

Minta ampun deh! Kalimat-kalimat sarkastis, tajam, goblog... yang dulu tak pernah saya dengar itu meluncur begitu saja di mulut sejumlah orang kampung. Begitulah harga yang harus dibayar untuk sebuah perubahan dan modernisasi di Ile Ape.

4 comments:

  1. Abang Hurek..Met Natal dan tahun baru,,tite wahankae selalu dlm lindungan Tuhan dan Lewotanah.

    Iya memang betul e..susah tite mau balik lewo bulan desember karena urut dan angin sehingga gelombang tidak bersahabat..

    tapi abang mo si surabaya pasti pilih mala pesawat karena sklai transit ke kupang trus lembata. kame kalimantan timur baru merasa nyaman setelah kapal Pelni bisa langsung pia balikpapan ke lembata..si kapal bisa ketemu tite lewuk wahan kae balik hama,,sekali naik..
    go pernah dore pesawat ke surabaya- kupang- trus verry larantuka.. malah pusing..lodo gere hopanet..pesawat delay teik surabaya rema tou..sampe kupang di goyang ferry ke larantuka.. tapi itu nikmat nya tite orang yang teit si pulau-pulau..
    Bagaimana pun go merasa nyaman dengan PELNI..gere pia balikpapan ata puken wekika hala.. sampe di lembata di ata lodo gere puken wekika hala..daripada nolhon KM Pelni dari balikpapan trus ganti lagi kapal si makasar nginap ki,, baru ke maumere baru larantuka..?? bayangkan abang ribetnya tite si pelabuhan makasar dan maumere..otak titen pusin gohuk..moga2 pelabuhan rae lembata ra terus pertahankan pelayanan begitu..tite pasti puas..karena maumere noon larantuka ata atur bisa lo kae...

    maaf amane..komen belahan..walau tite helon orang asing si lewo..tradisi nolhon hampir gewete..tapi tite pasti merasa helon tabe cuci otak kalau balik lewo.damai dan bahagia...

    sosinus tadon aji-samarinda

    ReplyDelete
  2. Selamat Tahun baru Ari Berni.
    Semoga tahun baru ini akan lebih baik dari tahun kemarin.
    Terima kasih sudah cerita banyak tentang lewotanah, go sering balik lewo tapi selalu hanya ada di lewoleba, jadi jarang tau situasi di kampung. semoga kunjungan saya berikutnya bisa sampai kampung, Terima kasih lagi atas tulisannya di blog ini, saya akan terus baca. Salam homat
    Benhur- Jakarta.

    ReplyDelete
  3. Salam Natal dan Tahun Baru untuk Pak Sosinus. Semoga tetap semangat di rantau, diberkati Tuhan. Yah, begitulah lika-liku kita jadi perantau yang jauh dari kampung halaman. Ingin selalu pulang tapi terkendala biaya dan waktu. Belum sampai di kampung, masa cuti sudah habis. Ini yang bikin kita tidak selalu mudah melakukan mudik secara rutin seperti orang Jawa.

    Kak Ben Hur: Terima kasih banyak. Wah, ternyata catatan ringan saya dibaca dan diikuti Kak Ben. Waktu pulang kampung, saya sempat mampir ke Rayuan Kelapa bertemu Mama di rumah. Beliau sehat-sehat, main sama cucu. Waktu itu Ule tidak ada di rumah. Tapi saya senang melihat Mama yang tetap semangat, selalu ceria.

    Selamat Natal dan tahun baru untuk Kak Ben dan Kak Susan. Tetap semangat!

    ReplyDelete
  4. curahan hati anak perantau ya? sy mau ke lembata cari informasi penerbangan tapi kesandung link ini yg memberi saya inspirasi.
    salam sukses..
    gatot m

    ReplyDelete